Hey, what's up??
Big day for you today, cause it's a present, bro'...


Kamis, 22 Januari 2026

Senja di Sungai Nil

Wuuut.. wuuut..

Nada getar hanphone mengusik lamunanku, hujan yang sejak dzuhur tadi mengguyur Jakarta mulai reda.

“Selamat! Anda menang undian BRI Hadiah Beruntun berupa saldo BRI sebesar Rp. 20.000.000; Balas pesan ini…..” belum selesai kubaca SMS yang masuk aku sudah tahu itu pasti dari tukang tipu.

“Bla… bla.. bla. Undian dari Hongkong.” Ketusku kesal.

“Diaminin aja, siapa tahu jadi benaran nanti”, pungkas Dafin sambil makan gado-gado favoritnya buatan mbak Sri Tegal. Dafin adalah teman satu kamar kosku sejak pertama kali merantau ke Jakarta dan telah menjadi sahabatku. Orangnya lucu, slengean, dan selalu bicara jujur apa adanya kalau tentang kekuranganku.

“Sebenarnya loe tuh Yom, ganteng. Tapi.... banyak tapinya, hahahaha...” Canda Dafin yang membuatku pengen nonjok mukanya.

Kami berdua sama-sama berkerja di sebuah apartemen bintang 5 di Jakarta Pusat, aku di bagian kolam renang lantai 5, dia di bagian lobi. Kami sama-sama puas dengan tugas kami sebagai cleaning service. Aku menyapu di lantai 5, dia mengelap kaca di lantai lobi. Cerita tentang Dafin sungguh unik, seunik orangnya yang memiliki nama asli Fitri Anna, tapi memaksa mengubah panggilan sehari-hari menjadi Dafin biar kedengaran laki. Meskipun dia lelaki tulen, entah kenapa di KTP-nya tertulis nama seperti nama seorang perempuan.

Di kosan lantai dua daerah Karet Tengsin, aku membuka sebuah buku kumpulan doa tulisan bahasa Arab tanpa ada terjemahan Bahasa Indonesia. Sebuah buku yang mengingatkanku pada Masna.

“Kak, simpan buku ini sebagai kenang-kenangan dariku jangan lupa dibaca, ya.”

Kata terkakhir yang Masna ucapkan di terminal Pulo Gadung saat aku menemaninya menunggu bus menuju Tegal. Kami saling melambaikan tangan tanda perpisahan, mungkin untuk waktu yang lama. Dia telah mendapatkan surat tanda diterimanya dia kuliah di Kairo, full beasiswa setelah bersaing dengan ratusan santriwati di seluruh Indonesia dan dipilih hanya sebanyak 20 orang termasuk dia.

Aku ingat waktu menggandeng tangannya untuk pertama kali saat menemaninya membeli tas di pasar Rawamangun. Aku merasakan keraguannya lewat genggamannya yang lemah, namun tak berdaya, kemudian pasrah pada keindahan rasa yang mengalir perlahan.

Kedua kalinya, tangan kami saling menggenggam saat browsing tugas kuliah di warnet samping kampus. Kami saling merasakan keterikatan pada rasa yang sama, jatuh cinta. Ia sandarkan kepalanya di pundakku. Saat itu aku mulai sadar, wanita di sebelahku polos apa adanya, inilah pertama kali ia merasakan cinta dengan seorang pria asing.

“Kak, nanti kalau aku balik kampung, nomornya jangan diganti ya, aku pengen hubungi kakak setiap saat. Tapi, janji jangan bosan ya.” Pintanya dengar suara yang tenang.

“Aku yang justeru khawatir nanti kamu yang bosan” balasku.

“Insya Allah, ga bosan. Janji.” Katanya sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingkingku.

Sesampainya di kampung, Masna langsung mengirimkan pesan singkat padaku mengatakan bahwa dia sudah sampai rumah dengan selamat.

