Hey, what's up??
Big day for you today, cause it's a present, bro'...


Rabu, 13 Mei 2026

15 Menit

Kemarau masih tiga bulan lagi, cuaca siang ini sangat cerah. Angin sepoi yang membawa terbang sehelai daun nangka dan jatuh di tengah lapangan terasa lebih lembab dari sehari sebelumnya. Pukul 09:50, suasana lingkungan sekolah sepi, hanya ada dua orang siswa terlihat melintas di depan kelas menuju toilet. Dari balik jendela terpantau jelas guru-guru sedang menjelaskan materi, ada yang berpidato di depan siswa, ada yang berjalan berkeliling mengecek jalannya diskusi, beberapa guru terlihat membereskan berkas-berkas di atas meja.

Teng. Teng. Teng.

Pukul 09:55 bel berbunyi tanda jam istirahat dimulai. Anak-anak sangat antusias keluar dari ruang kelas menuju tempat-tempat favoritnya untuk melepaskan penatnya belajar selama empat jam pertama. Ada yang menuju kantin, ada yang mengantri di depan toilet, sebagian besar siswa laki-laki langsung menuju lapangan dan bermain bola setelah jam PJOK pak Yamin selesai. Semenjak Dompu diguyur hujan dari pagi hingga malam selama hampir sepekan, hasrat bermain yang tertahan itu terlampiaskan di jam istirahat saat kondisi lapangan sudah kering dari genangan hujan.

Siswa kelas tujuh berlarian menuju kantin berebut siapa yang lebih dulu mendapat pelayanan dari ibu kantin. Diantara keramaian itu, telah ada beberapa orang guru laki-laki duduk di sebuah bangku panjang berpakaian putih hitam, seragam kerja di hari Rabu. Ketujuh orang itu semuanya sedang memandangi hp mereka masing-masing.

“Coba di Indonesia diberlakukan seperti di Finlandia, PR dihapus, ujian dihapus, jam belajar diperpendek, banyakin jam istrahatnya,” pak Herman membuka obrolan setelah membaca sebuah artikel di slide Instagram.

Beberapa gelas kopi panas disuguhkan oleh ibu kantin di atas meja, Ua Sri, panggilan akrabnya. Di samping pak Herman duduk berderet pak Agus, pak Iwan, dan pak Romi. Di seberang meja ada pak Jaelani, pak Farid, dan pak Faisal.

Di jam istrahat seperti ini ramai anak-anak belanja di kantin Ua Sri, ada berbagai menu makanan ringan dan minuman dingin, cilok, mie instan, Pop Ice, dan cemilan. Sebagian siswa ada juga yang belanja di kantin di luar sekolah, alasannya menu makanan yang mereka suka tidak tersedia di kantin Ua Sri. Meskipun jaraknya jauh, anak-anak terbiasa sampai ke kelas tepat waktu sebelum bel masuk berbunyi.

Di sebelah utara sekolah, berkumpul beberapa orang guru di meja piket, sebagian ada yang duduk di tangga karena tidak kebagian kursi. Pak Edy, salah seorang guru senior melihat ke arah kantin sambil tersenyum.

“Lihatlah mereka di kantin, kalau semua kopi sudah tersedia di atas meja, obrolan panjang akan segera dimulai.”

“Topik mereka kalau ga tentang mancing, ya pasti soal gaji ASN Paruh Waktu, hahahaha,” sambung bu Tina terbahak.

Regulasi tentang ASN Paruh Waktu menjadi pembahasan yang hangat hampir di setiap sekolah, terutama terkait jumlah gaji dan sumber anggarannya. Dibalik kemelut tersebut, senyum para ASN Paruh Waktu masih selalu segar tersungging sebagai ciri khas senyum Indonesia yang telah kebal dengan cobaan hidup.

“Oh, sudah mulai nih?” pak Iwan excited.

Pak Jaelani yang mendengar pernyataan pak Herman terlihat antusias ingin segera membalasnya. Diletakkannya hp di atas meja lalu memosisikan kedua tanganya membentuk huruf V terbalik dengan jari-jari tangan dikaitkan satu sama lain.

