Langkah Hilda terhenti pada sebuah rak koleksi buku Teknik Industri, ia mengambil sebuah buku lalu membukanya di halaman bagian tengah. Disodorkannya buku tersebut ke arah Angga, lelaki yang datang bersamanya ke toko buku ini. Hilda meminta Angga memperhatikan sebuah gambar. Keterangan dalam gambar itu menerangkan tiga prosedur produksi; input-proses-output.
“Lihatlah di bagian gambarnya, kamu dan aku sekarang berada di tahap
ini,” telunjuk Hilda mengarah pada sebuah tulisan “proses”.
Angga memandang Hilda dengan kening ditekuk. “Apa maksudmu, aku belum paham?”
“Aku tahu kamu orangnya pintar, Ngga.
Kamu ‘kan suka nulis puisi, hal-hal seperti ini aku
yakin kamu paham.” Sudah setahun Hilda mengenal Angga dan dia percaya bahwa Angga
orangnya jenius. Hanya saja, menurut penilaiannya, Angga selalu melihat sesuatu
dengan sikap pesimis. Cerita tentang Angga yang pesimis berbalik 180 derajat
setelah dekat dan menjalani hubungan bersama Hilda.
Angga berpikir sejenak, mencoba
menalar dan mengaitkan kejadian sebelumnya antara dia dan Hilda dengan kata “proses”
yang dimaksud.
“Jadi, maksud kamu, kita sekarang sedang dalam masa berproses, kita
pacaran?” tanya Angga meyakinkan.
“Nah, itu kamu ngerti.” Angga terdiam, speechless, menunggu
kelanjutan kata-kata dari Hilda yang membuatnya senang bercampur rasa tidak
percaya. “Kita jalani pacaran, tapi jangan sampai teman-teman di tempat latihan
tahu kita sedang pacaran.”
Di momen ini Angga semakin terdiam. Lah,
kok? Kenapa? Pikirnya.
“Aku mau kita punya nama panggilan
khusus. Nama panggilan sayang.” Hilda merenung, lalu
melanjutkan. “Aku Ucrit, kamu Ucrut.”
Entah dari mana ide itu datang dan memilih nama yang seumur hidup
baru didengar oleh Angga.
“Kok bisa kepikiran milih nama itu?
Dapat dari mana?”
“Tidak dari mana-mana, tiba-tiba
saja keluar dari mulutku. Tapi, menurutku itu lucu.”
“Jadi, kontak di hape kita dirubah
juga, jadi Ucrit?” menurut Angga nama itu tidak ada lucu-lucunya, sampai pada
sebuah momen, nama yang dipilih Hilda terus diingat Angga bahkan setelah
menikah.
“Nggak usah, pakai nama asli aja.” Hilda
berusaha agar tidak muncul kecurigaan dari teman-teman latihan.
Hilda meraih buku di tangan Angga
dan diletakkan kembali ke tempatnya. Awalnya Angga berpikir
Hilda mengajaknya ke mal ini untuk membeli buku. Beberapa jeda waktu kemudian dia
menyadari, Hilda memilih buku itu sebagai perantara untuk menjawab ungkapan yang
dia sampaikan dua hari yang lalu di tempat latihan, “Kamu mau nggak jadi pacar
aku?” Hilda tercengang, menatap Angga sebentar lalu mengalihkan pembicaraan ke
topik lain.
Semenjak ungkapannya diabaikan Hilda, Angga hanya bisa pasrah, tanpa
mau memaksakan diri mencari jawaban dari Hilda. Hari ini, setelah selesai
latihan, Hilda mendatangi Angga saat sedang minum kopi di bawah pohon di
halaman parkiran gedung KONI. Hilda memastikan tidak ada orang bersama Angga sebelum
ia mendekat dan berbisik, “Nanti kamu ikut aku ya, tapi tunggu yang lain pulang
dulu.”
“Ikut ke mana?” tanya Angga penasaran.
“Pokoknya ikut aja.”
Merasa hampir putus asa menunggu
kepastian, saat diajak Hilda ke sebuah mal, tidak ada dalam benak Angga bahwa
Hilda akan menanggapi ungkapan perasaan yang ia sampaikan di sela istirahat
latihan bersama teman-teman Pelatda DKI tempo hari.
