Langsung ke konten utama

Fans Dunia Akhirat

Alisia Rininta
Salam'alaikum....

Hey...
Boleh curhat ya.. *Harusnya emang boleh, karena ini blog-ku sendiri :)
(Curahan hati ini fenomenal sekali, karena ini adalah sesuatu yang paling tersembunyi dalam ruang rahasiaku di pojok paling dalam kamar hatiku yang seharusnya tidak kubuka).

Tapi, layaknya gunung merapi, suatu saat pasti akan meletus juga (dan ini saatnya aku yang meletus).

Lihat ekspresi wajah itu, menurutmu apa yang sedang ia rasakan??
(Ekspresi ini yang selalu kupandangi tiap kali melihat wallpaper hp-ku).

Dan, maukah kamu tahu?? Tolong bilang, "Iya, mau". 
(Tanya lagi dong, mau tahu apa??)

Aku kagum pada wajah ini. Ekspresi melownya saat ia kebingungan memilih calon suami untuknya (ini salah satu adegan dalam sinetron Ustadz Fotocopy).

Ia cantik, murah hati, dan semoga benar ia sholehah (dalam kehidupan nyata). 

Bisa dikatakan, aku termasuk fans prianya yang punya niat menikah dengannya (ga salah dong, punya harapan. Namanya juga dunia, apa aja bisa. Asal cara yang ditempuh menurut sunnah dan hukum  sebenarnya yang telah Allah tentukan).

CUKUP ketawanya.. (Kalau kamu pria, aku mau tanya, kamu suka ga sama yang punya foto ini?? Jujur ya.. Tapi ga pake kacang ijo).

Hmmm.... 
Kalau sudah begini, mimpiku bisa kesampaian ga ya?? (Yah.. kamu harus bangun dan mengejar mimpi itu, kata temanku suatu waktu).

Seandainya Allah menghendaki ia menjadi jodoh terbaikku, aku pasti akan menjadi fans dunia akhirat buat dia :)

Satu cara yang paling ampuh untuk bisa mengenalnya adalah dengan cara masuk ke dalam dunianya, dunia keartisan. Hmmm... Tidak sulit jika ada kemauan. Kalau pun nanti tidak jadi artis benaran, setidaknya Indonesia (bahkan Asia) mengenalku lewat media televisi (yuk, aminkan bareng-bareng; A A M I I N ). 

Wassalam'alaikum...




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

Namaku Ucrit dan Kamu Ucrut

  Langkah Hilda terhenti pada sebuah rak koleksi buku Teknik Industri , ia mengambil sebuah buku lalu membukanya di halaman bagian tengah. Disodorkannya buku tersebut ke arah Angga, lelaki yang datang bersamanya ke toko buku ini. Hilda meminta Angga memperhatikan sebuah gambar. Keterangan dalam gambar itu menerangkan tiga prosedur produksi; input-proses-output . “Lihatlah di bagian gambarnya, kamu dan aku sekarang berada di tahap ini,” telunjuk Hilda mengarah pada sebuah tulisan “proses”. Angga memandang Hilda dengan kening ditekuk. “Apa maksudmu, aku belum paham?”   “Aku tahu kamu orangnya pintar, Ngga. Kamu ‘kan suka nulis puisi, hal-hal seperti ini aku yakin kamu paham.” Sudah setahun Hilda mengenal Angga dan dia percaya bahwa Angga orangnya jenius. Hanya saja, menurut penilaiannya, Angga selalu melihat sesuatu dengan sikap pesimis. Cerita tentang Angga yang pesimis berbalik 180 derajat setelah dekat dan menjalani hubungan bersama Hilda. Angga berpikir sejenak, menc...

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...