Wuuut... wuuut...
Nada getar ponsel di atas
meja kayu yang mulai
lapuk itu mengusik lamunanku. Di luar, hujan yang sejak zuhur
tadi mengepung Jakarta mulai menarik diri,
menyisakan aroma aspal
basah dan uap panas
yang naik dari sela-sela
gang sempit Karet
Tengsin. Aku meraih benda
pipih itu dengan malas. Sebuah pesan
singkat masuk, memancarkan cahaya biru
yang kontras dengan remang
kamar kosku.
“Selamat! Anda menang undian
BRI Hadiah Beruntun berupa saldo sebesar
Rp20.000.000. Balas pesan
ini
untuk klaim...”
Aku mendengus pelan sebelum sempat menyelesaikan bacaan itu. "Undian dari
Hongkong," ketusku kesal. Di zaman
di mana harapan
sering
kali menjadi barang
dagangan, penipuan semacam ini terasa seperti ejekan
yang kasar bagi orang-orang seperti aku.
“Diamini saja,
Yom. Siapa tahu jadi benaran
nanti,” sahut Dafin
santai. Ia sedang asyik menandaskan gado-gado buatan
Mbak Sri Tegal favoritnya.
Bumbu
kacangnya yang kental
menyisakan noda di sudut bibir Dafin,
namun ia tampak tak
peduli.
Dafin adalah
penghuni tetap kamarku sejak
aku pertama kali mengadu nasib di rimba
Jakarta. Ia adalah jenis
sahabat yang langka; lucu, sedikit slebor, namun
memiliki kejujuran yang terkadang melampaui batas sopan santun.
“Sebenarnya
kamu itu ganteng,
Yom. Tapi... ya, banyak
tapinya,” candanya yang
langsung kusambut dengan lemparan bantal lusuh. Ia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding kamar kos lantai dua
yang penuh dengan tempelan kalender lama.
Kami berdua
bekerja di sebuah apartemen bintang
lima di jantung Jakarta
Pusat. Aku bertugas di lantai lima,
menjaga kejernihan air
kolam renang yang biru pirus, sementara Dafin berada di lobi, memastikan
kaca-kaca besar
di sana selalu bening
mengkilap.
Kami adalah
bagian dari pasukan
pembersih, orang-orang
yang
memastikan
kemewahan
tetap terlihat mewah, meski
kami sendiri hanya bisa mencicipinya
dari balik seragam
kerja.
Kisah tentang
Dafin sendiri sebenarnya cukup
unik untuk dijadikan
cerpen tersendiri. Nama
aslinya yang tertera di KTP
adalah Fitri Anna—nama yang sangat feminin untuk seorang lelaki tulen dengan
kumis tipis dan suara
bariton. Entah kesalahan apa yang terjadi di kantor catatan
sipil desanya dulu,
yang jelas ia memaksa
semua orang memanggilnya Dafin agar
terdengar lebih maskulin.
Setelah Dafin berangkat sif
sore, aku duduk sendirian di tepi ranjang.
Aku membuka sebuah buku kumpulan doa
dalam bahasa Arab.
Buku itu sudah mulai
menguning, aromanya membawa ingatanku terbang
jauh ke masa lalu,
melintasi ribuan
kilometer
menuju sebuah kenangan yang
tak pernah benar-benar
mati.
Di antara lembarannya,
ada sebuah nama yang
tertulis
dengan tinta biru yang
kini memudar: Masna.
*
Nama itu seperti mantra
yang mampu menghentikan waktu.
Jika
Jakarta adalah kebisingan
yang melelahkan,
maka
Masna adalah ketenangan senja di Sungai Nil— sebuah keindahan yang tak
pernah kulihat langsung dengan mataku,
namun selalu bisa
kubayangkan melalui setiap tutur katanya.
Dulu, kami adalah
dua jiwa
yang dipertemukan
oleh keinginan
untuk memahami cahaya. Masna adalah adik
tingkatku
di sebuah pesantren di Jawa
Timur.
Ia adalah gadis yang sederhana, namun memiliki kedalaman pikiran
yang sering kali membuatku merasa kerdil. Kami sering berbagi buku, bertukar
catatan
tentang filsafat dan
sastra, hingga tanpa sadar,
kami mulai bertukar detak jantung.
Aku ingat sore-sore yang kami habiskan di bawah
pohon beringin kampus—tempat
yang kami sebut "DPR" (Di Bawah Pohon Rindang). Di sana, Masna pernah bercerita tentang impiannya untuk melihat matahari terbenam di Mesir. "Kak, bayangkan senja di
Sungai Nil. Warnanya pasti tidak
sekadar jingga, tapi emas
yang menyatu dengan
sejarah," ucapnya
kala
itu dengan mata yang
berbinar.
Aku hanya bisa tersenyum,
berjanji di dalam hati bahwa
suatu saat nanti, aku akan
membawanya ke
sana. Namun, hidup bukanlah deret matematika yang hasilnya selalu pasti.