Di mal ini, ratusan buku yang
berjejer rapi, lampu-lampu yang memantul di bawah lantai keramik putih menjadi
saksi. Jawaban yang disampaikan oleh Hilda melalui perantara sebuah buku, kata “proses”
menjadi sesuatu yang sakral mewakili perasaan dua anak manusia. Dua anak
manusia yang mencoba menjalin sebuah hubungan baru yang didasari oleh naluri dan
fitrah melanjutkan keturunan. Namun, kata “proses’ juga adalah kata yang
mewakili hubungan yang akan mereka jalani di hari-hari berikutnya sebagai
sebuah sandi yang menandakan sebuah hubungan tersembunyi, tersembunyi dari
teman-teman pelatda.
Hilda dan Angga berjalan menyusuri
lorong toko buku. Angga menahan langkahnya, melihat ke arah Hilda yang tidak
sadar telah menjauh darinya beberapa langkah. Hilda menoleh dan menghentikan
langkahnya.
“Aku mau tanya, emang kenapa kita
harus menyembunyikan hubungan kita dari teman-teman kita?”
Hilda menghampiri Angga. Dia memahami
perasaan Angga dan mulai menjelaskan, “aku pengen kegiatan latihan kita tidak
terganggu. Kamu tahu sendiri bagaimana hebohnya anak-anak jika tahu kita
pacaran. Masih ingat kan, pengalaman Putra dan Rani
yang menjalani pacaran backstreet?”
Hubungan Putra dan Rani yang dijalani tanpa persetujuan orang tua,
kandas. Bukan karena mereka backstreet, melainkan lebih disebabkan oleh kehebohan
teman-teman saat latihan yang selalu menggoda mereka dan membuat Putra dan Rani
sepakat memberi jeda pada hubungan mereka. Anehnya, meski berat saling
melepaskan, Putra dan Rani tidak lantas kecewa dan membenci teman-temannya,
justru setelah mereka “putus”, keakraban semakin kuat sesama teman latihan.
Angga dan Hilda berjalan menuju parkiran. Tidak banyak kata yang
mereka ungkapkan, suara bising kendaraan sepanjang jalan mencairkan sikap
canggung antara mereka.
Esok harinya, hari kedua Hilda dan
Angga resmi jadian. Di atas matras, Angga dan Hilda berdiri dalam barisan
bersama teman-teman Pelatda kempo. Mata Angga terus melirik ke arah Hilda,
namun Hilda tidak membalas menatapnya. Meski Hilda tahu Angga sedang
memperhatikannya, sengaja ia acuhkan untuk memenuhi kesepakatan yang mereka
buat di hari mereka jadian. Kesepakatan sepihak dari Hilda yang terpaksa Angga turuti.
Setiap kali Angga mencoba menghampiri, Hilda menjauh,
membuat jarak. Angga sedikit kecewa, namun ia menghargai keinginan Hilda untuk
menjaga rahasia, rahasia yang ia dekap dalam-dalam bersama hasrat yang dipendam.
“Sini, aku benarin do-nya.” Angga memanfaatkan kesempatan untuk mendekat ke Hilda saat body
protector Hilda terlihat kendor.
“Di tempat latihan jangan pakai aku-kamu, gue-loe aja,” Tegas Hilda dengan
suara yang dibisikan saat Angga memperbaiki ikatan do yang longgar.
Angga menarik tali do sedikit
keras dan memaksa.
“Awwhh...” Hilda kesakitan. “Pelan-pelan dong, Ngga.”
“Sorry.” Angga mencari perhatian
Hilda yang sejak tadi lebih banyak cuek.
Selesai
latihan, Hilda langsung pulang. Kali ini ia tidak nongkrong bersama yang lain
sampai larut malam seperti biasanya. Angga pun tidak ingin berlama-lama ikut
nongrong, ia merasa ada yang kurang saat Hilda tidak bersamanya di tempat
tongkrongan. Angga pamit kepada teman-teman yang masih lanjut duduk setelah
menyeruput habis kopi di gelas plastik.
“Buru-buru amat, loe Ngga,” Kilah Edo.
