Langsung ke konten utama

Postingan

Namaku Ucrit dan Kamu Ucrut

  Langkah Hilda terhenti pada sebuah rak koleksi buku Teknik Industri , ia mengambil sebuah buku lalu membukanya di halaman bagian tengah. Disodorkannya buku tersebut ke arah Angga, lelaki yang datang bersamanya ke toko buku ini. Hilda meminta Angga memperhatikan sebuah gambar. Keterangan dalam gambar itu menerangkan tiga prosedur produksi; input-proses-output . “Lihatlah di bagian gambarnya, kamu dan aku sekarang berada di tahap ini,” telunjuk Hilda mengarah pada sebuah tulisan “proses”. Angga memandang Hilda dengan kening ditekuk. “Apa maksudmu, aku belum paham?”   “Aku tahu kamu orangnya pintar, Ngga. Kamu ‘kan suka nulis puisi, hal-hal seperti ini aku yakin kamu paham.” Sudah setahun Hilda mengenal Angga dan dia percaya bahwa Angga orangnya jenius. Hanya saja, menurut penilaiannya, Angga selalu melihat sesuatu dengan sikap pesimis. Cerita tentang Angga yang pesimis berbalik 180 derajat setelah dekat dan menjalani hubungan bersama Hilda. Angga berpikir sejenak, menc...
Postingan terbaru

Selaksa Cerita: 5 Hari di Kota Mataram

Selesai berdzikir, aku mengambil tempat duduk dekat jendela mengarahkan pandangan ke sisi utara. Merasakan nuansa pagi angin laut yang tenang, setenang hati yang ridho. Perjalanan menuju Kota Mataram sudah separuh jalan. Selat antara Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, kami sekeluarga mengapung bersama ratusan penumpang dan puluhan mobil serta motor di atas kapal feri. Aku menoleh ke Timur, matahari mulai menampakkan diri dengan warna jingga menyala, warna yang sama dengan matahari senja. Pagi mulai menyapu hari. Kuraih handpone- ku, membuka aplikasi kamera lalu mengambil beberapa gambar dari balik jendela kaca, menangkap momen sebuah feri berdampingan dengan cahaya matahari yang estetik.   Dua jam sudah berlalu di atas laut, aku, istriku, dan tiga orang putriku, menaiki bus yang kami tumpangi yang diparkir di lantai bawah sebelum bus keluar dari feri. Cahaya matahari menembus jendela kaca bus, menyumbang sedikit rasa hangat melawan dinginnya AC bus yang membuat badan menggigil. Dari p...

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

15 Menit

Kemarau masih tiga bulan lagi, cuaca siang ini sangat cerah. Angin sepoi yang membawa terbang sehelai daun nangka dan jatuh di tengah lapangan terasa lebih lembab dari sehari sebelumnya. Pukul 09:50, suasana lingkungan sekolah sepi, hanya ada dua orang siswa terlihat melintas di depan kelas menuju toilet. Dari balik jendela terpantau jelas guru-guru sedang menjelaskan materi, ada yang berpidato di depan siswa, ada yang berjalan berkeliling mengecek jalannya diskusi, beberapa guru terlihat membereskan berkas-berkas di atas meja. Teng. Teng. Teng. Pukul 09:55 bel berbunyi tanda jam istirahat dimulai. Anak-anak sangat antusias keluar dari ruang kelas menuju tempat-tempat favoritnya untuk melepaskan penatnya belajar selama empat jam pertama. Ada yang menuju kantin, ada yang mengantri di depan toilet, sebagian besar siswa laki-laki langsung menuju lapangan dan bermain bola setelah jam PJOK pak Yamin selesai. Semenjak Dompu diguyur hujan dari pagi hingga malam selama hampir sepekan, hasrat ...

Senja di Tepi Nil

  Wuuut... wuuu t ...   Nada g e t a r ponsel d i a t as meja kayu y a ng m u l ai l a puk i tu m en g usik l a m unanku. Di l uar, hu j an y a ng sej a k zu h ur t a di m eng e pung Jakar t a m u l a i m en a r ik d i ri, m en y isak a n ar o m a aspal basah d a n uap pan a s yang na i k da r i sel a -sela gang s e m p i t Karet T e ngsin. Aku m er a ih ben d a p i p i h itu dengan m alas. Sebuah p e san si n gkat m asuk, m em an c ark a n c a haya b i ru y ang k o n t ras deng a n remang ka m ar kosku.   “Selamat! Anda me n ang und i an BR I Ha d i a h B e runtun berupa saldo sebesar Rp20.000.000. B al a s pesan i n i un t uk k l a i m...”   Aku mend e ngus pelan sebe l um sempat m eny e l e sai k an b a c a an i t u. "Und i an d a ri Hongkong," ke t usku kesa l . Di z a m an di m ana har a pan se r i n g k a l i m en j adi b ar a ng dag a ngan, p e n i p u an sem a c a m i n i t er a sa s ep e rti e j e kan y ang ...