Selepas shalat isya kami selalu ngobrol melalui hape sampai larut malam. Hape Sony Ericson yang kupakai setiap sore sering tidak aktif karena baterainya harus dicharge menggunakan charger kodok, sebab charge aslinya rusak. Setiap kali hape kuaktifkan, selalu muncul pertama kali adalah SMS dari Masna. Kadang menanyakan kabar, menanyakan sudah makan apa belum, sering juga berisi pesan nasihat dari kutipan hadits atau kata-kata motivasi. Aku pun membalas pesan dengan membuatkan puisi untuknya.

Aku titip rindu untukmu pada angin malam

Bersama rasa yang terbungkam sepi

Di sini sedang gerimis

Kupejamkan mata saat airnya menerpa kulitku

Kurasakan tanganmu sedang membelai pipiku

Jangan kau tanggung sendiri rindumu

Cukup aku saja

Karena rindu itu berat..

“Kak....”

SMS singkat yang mewakili rasa yang tak kuasa diungkapkannya.

 Awal kenalan dengan Masna bermula saat teman satu kampusku memperkenalkannya kepadaku melalui pacarnya yang satu kampung dengan Masna. Rizal, yang sedang menelpon kekasihnya iseng-iseng kuminta kenalan dengan salah satu teman sekolah pacarnya.

“Kamu ada teman nggak buat dikenalin sama temanku?” Tanya Rizal kepada Neni, pacarnya melalui handphone.

“Siapa nama temanmu? Aku punya teman, namanya Masna. Biar nanti aku kasih nomornya.” Sambut Neni jauh di Tegal sana.

Setelah kudapat nomornya, aku dan Masna saling mengenalkan diri dan bercerita tentang sekolah dan kuliah. Saat itu dia masih duduk di kelas 3 SMA, dan aku sudah berusia 21 tahun.

“Liburan semester ini aku mau jalan-jalan ke Jakarta.” Masna terdengar semangat di telepon.

Antara GR dan cemas, ini pertama kalinya cewek sangat dekat denganku. Sebelumnya aku tidak pernah pacaran, tepatnya belum ada yang mau menerimaku jadi kekasihnya setelah berulang kali aku tembak.

“Aku punya saudara di Pondok Gede, kakak perempuan aku yang sudah tinggal bersama suami dan anak-anaknya, aku kangen mereka.” Lanjut Masna.

Sebagai anak kosan yang setiap hari kalau mau makan kadang harus berutang di warteg dan bayar sebulan kemudian saat gajian, gaji dari mengajar sambilan di sebuah sekolah swasta, kehadiran wanita yang mulai mengisi lembar hariku sedikit banyaknya akan menjadi tanggung jawabku sebagai seorang pria sejati.

Hampir sebulan aku berbicara dengan Masna di telepon bertukar cerita dan saling memberi motivasi. Waktu untuk mengunjungi kakaknya di Jakarta pun sudah tiba. Neni yang sudah sampai duluan di Jakarta, mengajakku dan Rizal untuk bertemu Masna yang telah tiba di rumah kakaknya di Pondok Gede.

“Nanti bung Yommi kalau sudah ketemu Masna, aku bakal ajak dia ikut ke kosanku, biar nginap di kosan aku.” Neni membuka percakapan setelah kami duduk di angkot. Dia memanggilku dengan nama yang ada di profil Facebookku.

“Loe harus serius ya, Yom. Kasian dia sudah jauh-jauh datang ke Jakarta buat ketemu loe.” Rizal yang dari tadi senyam-senyum sendiri menggodaku dan membayangkan bagaimana nanti saat aku yang bertemu Masna untuk pertama kali.

Aku diam tersipu, malu sama beberapa penumpang angkot yang mendengar celoteh kami. Diantara mereka ada yang menoleh ke arah luar jendela, pura-pura tidak peduli, ada yang bikin jengkel memperhatikanku dengan rasa curiga. Bagaimana aku tidak suudzon, teman-teman kampus bilang mukaku sangar dan persis preman, mana cocok untuk romantika ala Bollywood. Mereka tidak tahu saja, aku menyembunyikan kegemaranku mendengarkan dan mendendangkan lagu India sejak tahu orang-orang di kota tidak suka dengan lagu-lagu India, bahkan ada yang sampai gengsi untuk mengaku suka dan tergoda untuk ikut beroyang.