“Gue ditunggu abang gue di kosan,” Angga sengaja berbohong.
Sampai di kosan, Angga rebahan
sejenak, melepas penat setelah menempuh jarak Jakarta-Tangerang puluhan
kilometer.
Pukul 10 malam, saat hampir terlelap, handphone Angga
berdering. Panggilan
masuk dari Hilda. Seketika ia terbangun dan kembali semangat.
“Halo, sayang.” Angga tidak tahan untuk tersenyum.
“Sayang… sayang. Baru juga jadian sehari.” Hilda juga tersenyum.
“Tadi habis latihan, kok langsung pulang? Nggak nongkrong dulu
seperti biasa.” Angga bersandar
ke dinding kamar.
“Hmmmm. Aku malu.”
“Malu sama siapa, sama teman-teman? Kan belum ada yang tahu kita pacaran.”
“Aku malu sama kamu.” Jawaban jujur Hilda
membuat Angga di seberang telepon serasa melayang dan membiarkan badannya tersungkur
di atas matras tidur.
Hening.
Yang terdengar hanya detak jantung yang saling bersahutan dengan kecepatan
100 kali per menit.
“Kamu belum tidur?” Pertanyaan klise yang asal bunyi karena dilanda grogi akut.
“Belum. Aku belum bisa tidur, karena
belum dengar suara kamu.” Angga melancarkan gombalannya.
Hening, lagi.
Hilda mengemut microphone earphone-nya. Susah untuk tidak uring-uringan
mendengar rayuan dari lelaki yang baru ia terima cintanya.
“Oh, iya. Maaf kalau di tempat latihan aku nggak bisa menyapa kamu,
atau ngajak kamu ngobrol. Aku masih malu.” Hilda mengingat kejadian di
tempat latihan bersama Angga tadi sore.
“Iya, aku ngerti. Tapi, sampai kapan kita merahasiakan ini?”
“Sampai aku siap.” Suara Hilda pelan, seakan ada yang dirahasiakannya dari Angga.
Sejurus kemudian, melintas dalam kesadaran
Angga. Dia dan Hilda memiliki jarak yang terpaut jauh. Hilda
dari keturunan orang berada, yang kuliahnya di kampus swasta bergengsi,
sedangkan dia bermodal nekad dan keberuntungan bisa masuk di kampus Negeri yang
biaya kuliahnya mendapat subsidi dari pemerintah.
Pikiran Angga mengarah jauh ke depan. Khayalannya tertuju pada sebuah
momen di mana ia melamar Hilda, momen yang menentukan nilai mahar yang harus ia
sediakan untuk menyunting putri dari seorang keturunan Arab.
“Kamu yang sabar, ya. Aku ingin yang terbaik buat kita.” Bujuk Hilda
membuyarkan lamunan Angga.
Standar sebuah hubungan yang terbaik bagi setiap orang berbeda-beda.
Berusaha menyembunyikan sebuah rahasia, meski sangat rentan terbongkar karena
kedekatan dengan tim yang hampir sulit untuk setiap orang memiliki rahasia,
adalah standar yang ditetapkan Hilda yang sulit dipahami oleh Angga.
Tidak bisa membantah, Angga lagi-lagi
mengalah.
Empat puluh menit berlalu, rasa kantuk mulai
menyerang. Jam menunjukkan hampir pukul 11 malam, mereka harus menutup telepon.
Besok harus melanjutkan kuliah lagi.
“Ya sudah, kamu tidur ya. Kita bertemu
besok lagi di tempat latihan.” Angga berinisiatif menyudahi obrolan.
“Iya, kamu juga istrahat.”
“Kamu matiin hape-nya,”
“Kamu duluan.” Hilda bertahan.
“Kamu aja.”
“Nggak, kamu duluan.”
“Ya udah, kita hitung sampai tiga, hitungan ketiga kita sama-sama
matikan hape.” Angga memberi solusi.
“Okey.”
“Satu.. dua… tiga!”
Perasaan manusia yang dilanda kasmaran sungguh susah ditebak.
Setelah tiga hitungan untuk ketiga kalinya, belum ada yang menyudahi obrolan
sampai baterai handphone salah satu dari mereka kehabisan daya.
Komentar
Posting Komentar