Hey, what's up??
Big day for you today, cause it's a present, bro'...


Senin, 11 Mei 2026

Senja di Tepi Nil

 Wuuut... wuuut...

 

Nada getar ponsel di atas meja kayu yang mulai lapuk itu mengusik lamunanku. Di luar, hujan yang sejak zuhur tadi mengepung Jakarta mulai menarik diri, menyisakan aroma aspal basah dan uap panas yang naik dari sela-sela gang sempit Karet Tengsin. Aku meraih benda pipih itu dengan malas. Sebuah pesan singkat masuk, memancarkan cahaya biru yang kontras dengan remang kamar kosku.

 

“Selamat! Anda menang undian BRI Hadiah Beruntun berupa saldo sebesar

Rp20.000.000. Balas pesan ini untuk klaim...”

 

Aku mendengus pelan sebelum sempat menyelesaikan bacaan itu. "Undian dari Hongkong," ketusku kesal. Di zaman di mana harapan sering kali menjadi barang dagangan, penipuan semacam ini terasa seperti ejekan yang kasar bagi orang-orang seperti aku.

 

“Diamini saja, Yom. Siapa tahu jadi benaran nanti,” sahut Dafin santai. Ia sedang asyik menandaskan gado-gado buatan Mbak Sri Tegal favoritnya. Bumbu kacangnya yang kental menyisakan noda di sudut bibir Dafin, namun ia tampak tak peduli.

 

Dafin adalah penghuni tetap kamarku sejak aku pertama kali mengadu nasib di rimba Jakarta. Ia adalah jenis sahabat yang langka; lucu, sedikit slebor, namun memiliki kejujuran yang terkadang melampaui batas sopan santun.

 

“Sebenarnya kamu itu ganteng, Yom. Tapi... ya, banyak tapinya,” candanya yang langsung kusambut dengan lemparan bantal lusuh. Ia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding kamar kos lantai dua yang penuh dengan tempelan kalender lama.

 

Kami berdua bekerja di sebuah apartemen bintang lima di jantung Jakarta Pusat. Aku bertugas di lantai lima, menjaga kejernihan air kolam renang yang biru pirus, sementara Dafin berada di lobi, memastikan kaca-kaca besar di sana selalu bening mengkilap.

Kami adalah bagian dari pasukan pembersih, orang-orang yang memastikan kemewahan tetap terlihat mewah, meski kami sendiri hanya bisa mencicipinya dari balik seragam kerja.

 

Kisah tentang Dafin sendiri sebenarnya cukup unik untuk dijadikan cerpen tersendiri. Nama aslinya yang tertera di KTP adalah Fitri Anna—nama yang sangat feminin untuk seorang lelaki tulen dengan kumis tipis dan suara bariton. Entah kesalahan apa yang terjadi di kantor catatan sipil desanya dulu, yang jelas ia memaksa semua orang memanggilnya Dafin agar terdengar lebih maskulin.


 

Setelah Dafin berangkat sif sore, aku duduk sendirian di tepi ranjang. Aku membuka sebuah buku kumpulan doa dalam bahasa Arab. Buku itu sudah mulai menguning, aromanya membawa ingatanku terbang jauh ke masa lalu, melintasi ribuan kilometer menuju sebuah kenangan yang tak pernah benar-benar mati.

 

Di antara lembarannya, ada sebuah nama yang tertulis dengan tinta biru yang kini memudar: Masna.

 

*

 

Nama itu seperti mantra yang mampu menghentikan waktu. Jika Jakarta adalah kebisingan yang melelahkan, maka Masna adalah ketenangan senja di Sungai Nil— sebuah keindahan yang tak pernah kulihat langsung dengan mataku, namun selalu bisa kubayangkan melalui setiap tutur katanya.

 

Dulu, kami adalah dua jiwa yang dipertemukan oleh keinginan untuk memahami cahaya. Masna adalah adik tingkatku di sebuah pesantren di Jawa Timur. Ia adalah gadis yang sederhana, namun memiliki kedalaman pikiran yang sering kali membuatku merasa kerdil. Kami sering berbagi buku, bertukar catatan tentang filsafat dan sastra, hingga tanpa sadar, kami mulai bertukar detak jantung.

 

Aku ingat sore-sore yang kami habiskan di bawah pohon beringin kampus—tempat yang kami sebut "DPR" (Di Bawah Pohon Rindang). Di sana, Masna pernah bercerita tentang impiannya untuk melihat matahari terbenam di Mesir. "Kak, bayangkan senja di Sungai Nil. Warnanya pasti tidak sekadar jingga, tapi emas yang menyatu dengan sejarah," ucapnya kala itu dengan mata yang berbinar.