Setelah lulus, jalan kami bercabang. Aku terlempar ke
Jakarta untuk menyambung
hidup sebagai cleaning
service, sementara Masna menghilang ditelan
tanggung jawab keluarga dan perjodohan
yang tak bisa ia tolak.
Tahun-tahun di Jakarta adalah tahun-tahun melupakan.
Aku membenamkan diriku
dalam rutinitas menyapu
dedaunan kering di tepi kolam renang apartemen,
melihat
orang-orang kaya bercengkerama
tanpa beban, sembari mencoba
mengubur wajah Masna di dasar
kolam yang paling dalam. Kehidupan kembali datar,
menjadi rangkaian angka
dan jam kerja yang monoton.
Hingga suatu hari, kenangan
itu
menemukan jalannya
kembali melalui mulut Neni,
seorang teman lama yang kutemui di sebuah reuni kecil.
“Masna ada di
Jakarta,” ucap Neni singkat.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Jakarta yang
riuh seketika menjadi sunyi. Neni
memberitahuku
bahwa
Masna sedang berada di
Asrama Haji Pondok Gede, bersiap
untuk keberangkatan yang
panjang.
*
Aku menemuinya di sana, di
tengah kerumunan
orang-orang berbaju putih.
Awalnya,
aku hampir tidak mengenalinya.
Ia masih Masna yang
kukenal, namun ada sesuatu yang berbeda.
Ia tampak lebih tenang, lebih
dalam. Ada cahaya yang tidak pernah
kulihat sebelumnya—cahaya
dari seseorang yang telah melewati banyak badai dan akhirnya
memilih
untuk berdamai dengan
samudera.
“Kakak
apa kabar?” tanyanya
lembut.
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Aku takut jika
aku membuka mulut,
seluruh
rindu yang sudah kubungkus rapi selama
bertahun-tahun akan
meledak dan
mempermalukan
diriku sendiri. Kami berbincang
ringan tentang hal-hal yang tidak
penting; tentang cuaca Jakarta, tentang makanan asrama,
tentang kabar teman-teman lama.
Kami bicara seolah-olah
masa lalu adalah
sebuah buku yang sudah tamat dan diletakkan di rak
paling atas.
Tidak ada tuntutan penjelasan, tidak
ada
luka
yang perlu dibuka kembali. Hingga akhirnya,
ia berkata dengan suara
yang sangat tenang:
“Aku sudah dipinang, Kak.”
Dan anehnya,
aku tidak hancur. Tidak ada suara
retakan
di
dadaku. Aku hanya diam,
menatap ujung sepatuku yang sedikit kusam. Saat itu,
aku akhirnya mengerti sebuah
hakikat yang pahit namun
indah: bahwa tidak
semua yang indah
harus kita miliki. Ada
bunga yang lebih indah jika dibiarkan tumbuh di taman
orang lain, dan ada senja yang lebih bermakna jika hanya dipandang
dari kejauhan.
*
Malam ini, di kamar kos
Karet Tengsin
ini, aku menutup
buku doa itu perlahan.
Hujan benar-benar telah
berhenti. Suara
klakson
kendaraan di kejauhan
mulai
terdengar lagi,
menandakan kehidupan
kota yang tak pernah
tidur.
Masna kini tidak lagi
menjadi seseorang yang
harus kurindukan dengan rasa sakit. Ia telah menjadi bagian dari diriku, seperti sebuah bab dalam novel yang
memberikan warna pada
keseluruhan cerita.
Ia adalah senja di Sungai Nil-ku—sebuah keindahan
yang mungkin tak pernah kulihat secara langsung dengan raga, tapi selalu
bisa kubayangkan kehangatannya di setiap
doa-doa
malamku.
Di suatu tempat yang jauh,
mungkin di bawah langit yang
berbeda, aku ingin percaya
bahwa ia juga pernah mengenangku.
Sebentar saja. Seperti embun
yang hinggap di pucuk daun sebelum matahari menghapusnya.
Aku mematikan lampu
kamar. Dalam kegelapan,
aku tidak lagi merasa
sendirian. Sebab kenangan,
jika
kita
sudah berdamai dengannya, tidak akan lagi menjadi hantu
yang menakutkan, melainkan menjadi cahaya lilin yang menerangi jalan
kita menuju masa depan
yang lebih tenang.
Besok pagi, aku akan kembali ke lantai lima.
Aku akan kembali menyapu
tepian kolam renang itu. Namun kali ini, aku
akan melakukannya dengan
hati yang lebih lapang.
Karena aku tahu, di luar
sana, hidup terus mengalir
seperti sungai—dan seperti Sungai
Nil, ia akan selalu menemukan
jalan menuju
muaranya, membawa semua
sisa-sisa senja yang pernah kita
lalui bersama.
(Gubahan versi Daeng Muhary Wahyu Nurba dari cerita asli "Senja di Sungai Nil")