Foto 3x4 milik Masna yang kudapat dari Neni kumasukkan di kantong baju, sesekali aku lirik untuk memastikan saat pertemuan nanti sama dengan orangnya yang asli. Setelah turun dari angkot, kami bertiga menunggu Masna keluar ke jalan raya untuk menjemput kami, diantara kami bertiga tidak ada yang tahu dimana rumah saudaranya yang dikunjungi Masna.

Dari kejauhan terlihat seorang gadis remaja, berjalan sendiri dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Dia mengarahkan pandangannya ke Neni dan tidak berani melihat ke arahku.

“Bung Yommi, ini lho Masna.” Neni memperkenalkan Masna.

Masna masih terlihat enggan memandang ke arahku, bukan karena wajahku menakutkan, tapi karena rasa malunya yang besar.

“Kakak apa kabar?” Tanyanya sambil matanya melihat ke arah aspal jalan.

“Alhamdulillah, kabar aku baik.” Balasku memperhatikan tingkahnya yang malu-malu.

“Ayo kita ke rumah” rumah saudaranya yang dimaksud Masna.

Kami berjalan melewati tanjakan landai sejauh 100 meter dari tempat kami turun dari angkot. Masna berjalan bergandengan tangan dengan Neni, di belakang mereka aku dan Rizal menyusul tanpa banyak bercakap.

Kami disambut dengan gembira oleh kakaknya Masna bersama dua orang anaknya yang masih kecil-kecil.

“Silahkan diminum tehnya” kakak Masna menawarkan minum setelah kami dipersilahkannya duduk.

Kami menyeruput teh hangat dengan santai. Sesaat kemudian Rizal nyeletuk, “Ayo Yom, jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri” dibarengi dengan tawa kecilnya.

Di atas meja disuguhkan kue khas Betawi dan dua bungkus cemilan berbentuk lidi. Rupanya itulah cemilan kesukaan Masna yang sering ia sebut ketika kami berbicara di telepon.

Selang beberapa lama, kami pamit balik ke kosan kami di Rawamangun. Masna juga sekalian minta izin untuk ikut Neni ke kosannya. Ia pun diizinkan kakaknya ikut Neni. Tampak jelas dari ekspresinya yang sangat menaruh percaya pada kami, lebih-lebih Neni adalah teman satu kampung dengan Masna juga teman satu kelasnya di SMA.

Kosan Neni dan kosan kami tidak terlalu jauh jaraknya. Aku dan Rizal sama-sama mengantar mereka berdua dulu ke kosan Neni lalu balik berjalan kaki ke kosan kami. Rasa penasaran yang tertahan kini sudah terpuaskan setelah bertemu langsung dan mengobrol panjang dengan Masna sepanjang perjalanan di atas angkot.

Keesokan hari, kami bertemu dan makan lalapan di dekat kosan Neni. Neni dan Rizal menjadi mak comblang untuk aku dan Masna. Setelah dirasa cukup akrab, Masna memberanikan diri mengajakku jalan-jalan melihat tugu Monas. Pagi-pagi aku kusiapkan diri, memilih pakaian terbaik yang tertumpuk di lemari. Kubuka dompetku yang kuyakin belum terisi sebab masih tanggal tua, hanya untuk memastikan barangkali ada terselip selembar sepuluh ribu yang luput dari penglihatanku. Hasilnya tetap sama, masih kosong. Searah menuju kosan untuk menjemput Masna, aku berjalan melewati mal Arion dan mampir ke kampus untuk menemui keberuntunganku, berharap ada kawan yang bisa kupinjami uang untuk ongkosku ngedate.

Beruntungnya ada senior yang baik hati yang kurasa tidak pernah kosong isi dompetnya sebab keturunan orang berada. Deni namanya. Setelah selesai mengajar mata kuliah panahan sebagai asisten dosen, Deni terlihat sedang santai di bawah pohon sambil membereskan peralatan panahan bekas dipakai anak-anak mahasiswa. Aku menghampirinya dan memulai dengan sedikit basa-basi.

