“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya. Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...
Kemarau masih tiga bulan lagi, cuaca siang ini sangat cerah. Angin sepoi yang membawa terbang sehelai daun nangka dan jatuh di tengah lapangan terasa lebih lembab dari sehari sebelumnya. Pukul 09:50, suasana lingkungan sekolah sepi, hanya ada dua orang siswa terlihat melintas di depan kelas menuju toilet. Dari balik jendela terpantau jelas guru-guru sedang menjelaskan materi, ada yang berpidato di depan siswa, ada yang berjalan berkeliling mengecek jalannya diskusi, beberapa guru terlihat membereskan berkas-berkas di atas meja. Teng. Teng. Teng. Pukul 09:55 bel berbunyi tanda jam istirahat dimulai. Anak-anak sangat antusias keluar dari ruang kelas menuju tempat-tempat favoritnya untuk melepaskan penatnya belajar selama empat jam pertama. Ada yang menuju kantin, ada yang mengantri di depan toilet, sebagian besar siswa laki-laki langsung menuju lapangan dan bermain bola setelah jam PJOK pak Yamin selesai. Semenjak Dompu diguyur hujan dari pagi hingga malam selama hampir sepekan, hasrat ...