“Menurut saya pola pendidikan di Finlandia kurang cocok diterapkan di Indonesia, pak Herman. Kita bandingkan pendidikan di Finlandia dengan pendidikan kita di Indonesia, jauh. Itu sama saja membandingkan apel dengan durian, beda rasa, beda cara bukanya,” tukas pak Jaelani.

“Obrolan kali ini sedikit berisi kayaknya, pembukanya saja sudah daging semua,” seru pak Iwan memandang ke arah pak Herman sembari mengangkat gelas kopi ke mulutnya.

 Pak Faisal yang dari tadi sibuk dengan hp nya, masih memandangi layar hp sambil sesekali mencomot gorengan pisang panas yang ada di piring di atas meja. Pak Faisal manggut-manggut, sementara yang lain masih berusaha masuk ke dalam topik yang tiba-tiba soal pendidikan, biasanya tentang mancing kalau tidak tentang pilkada dan pilbup.

“Menurut saya, pak Jaelani, pendidikan itu seharusnya memanusiakan manusia, persis seperti yang dimaksudkan oleh Ki Hajar Dewantara,” bantah pak Herman.

“Seperti apa contohnya?” pak Jaelani menempelkan tangannya ke mulut.

“Misalkan tentang anak-anak diberi PR, mereka sudah capek menerima pelajaran di sekolah tetapi masih harus dicecar dengan tugas rumah yang seharusnya waktu pulang sekolah anak-anak bisa untuk istrahat, bukankah itu akan memberatkan murid?” tangan pak Herman sesekali mengetuk meja layaknya orang mengetuk pintu.

Pak Jaelani merubah duduknya dan menjauhkan badanya dari meja, “Nah, kita bahas soal PR dulu. Anak-anak Indonesia, ya. Anak-anak kita nih, belum memiliki budaya belajar mandiri di rumah. Jika PR dihapus, anak-anak bukannya membaca buku tapi push rank game online sampai subuh.”

“Betul. Budaya kita masih sebatas lisan dan visual, kita lebih suka ngobrol dan nonton dibanding baca,” pak Farid memihak pak Jaelani. Pak Farid adalah tipe kawan yang kalau ngomong suka membela teman yang duduk paling dekat dengannya.

 Pandangan pak Herman tertuju pada pak Farid, “Menurut pak Farid, bagus tidak kalau pendidikan kita mengadopsi pendidikan dari Finlandia?” pak Herman melempar pertanyaan memancing untuk memastikan keberpihakan pak Farid, sebab beberapa menit yang lalu dia selalu mendukung setiap pernyataan yang dilontarkan oleh pak Herman saat dia duduk di dekat pak Herman.

“Begini, pak Her. Kalau Indonesia mengadopsi metode mengajar seperti Finlandia, Indonesia harus mampu menghasilkan kualitas lulusan guru yang mumpuni. Di Finlandia, guru adalah termasuk dalam deretan profesi elit yang setara dokter. Lha! Di kita, fakultas keguruan seringkali jadi pilihan kedua atau pelarian jika tidak lolos di jurusan favorit lain. Kita kekurangan input terbaik sejak dari pintu gerbang kampus.”

Sekonyong pak Iwan bangkit dari duduknya, ia mengacungkan dua jempol tangan ke arah pak Farid, “Wuuiiihhhh, canggih, canggih. Pernyataan pak Farid bernilai gizi tinggi. Kali ini saya sangat setuju.”

Pak Agus terkekeh melihat tingkah pak Iwan, “Sudahlah, pak Iwan. Jangan terlalu memuji pak Farid, bisa-bisa terbang dia nanti.”

Suara hiruk pikuk siswa yang dari tadi masih sibuk membeli makanan kesukaannya, tidak menjadikan pembahasan pak Herman dan kawan-kawan terganggu. Sesekali pak Agus menggoda anak-anak yang sedang belanja dengan candaan ringan.

