Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah. Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...