Langkah Hilda terhenti pada sebuah rak koleksi buku Teknik Industri , ia mengambil sebuah buku lalu membukanya di halaman bagian tengah. Disodorkannya buku tersebut ke arah Angga, lelaki yang datang bersamanya ke toko buku ini. Hilda meminta Angga memperhatikan sebuah gambar. Keterangan dalam gambar itu menerangkan tiga prosedur produksi; input-proses-output . “Lihatlah di bagian gambarnya, kamu dan aku sekarang berada di tahap ini,” telunjuk Hilda mengarah pada sebuah tulisan “proses”. Angga memandang Hilda dengan kening ditekuk. “Apa maksudmu, aku belum paham?” “Aku tahu kamu orangnya pintar, Ngga. Kamu ‘kan suka nulis puisi, hal-hal seperti ini aku yakin kamu paham.” Sudah setahun Hilda mengenal Angga dan dia percaya bahwa Angga orangnya jenius. Hanya saja, menurut penilaiannya, Angga selalu melihat sesuatu dengan sikap pesimis. Cerita tentang Angga yang pesimis berbalik 180 derajat setelah dekat dan menjalani hubungan bersama Hilda. Angga berpikir sejenak, menc...
Selesai berdzikir, aku mengambil tempat duduk dekat jendela mengarahkan pandangan ke sisi utara. Merasakan nuansa pagi angin laut yang tenang, setenang hati yang ridho. Perjalanan menuju Kota Mataram sudah separuh jalan. Selat antara Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, kami sekeluarga mengapung bersama ratusan penumpang dan puluhan mobil serta motor di atas kapal feri. Aku menoleh ke Timur, matahari mulai menampakkan diri dengan warna jingga menyala, warna yang sama dengan matahari senja. Pagi mulai menyapu hari. Kuraih handpone- ku, membuka aplikasi kamera lalu mengambil beberapa gambar dari balik jendela kaca, menangkap momen sebuah feri berdampingan dengan cahaya matahari yang estetik. Dua jam sudah berlalu di atas laut, aku, istriku, dan tiga orang putriku, menaiki bus yang kami tumpangi yang diparkir di lantai bawah sebelum bus keluar dari feri. Cahaya matahari menembus jendela kaca bus, menyumbang sedikit rasa hangat melawan dinginnya AC bus yang membuat badan menggigil. Dari p...