“Makan, nak. Makan sampai kenyang. Habis ini tidak ada lagi yang keluar ke kantin saat jam belajar.”

“Faulin, sudah berapa piring yang habis?” tanya pak Faisal sambil meletakkan hp nya di atas meja.

Faulin adalah murid yang paling besar badannya di sekolah, dia sangat disayangi oleh teman-teman dekatnya, “Baru satu, pak. Nanti tambah lagi saat masuk jamnya pak Edy.”

Pak Iwan, pak Agus, pak Romi, dan pak Faisal tertawa mendengar jawaban Faulin. Hanya pak Jaelani, pak Herman, dan pak Farid yang pikirannya masih menerawang mencari susunan argumentasi supaya bisa unggul dalam diskusi kali ini.

“Siswa zaman sekarang berbeda dengan siswa di zaman kita dulu, pak Jen. Dulu kalau kita tahu akan berpapasan dengan guru di jalan, kita akan mancari jalan lain supaya tidak bertemu dengan guru. Itu karena saking takutnya kita sama guru kita. Anak-anak sekarang, jangankan ngomong permisi, di depan guru-gurunya mereka berlarian kejar-kejaran, nggak ada hiraunya sama sekali dengan keberadaan guru,” nada bicara pak Herman sebagai guru PJOK mulai tegang.

“Belum lagi kalau banyak kasus yang terjadi guru dipidana, karena apa? Karena menghukum siswa. Dicolek sedikit langsung lapor sama orang tuannya, lalu orang tuanya laporkan gurunya ke polisi,” tukas pak Herman.

Beberapa kali terjadi guru dilaporkan ke polisi karena mendisiplinkan murid dengan cara kekerasan membuat guru-guru berkurang rasa peduli terhadap murid yang bandel atau nakal. Kejadian yang pernah dialami oleh salah seorang guru di salah satu SMA di Kecamatan Hu’u beberapa tahun lalu yang dikeroyok oleh seorang murid bersama orang tuanya. Alasannya karena murid tersebut merasa marah karena mendapat pukulan kayu ke badannya oleh gurunya saat melerai murid-murid yang berkelahi di jalan saat pulang sekolah.

Kasus tersebut sampai diproses di kantor polisi. Meski pada akhirnya murid tersebut dikeluarkan dari sekolah, kekhawatiran guru untuk memberi hukuman berupa kekerasan fisik pada murid berujung pada sikap masa bodoh ketika melihat murid yang melanggar aturan sekolah.

“Hal itu menjadi dilema buat guru. Di satu sisi kita mau anak-anak jadi benar, karena nurani kita ingin demikian, di sisi lain jika terlalu keras kita takut akan dilaporkan ke polisi karena pelanggaran HAM, katanya,” sambung pak Iwan.

“Makanya, gaya mengajar model lama yang tipikalnya keras sudah tidak cocok dengan gaya belajar anak-anak zaman sekarang,” sambung pak Herman.

Pak Jaelani meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja, menghela napas sebentar lalu berpikir sejenak.

“OK. Saya kasih sedikit gambaran,” ucapan yang menjadi andalan pak Jaelani. “Ini soal model mengajar tipikal keras yang dimaksud pak Iwan. Di Indonesia, dengan kelas yang gemuk antara 30 sampai 40 siswa dalam satu kelas, membutuhkan strategi pengajaran yang kuat, salah satunya adalah Direct Instruction yang sering disalahpahami sebagai gaya mengajar yang old school dan tidak sesuai dengan zaman sekarang.”

Hening sesaat, memberi kesempatan pak Jaelani menyelesaikan gambarannya.

“Direct Instruction adalah model klasik yang jika dilakukan dengan hati bisa sangat powerful dan merupakan cara yang paling efektif untuk memastikan 40 murid di kelasmu paham, fokus, dan tersentuh hatinya jika dilakukan dengan benar. Jadi, keras itu ada tempatnya, ada porsinya. Guru harus bisa melihat situasi untuk menyesuaikan tindakannya,” lanjut pak Jaelani.

