Kunciran Indah, terdengar familiar saat Angga membaca alamat pengirim pada sebuah paket. Tertulis lengkap nama dan alamat paman Angga yang tinggal di Tangerang, tepatnya di Jl. Sibi 1, Kunciran Indah. Sekelebat bayangan tentang masa lalu muncul dari ruang memori. Rentetan kenangan saat berpetualang di rimba Ibu Kota Negara, ingatan Angga langsung tertuju pada sosok yang pernah memoles kuas penuh warna dan mengisi sebuah ruang kosong di hatinya. Dia adalah sosok yang pernah memberinya arti nilai sebuah optimisme. Mampu mengubah sudut pandang Angga yang selalu melihat semua hal dari sisi pesimis. Dia adalah Hilda, seorang gadis belia yang lucu namun elegan. Di Tangerang sana, Angga mengetik pesan singkat dari handphone -nya, menanyakan kesiapan Hilda untuk menjadi kekasihnya. Saat cintanya diterima, Angga berteriak kegirangan dalam hati. Momen saat Hilda mengajaknya ke sebuah toko buku untuk menyatakan menerima pinangan cintanya, tersimpan rapi dalam galeri ingatannya. “ Mulai s...
Langkah Hilda terhenti pada sebuah rak koleksi buku Teknik Industri , ia mengambil sebuah buku lalu membukanya di halaman bagian tengah. Disodorkannya buku tersebut ke arah Angga, lelaki yang datang bersamanya ke toko buku ini. Hilda meminta Angga memperhatikan sebuah gambar. Keterangan dalam gambar itu menerangkan tiga prosedur produksi; input-proses-output . “Lihatlah di bagian gambarnya, kamu dan aku sekarang berada di tahap ini,” telunjuk Hilda mengarah pada sebuah tulisan “proses”. Angga memandang Hilda dengan kening ditekuk. “Apa maksudmu, aku belum paham?” “Aku tahu kamu orangnya pintar, Ngga. Kamu ‘kan suka nulis puisi, hal-hal seperti ini aku yakin kamu paham.” Sudah setahun Hilda mengenal Angga dan dia percaya bahwa Angga orangnya jenius. Hanya saja, menurut penilaiannya, Angga selalu melihat sesuatu dengan sikap pesimis. Cerita tentang Angga yang pesimis berbalik 180 derajat setelah dekat dan menjalani hubungan bersama Hilda. Angga berpikir sejenak, menc...