“Den, gue baru dapat kenalan cewek yang datang dari Tegal. Minta diajakin lihat monas, tapi gue lagi bokek.” Jujurku tanpa ragu.

“Apa yang bisa gue bantu, Yom. Mau pakai duit dulu ga?” Tawaran Deni menjadi angin segar di tengah gurun tandus keuanganku. Dia bilang pakai dulu, bukan pinjam dulu. Begitulah gaya bahasa orang yang tepat diamanahkan harta.

“Gue pakai dulu, ya. Ntar gue ganti saat gajian.”

“Udah tenang aja, pakai aja dulu. Mau berapa?” tanyanya.

“Dua puluh ribu aja, cukup buat ngemil dan ongkos busway.” Aku telah menghitung sesuai kebutuhan sekali jalan.

Setelah menerima uang dari Deni, aku pamit dan salaman.

“Terimakasih, Den.”

“Sama-sama. Selamat bersenang-senang, ya Yom.” Ucap Deni memberi dukungan.

 Langkahku lebih semangat dan percaya diri dengan adanya sokongan dana pinjaman. Tidak salah jika kaum wanita sering mengutamakan uang hampir dalam segala hal. Bahkan ada yang sembuh dari sakit jika uang telah mengisi dompetnya.

Ongkos busway dari halte Rawamangun ke Monas adalah Rp. 2000; per orang. Masih tersisa Rp. 18.000; untuk ongkos balik dan cemilan. Masna sangat menikmati momen di atas bus dan melihat pemandangan kota sepanjang perjalanan. Meski kami tidak mendapat tempat duduk, kami masih bisa ngobrol santai sambil kujelaskan tentang Jakarta seadanya.

Sesampai di tujuan, kami mampir di pedagang pinggir jalan untuk membeli bekal nongkrong di dalam area Monas.

“Kamu mau minum apa?” tanyaku setelah membuka kotak pendingin minuman.

“Aku yang ini aja.” Dia mengambil satu botol air mineral ukuran tanggung kemudian menyerahkan selembar uang pecahan 50 ribu kepada penjual.

“Biar aku aja yang bayar.” Cegahku.

“Nggak apa-apa kak, kan aku yang ngajak jalan duluan.”

Dalam hati agak berat membiarkan dia membayar minumanku. Biarlah uangku nanti bisa dipakai untuk sesuatu yang bersifat darurat, misalnya untuk makan besok pagi di kosan atau untuk ongkos prin tugas kuliah.

Setelah berkeliling di beberapa spot, aku mengajak Masna duduk di taman dan dia memilih duduk di atas rumput di bawah pohon rindang.

Masna iseng menelpon Neni untuk berbagi kebahagiaannya bisa melihat Monas dan bisa jalan bersamaku.

“Kita sedang duduk di taman Monas, lho. Suasananya enak, ramai orang yang datang.” Ungkap Masna penuh semangat.

“Ahhhh... aku mau...” Neni terdengar iri dari suara handphone yang di-loudspeaker.

“Makanya, ajak bojomu ke sini.” Keduanya saling tertawa.

“Bojoku lagi sibuk, lain kali aku bakal bikin kalian iri, hehehe.” Balasnya.

Kembali ke kosan menggunakan angkutan busway, aku ikut turun untuk mengantar Masna masuk ke kosan Neni.

“Terimakasih, ya kak. Hari ini aku senaaang bangat sudah diajak keliling Jakarta.” Masna terlihat puas dan tersenyum padaku.

“Besok-besok aku ajak ke tempat lain lagi, kamu yang tentukan tempatnya.” Sahutku.

Sepanjang jalan kurasakan getaran yang muncul di hatiku merubah cara pandangku dengan orang-orang di sekitar. Jalanan macet, teriakan dari berbagai arah, kesibukan kota yang melelahkan, bagiku seperti simponi orkestra versi Bollywood. Ingin rasanya kumenari di antara antrian panjang mobil di lampu merah, berputar-putar di tiang telpon atau bernyanyi di atap mobil yang berjejer. Indahnya kasmaran, pekikku.