“Ya, belum lagi kalau di kelas ada anak-anak yang bandel. Sekarang ini anak-anak yang nakal bukan satu dua orang saja, tapi sudah berkelompok-kelompok, jumlahnya sudah seimbang dengan anak-anak yang rajin dan sopan,” pak Farid merasa sudah berada di pihak yang benar.

Pak Herman mengabaikan pernyataan pak Farid karena sibuk menggulir layar hp, berusaha dengan cepat mengetik kata kunci di kolom pencarian di Google. Selagi dia masih mengetik, pak Jaelani masih dengan posisi di atas angin, malanjutkan.

“Kalau memang mau mengadopsi sistem pendidikan dari luar, mengapa tidak mengambil contoh negara di Asia yang memiliki kemiripan budaya dengan kita. Kita ambil contoh China dan Singapura, yang pada tahun 2018 oleh PISA menempatkan mereka pada posisi 1 dan 2 sebagai negara dengan sistem pendidikan yang terbaik, sementara Finlandia di urutan ke 10.”

“Kalau Indonesia, di urutan keberapa?” tanya pak Agus.

“Indonesia di posisi ke 71,” jawab pak Jaelani dengan nada pesimis.

“Dari berapa Negara?”

“Dari 77 negara,” suara pak Jaelani semakin pelan drastis.

Pak Nasrudin baru ikut bergabung, membawa sebuah tongkat kayu dari batang mangga yang telah ia kupas kulitnya. Gelas kopi tersisa ampasnya saja. Gorengan tersisa satu. Semua kembali menatap layar hp masing-masing. Hening. Pak Nasrudin duduk di bangku bagian tengah, menatap ke atas piring gorengan sebentar, lalu segera melahap gorengan pisang yang tersisa satu.

“Diam-diam bae,” pak Nasrudin bukan orang Jawa, tapi sering melontarkan kata-kata berbahasa Jawa.

“Ga ada yang mau nambah kopi lagi, nih?”

“Pesan lagi satu sana, sama Ua Sri,” tawar pak Herman. Pak Herman selain menjadi ASN PPPK, dia juga memiliki usaha tambahan yaitu sebuah mini market di desanya. Tidak jarang dia mentraktrik teman-teman guru honorer makan siang atau sekedar minum kopi di kantin Ua Sri.

“Ua Sri, Kapal Api satu,” seru pak Nasrudin menoleh ke arah ibu kantin.

Pak Nasrudin suka bergaul dengan siapa saja, terutama kaum ibu. Kenalannya banyak. Waktu kegiatan lomba Gerak Jalan Indah 17K pada ulang tahun Dompu tahun lalu, ia selalu menyapa orang-orang yang dia kenal di sepanjang jalan. Teman-teman sesama guru terhibur dengan tingkahnya yang sesekali menggoda nenek-nenek yang nonton di pinggir jalan.

“Sudah berapa orang yang kena cemeti amarasuli hari ini?” pak Iwan bernostalgia dengan film Misteri Gunung Merapi yang identik dengan cemeti (cambuk) milik Sembara dan tawa nenek Lampir.

“Barusan saya hadang anak-anak yang mau bolos lewat belakang gedung sekolah, belum sempat dipukul mereka sudah berhamburan masuk kembali ke sekolah,” nada pak Nasrudin terdengar bangga, sebab seringnya anak-anak tidak mempedulikan teriakan pak guru jika dipanggil dari jauh saat mau kabur untuk bolos sekolah.

“Kalau tidak dikerasin begitu gimana mau berubah anak-anak,” ketus pak Farid ke arah pak Herman tapi pandangannya ke arah sebaliknya.

“Anak-anak yang bolos itu adalah bentuk penolakan mereka terhadap gaya belajar yang monoton, itu-itu saja, menulis, menghafal, mengejar nilai, yang penting juara. Tidak benar-benar mengerti tujuan belajar yang sesungguhnya.”

