Selesai berdzikir, aku mengambil tempat duduk dekat jendela mengarahkan pandangan ke sisi utara. Merasakan nuansa pagi angin laut yang tenang, setenang hati yang ridho. Perjalanan menuju Kota Mataram sudah separuh jalan. Selat antara Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, kami sekeluarga mengapung bersama ratusan penumpang dan puluhan mobil serta motor dengan tenang di atas kapal feri. Aku menoleh ke Timur, matahari mulai menampakkan diri dengan warna jingga menyala, warna yang sama dengan matahari senja. Pagi mulai menyapu hari. Kuraih handpone- ku, membuka aplikasi kamera lalu mengambil beberapa gambar dari balik jendela kaca, menangkap momen sebuah feri berdampingan dengan cahaya matahari yang estetik. Dua jam sudah berlalu di atas laut, aku, istriku, dan tiga orang putriku, menaiki bus yang kami tumpangi yang diparkir di lantai bawah sebelum bus keluar dari feri. Cahaya matahari menembus jendela kaca bus, menyumbang sedikit rasa hangat melawan dinginnya AC bus yang membuat badan menggig...
“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya. Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...