Langsung ke konten utama

KAMU HARUS LEBIH HEMAT Part I

Dikisahkan di sebuah desa di Negeri Yuwessei, hiduplah dua orang petani yang sama-sama ulet bekerja. Ketenaran mereka menjangkau hingga ke desa-desa tetangga. Oleh warga di desanya, mereka menjadi terkenal karena terdapat perbedaan yang menonjol diantara mereka. Meskipun sama-sama ulet dan rajin bekerja, dengan lahan yang sama-sama luasnya, meskipun waktu keberangkat dan waktu sampainya kembali ke rumah sama, namun perbandingan hasil pertanian keduanya sungguh sangat jauh berbeda. 

Adalah si Arnold memiliki ladang yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya, sedangkan ladang si Stalone terletak jauh ke tengah hutan. Selidik punya selidik, rasa penasaran warga selama ini pun terkuak. Berhasilnya Arnold dalam bercocok tanam ternyata lebih disebabkan oleh jarak tempuh menuju ladangnya tidak memakan waktu yang lama dibandingkan dengan Stalone. Nah, menyadari akan hal ini, Stalone bertekad akan memikirkan cara agar bisa melampaui si Arnold.  Melewati beberapa hari, selera tidurnya terganggu oleh kemandekan ide yang belum juga muncul.

Sampailah pada suatu sore, ketika Stalone sedang asyik nongkrong di beranda belakang rumahnya, terlintas sebuah ide. Untuk menyaingi Arnold, dia punya trik baru yaitu dengan cara bangun lebih awal dari kebiasaan sebelumnya dan keharusan memiliki kendaraan yang lebih cepat dari berjalan kaki. Malam ini, Stalone pun bisa tidur lebih awal dan tersenyum puas. 

Keesokan harinya, ia pun mulai menjalankan rencananya, pagi-pagi sekali, bahkan ayam jantan masih malas untuk berkokok, Stalon sudah berangkat ke ladangnya. Dengan kuda jantan belia yang masih kuat-kuatnya, ia berkendara ria sambil bersiul. Santai, katanya dalam hati. Waktu pun beranjak dari kelesuannya menuju momen terindah kala warga desa bersuka cita. Sampailah waktunya panen. Mendadak seluruh isi desa, termasuk ayam jantan tadi, tersentak kaget. Ada sebuah kemajuan baru yang telah diraih oleh Stalone setelah bertahun-tahun lamanya tertinggal dari Arnold. Karena rasa penasaran yang tinggi, pak Kades pun menanyakan perihal apa yang menjadikan Stalone mampu menyainigi si Arnold. Dengan bangga Stalone pun menceritakan semua rahasianya.The End!

Ada sebuah hikmah yang bisa dipetik dari kisah di atas. Ini tentang kita, bangsa Indonesia. Mengapa kita, bangsa tercinta Indonesia (terlepas dari bangsa-bangsa lain di Asia), selalu tertinggal dari bangsa-bangsa barat? Penjelasan ini terkait dengan penelitian saya selama beberapa tahun terakhir. Kamu akan tahu setelah kamu lanjut membaca di PART II tulisan ini :) See ya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Senja di Tepi Nil

  Wuuut... wuuu t ...   Nada g e t a r ponsel d i a t as meja kayu y a ng m u l ai l a puk i tu m en g usik l a m unanku. Di l uar, hu j an y a ng sej a k zu h ur t a di m eng e pung Jakar t a m u l a i m en a r ik d i ri, m en y isak a n ar o m a aspal basah d a n uap pan a s yang na i k da r i sel a -sela gang s e m p i t Karet T e ngsin. Aku m er a ih ben d a p i p i h itu dengan m alas. Sebuah p e san si n gkat m asuk, m em an c ark a n c a haya b i ru y ang k o n t ras deng a n remang ka m ar kosku.   “Selamat! Anda me n ang und i an BR I Ha d i a h B e runtun berupa saldo sebesar Rp20.000.000. B al a s pesan i n i un t uk k l a i m...”   Aku mend e ngus pelan sebe l um sempat m eny e l e sai k an b a c a an i t u. "Und i an d a ri Hongkong," ke t usku kesa l . Di z a m an di m ana har a pan se r i n g k a l i m en j adi b ar a ng dag a ngan, p e n i p u an sem a c a m i n i t er a sa s ep e rti e j e kan y ang ...