Kali ini semua terdiam mendengar pernyataan pak Herman. Tidak disangka diamnya dari tadi adalah mode merenung yang ia aktifkan disaat ingin mengutarakan suatu perihal yang dalam dan serius.

“Anak-anak dijadikan sebagai objek yang dipakai untuk memenuhi gengsi orang tua, reputasi sekolah, target angka ini dan itu. Sehingga yang penting bukan apakah murid benar-benar belajar, tetapi untuk membuktikan apakah sistem terlihat berhasil.”

“Kita, dan sekolah-sekolah di Indonesia lebih mudah mengelola angka daripada mengelola rasa ingin tahu siswa. Kita lupa bahwa salah satu tujuan ideal sebuah sekolah adalah menghasilkan siswa-siswa yang mampu berpikir kritis dan berkomunikasi dengan baik, menguasai literasi dengan benar, yaitu mampu menyerap informasi, mampu menganalisis, dan menyampaikan gagasan dengan jelas.”

“Sekolah harus bisa melahirkan orang-orang yang suka belajar, karena tiap 5 tahun sekali perubahan terjadi.” Itulah hasil scroll pak Herman sejak ia terdiam selama diskusi.

Teng. Teng. Teng.

Bunyi bel tanda jam istirahat selesai. Suara ibu Tina terdengar lantang dari pengeras suara menginformasikan agar anak-anak masuk kembali ke kelas.

“Masuk jam kelima, anak-anak silahkan masuk ke kelas masing-masing dan menunggu Bapak dan Ibu gurunya di kelas.”

Pernyataan terakhir pak Herman menyisakan banyak hal yang ingin dibahas panjang lebar oleh pak Jaelani dan sekutunya pak Farid. Menurut pak Jaelani, ucapan pak Herman di bagian akhir sangat sesuai dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini, dimana efek yang dihasilkan sekolah dengan sistem kejar nilai adalah bahwa murid tidak benar-benar membaca buku, rentang perhatian mereka menurun dan sulit untuk fokus dalam waktu yang lama, sekolah menjadi ajang kompetisi dan saling sikut untuk mengejar status sekolah favorit, dan banyak hal lain yang ingin mereka bahas lebih lagi.

Mengingat beberapa dari mereka ada jam yang harus diisi di kelas, mereka cukupkan diskusi panas kali ini, tepatnya debat selama jam istirahat. Akhir dari diskusi menyisakan sebuah pertanyaan, jika sekolah seharusnya menumbuhkan cinta belajar, mengapa justru menghasilkan trauma belajar?

***


Senin, 11 Mei 2026

Senja di Tepi Nil

 Wuuut... wuuut...

 

Nada getar ponsel di atas meja kayu yang mulai lapuk itu mengusik lamunanku. Di luar, hujan yang sejak zuhur tadi mengepung Jakarta mulai menarik diri, menyisakan aroma aspal basah dan uap panas yang naik dari sela-sela gang sempit Karet Tengsin. Aku meraih benda pipih itu dengan malas. Sebuah pesan singkat masuk, memancarkan cahaya biru yang kontras dengan remang kamar kosku.

 

“Selamat! Anda menang undian BRI Hadiah Beruntun berupa saldo sebesar

Rp20.000.000. Balas pesan ini untuk klaim...”

 

Aku mendengus pelan sebelum sempat menyelesaikan bacaan itu. "Undian dari Hongkong," ketusku kesal. Di zaman di mana harapan sering kali menjadi barang dagangan, penipuan semacam ini terasa seperti ejekan yang kasar bagi orang-orang seperti aku.

 

“Diamini saja, Yom. Siapa tahu jadi benaran nanti,” sahut Dafin santai. Ia sedang asyik menandaskan gado-gado buatan Mbak Sri Tegal favoritnya. Bumbu kacangnya yang kental menyisakan noda di sudut bibir Dafin, namun ia tampak tak peduli.

 

Dafin adalah penghuni tetap kamarku sejak aku pertama kali mengadu nasib di rimba Jakarta. Ia adalah jenis sahabat yang langka; lucu, sedikit slebor, namun memiliki kejujuran yang terkadang melampaui batas sopan santun.