 

Aku hanya bisa tersenyum, berjanji di dalam hati bahwa suatu saat nanti, aku akan membawanya ke sana. Namun, hidup bukanlah deret matematika yang hasilnya selalu pasti. Setelah lulus, jalan kami bercabang. Aku terlempar ke Jakarta untuk menyambung hidup sebagai cleaning service, sementara Masna menghilang ditelan tanggung jawab keluarga dan perjodohan yang tak bisa ia tolak.

 

Tahun-tahun di Jakarta adalah tahun-tahun melupakan. Aku membenamkan diriku dalam rutinitas menyapu dedaunan kering di tepi kolam renang apartemen, melihat orang-orang kaya bercengkerama tanpa beban, sembari mencoba mengubur wajah Masna di dasar kolam yang paling dalam. Kehidupan kembali datar, menjadi rangkaian angka dan jam kerja yang monoton.

 

Hingga suatu hari, kenangan itu menemukan jalannya kembali melalui mulut Neni, seorang teman lama yang kutemui di sebuah reuni kecil.

 

“Masna ada di Jakarta,” ucap Neni singkat.

 

Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Jakarta yang riuh seketika menjadi sunyi. Neni memberitahuku bahwa Masna sedang berada di Asrama Haji Pondok Gede, bersiap untuk keberangkatan yang panjang.


 

*

 

Aku menemuinya di sana, di tengah kerumunan orang-orang berbaju putih. Awalnya, aku hampir tidak mengenalinya. Ia masih Masna yang kukenal, namun ada sesuatu yang berbeda. Ia tampak lebih tenang, lebih dalam. Ada cahaya yang tidak pernah kulihat sebelumnya—cahaya dari seseorang yang telah melewati banyak badai dan akhirnya memilih untuk berdamai dengan samudera.

 

“Kakak apa kabar?” tanyanya lembut.

 

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Aku takut jika aku membuka mulut, seluruh rindu yang sudah kubungkus rapi selama bertahun-tahun akan meledak dan mempermalukan diriku sendiri. Kami berbincang ringan tentang hal-hal yang tidak penting; tentang cuaca Jakarta, tentang makanan asrama, tentang kabar teman-teman lama.

 

Kami bicara seolah-olah masa lalu adalah sebuah buku yang sudah tamat dan diletakkan di rak paling atas. Tidak ada tuntutan penjelasan, tidak ada luka yang perlu dibuka kembali. Hingga akhirnya, ia berkata dengan suara yang sangat tenang:

 

“Aku sudah dipinang, Kak.”

 

Dan anehnya, aku tidak hancur. Tidak ada suara retakan di dadaku. Aku hanya diam, menatap ujung sepatuku yang sedikit kusam. Saat itu, aku akhirnya mengerti sebuah hakikat yang pahit namun indah: bahwa tidak semua yang indah harus kita miliki. Ada bunga yang lebih indah jika dibiarkan tumbuh di taman orang lain, dan ada senja yang lebih bermakna jika hanya dipandang dari kejauhan.

 

*

 

Malam ini, di kamar kos Karet Tengsin ini, aku menutup buku doa itu perlahan. Hujan benar-benar telah berhenti. Suara klakson kendaraan di kejauhan mulai terdengar lagi, menandakan kehidupan kota yang tak pernah tidur.

 

Masna kini tidak lagi menjadi seseorang yang harus kurindukan dengan rasa sakit. Ia telah menjadi bagian dari diriku, seperti sebuah bab dalam novel yang memberikan warna pada keseluruhan cerita. Ia adalah senja di Sungai Nil-ku—sebuah keindahan yang mungkin tak pernah kulihat secara langsung dengan raga, tapi selalu bisa kubayangkan kehangatannya di setiap doa-doa malamku.

 

Di suatu tempat yang jauh, mungkin di bawah langit yang berbeda, aku ingin percaya bahwa ia juga pernah mengenangku. Sebentar saja. Seperti embun yang hinggap di pucuk daun sebelum matahari menghapusnya.

 

Aku mematikan lampu kamar. Dalam kegelapan, aku tidak lagi merasa sendirian. Sebab kenangan, jika kita sudah berdamai dengannya, tidak akan lagi menjadi hantu yang menakutkan, melainkan menjadi cahaya lilin yang menerangi jalan kita menuju masa depan yang lebih tenang.


 

Besok pagi, aku akan kembali ke lantai lima. Aku akan kembali menyapu tepian kolam renang itu. Namun kali ini, aku akan melakukannya dengan hati yang lebih lapang. Karena aku tahu, di luar sana, hidup terus mengalir seperti sungai—dan seperti Sungai Nil, ia akan selalu menemukan jalan menuju muaranya, membawa semua sisa-sisa senja yang pernah kita lalui bersama.


(Gubahan versi Daeng Muhary Wahyu Nurba dari cerita asli "Senja di Sungai Nil")