 

“Sebenarnya kamu itu ganteng, Yom. Tapi... ya, banyak tapinya,” candanya yang langsung kusambut dengan lemparan bantal lusuh. Ia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding kamar kos lantai dua yang penuh dengan tempelan kalender lama.

 

Kami berdua bekerja di sebuah apartemen bintang lima di jantung Jakarta Pusat. Aku bertugas di lantai lima, menjaga kejernihan air kolam renang yang biru pirus, sementara Dafin berada di lobi, memastikan kaca-kaca besar di sana selalu bening mengkilap.

Kami adalah bagian dari pasukan pembersih, orang-orang yang memastikan kemewahan tetap terlihat mewah, meski kami sendiri hanya bisa mencicipinya dari balik seragam kerja.

 

Kisah tentang Dafin sendiri sebenarnya cukup unik untuk dijadikan cerpen tersendiri. Nama aslinya yang tertera di KTP adalah Fitri Anna—nama yang sangat feminin untuk seorang lelaki tulen dengan kumis tipis dan suara bariton. Entah kesalahan apa yang terjadi di kantor catatan sipil desanya dulu, yang jelas ia memaksa semua orang memanggilnya Dafin agar terdengar lebih maskulin.


 

Setelah Dafin berangkat sif sore, aku duduk sendirian di tepi ranjang. Aku membuka sebuah buku kumpulan doa dalam bahasa Arab. Buku itu sudah mulai menguning, aromanya membawa ingatanku terbang jauh ke masa lalu, melintasi ribuan kilometer menuju sebuah kenangan yang tak pernah benar-benar mati.

 

Di antara lembarannya, ada sebuah nama yang tertulis dengan tinta biru yang kini memudar: Masna.

 

*

 

Nama itu seperti mantra yang mampu menghentikan waktu. Jika Jakarta adalah kebisingan yang melelahkan, maka Masna adalah ketenangan senja di Sungai Nil— sebuah keindahan yang tak pernah kulihat langsung dengan mataku, namun selalu bisa kubayangkan melalui setiap tutur katanya.

 

Dulu, kami adalah dua jiwa yang dipertemukan oleh keinginan untuk memahami cahaya. Masna adalah adik tingkatku di sebuah pesantren di Jawa Timur. Ia adalah gadis yang sederhana, namun memiliki kedalaman pikiran yang sering kali membuatku merasa kerdil. Kami sering berbagi buku, bertukar catatan tentang filsafat dan sastra, hingga tanpa sadar, kami mulai bertukar detak jantung.

 

Aku ingat sore-sore yang kami habiskan di bawah pohon beringin kampus—tempat yang kami sebut "DPR" (Di Bawah Pohon Rindang). Di sana, Masna pernah bercerita tentang impiannya untuk melihat matahari terbenam di Mesir. "Kak, bayangkan senja di Sungai Nil. Warnanya pasti tidak sekadar jingga, tapi emas yang menyatu dengan sejarah," ucapnya kala itu dengan mata yang berbinar.

 

Aku hanya bisa tersenyum, berjanji di dalam hati bahwa suatu saat nanti, aku akan membawanya ke sana. Namun, hidup bukanlah deret matematika yang hasilnya selalu pasti. Setelah lulus, jalan kami bercabang. Aku terlempar ke Jakarta untuk menyambung hidup sebagai cleaning service, sementara Masna menghilang ditelan tanggung jawab keluarga dan perjodohan yang tak bisa ia tolak.

 

Tahun-tahun di Jakarta adalah tahun-tahun melupakan. Aku membenamkan diriku dalam rutinitas menyapu dedaunan kering di tepi kolam renang apartemen, melihat orang-orang kaya bercengkerama tanpa beban, sembari mencoba mengubur wajah Masna di dasar kolam yang paling dalam. Kehidupan kembali datar, menjadi rangkaian angka dan jam kerja yang monoton.

 

Hingga suatu hari, kenangan itu menemukan jalannya kembali melalui mulut Neni, seorang teman lama yang kutemui di sebuah reuni kecil.

 

“Masna ada di Jakarta,” ucap Neni singkat.

 

Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Jakarta yang riuh seketika menjadi sunyi. Neni memberitahuku bahwa Masna sedang berada di Asrama Haji Pondok Gede, bersiap untuk keberangkatan yang panjang.


 

*

 

Aku menemuinya di sana, di tengah kerumunan orang-orang berbaju putih. Awalnya, aku hampir tidak mengenalinya. Ia masih Masna yang kukenal, namun ada sesuatu yang berbeda. Ia tampak lebih tenang, lebih dalam. Ada cahaya yang tidak pernah kulihat sebelumnya—cahaya dari seseorang yang telah melewati banyak badai dan akhirnya memilih untuk berdamai dengan samudera.

 

“Kakak apa kabar?” tanyanya lembut.

 

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Aku takut jika aku membuka mulut, seluruh rindu yang sudah kubungkus rapi selama bertahun-tahun akan meledak dan mempermalukan diriku sendiri. Kami berbincang ringan tentang hal-hal yang tidak penting; tentang cuaca Jakarta, tentang makanan asrama, tentang kabar teman-teman lama.

 

Kami bicara seolah-olah masa lalu adalah sebuah buku yang sudah tamat dan diletakkan di rak paling atas. Tidak ada tuntutan penjelasan, tidak ada luka yang perlu dibuka kembali. Hingga akhirnya, ia berkata dengan suara yang sangat tenang:

 

“Aku sudah dipinang, Kak.”

 

Dan anehnya, aku tidak hancur. Tidak ada suara retakan di dadaku. Aku hanya diam, menatap ujung sepatuku yang sedikit kusam. Saat itu, aku akhirnya mengerti sebuah hakikat yang pahit namun indah: bahwa tidak semua yang indah harus kita miliki. Ada bunga yang lebih indah jika dibiarkan tumbuh di taman orang lain, dan ada senja yang lebih bermakna jika hanya dipandang dari kejauhan.

 

*

 

Malam ini, di kamar kos Karet Tengsin ini, aku menutup buku doa itu perlahan. Hujan benar-benar telah berhenti. Suara klakson kendaraan di kejauhan mulai terdengar lagi, menandakan kehidupan kota yang tak pernah tidur.

 

Masna kini tidak lagi menjadi seseorang yang harus kurindukan dengan rasa sakit. Ia telah menjadi bagian dari diriku, seperti sebuah bab dalam novel yang memberikan warna pada keseluruhan cerita. Ia adalah senja di Sungai Nil-ku—sebuah keindahan yang mungkin tak pernah kulihat secara langsung dengan raga, tapi selalu bisa kubayangkan kehangatannya di setiap doa-doa malamku.

 

Di suatu tempat yang jauh, mungkin di bawah langit yang berbeda, aku ingin percaya bahwa ia juga pernah mengenangku. Sebentar saja. Seperti embun yang hinggap di pucuk daun sebelum matahari menghapusnya.

 

Aku mematikan lampu kamar. Dalam kegelapan, aku tidak lagi merasa sendirian. Sebab kenangan, jika kita sudah berdamai dengannya, tidak akan lagi menjadi hantu yang menakutkan, melainkan menjadi cahaya lilin yang menerangi jalan kita menuju masa depan yang lebih tenang.


 

Besok pagi, aku akan kembali ke lantai lima. Aku akan kembali menyapu tepian kolam renang itu. Namun kali ini, aku akan melakukannya dengan hati yang lebih lapang. Karena aku tahu, di luar sana, hidup terus mengalir seperti sungai—dan seperti Sungai Nil, ia akan selalu menemukan jalan menuju muaranya, membawa semua sisa-sisa senja yang pernah kita lalui bersama.


(Gubahan versi Daeng Muhary Wahyu Nurba dari cerita asli "Senja di Sungai Nil")