Selama satu pekan di Jakarta, aku telah mengajak Masna ke banyak tempat. Anehnya lagi, disaat kondisi finansialku seret, entah dari mana datangnya setiap kali mengajak Masna jalan, ada saja uangnya, seakan semesta mendukung kisah kami.

Hari-hari berlalu, pekan berganti bulan, sudah setengah tahun Masna menjalani kuliahnya di Kairo. Setiap satu kali dalam sepekan, Masna punya waktu luang melakukan obrolan denganku di sela kesibukannya belajar dan tugas kampus. Saat itu sudah marak orang menggunakan handphone Blackberry, tapi aku hanya bisa menghubungi Masna melalui Yahoo Mesenger di warnet dekat kosan.

Dalam kesehariannya, bisa kurasakan Masna kadang memaksakan waktunya untuk chatting denganku. Aku memahami keadaannya, hingga aku sampai pada sebuah pertimbangan dan berniat memberinya kebebasan. Bebas dari rasa terbebani oleh rindu yang terlarang. Ya, bagiku setelah menyadari ini aku rasa lebih baik jika kami fokus dulu ke kuliah masing-masing. Untuk itu, dengan mengumpulkan seribu keberanian dan seikat sikap tega, aku sampaikan padanya agar kami menyudahi hubungan kami.

“Dek, ini bukan hal mudah bagiku untuk mengatakannya. Aku mau kamu fokus dengan kuliahmu. Aku tidak ingin hubungan kita menjadikanmu terganggu belajarnya.” Berat rasanya untuk melanjutkan kalimat inti.

“...... kita temanan aja ya.”

Lama dia terdiam. Layar kamera ditutupnya menggunakan buku, aku masih menunggu dia muncul kembali di monitor komputer.

“Kakak mau kita putus?” Dia membuka kembali webcamnya, wajahnya tertunduk dan suaranya terdengar berat dibarengi isak tangis. Aku tidak melanjutkan berkata apa-apa dan membiarkan dia menuntaskan rasa sedihnya.

“Sudah ya, kak. Aku lanjut ngerjain tugas kuliah, assalamu’alaikum.”

Belum sempat aku membalas salam, dia menyudahi obrolan denganku.

Rasa penyesalanku karena belum sempat menjelaskan semua alasannku menyudahi hubungan kami. Namun apapun alasanku baginya tetap sama, aku telah menyakiti hatinya.

Aku kembali dengan berbagai aktivitasku di kampus, belajar ilmu olahraga yang nanti bakal jadi apa setelah lulus aku tidak tahu. Aku hanya mengerahkan semua kemampuan yang kupunya untuk menuntaskan sisa masa kuliahku dua semester lagi.

Kembali aku seruput segelas kopi hitam di bawah pohon beringin di depan gedung Fakultas Pendidikan usai kuliah psikologi pendidikan. Mahasiswa menyebut tempat tongkrongan ini sebagai DPR, Di bawah Pohon Rindang. Kemarau menjadi lebih indah saat daun-daun pohon beringin berguguran, menambah cita rasa kopi seakan diseruput di Eropa saat musim gugur.

Aku sudah melupakan tentang Masna, tapi tidak dengan kenangannya. Sebuah foto Masna yang berdiri di tepi sungai Nil dengan angel sisi jembatan di sore hari, muncul di layar hape kamera VGA yang baru kubeli dari honor menjadi panitia O2SN yang diadakan kampus UNJ. Foto yang dikirim oleh Masna sebelum hubungan kami berakhir.

Dari arah masjid kampus, aku melihat Neni berjalan ke arahku, sepertinya dia sengaja meghampiriku ingin menyampaikan suatu berita. Oh ya, Neni juga melanjutkan kuliahnya di kampus yang sama denganku, dia kuliah di Fakultas Pendidikan.

“Halo, Bung Yommi. Gimaku kabarnya hari ini?” tanyanya setelah mengambil tempat duduk di sebelahku.

“Baik”, jawabku dengan nada pelan. Semenjak dia putus dengan Rizal, aku mencoba menjaga jarak dengannya, mencoba memberi kesan kalau aku tidak akan mencoba mendekati mantan kekasih temanku sendiri.

“Bung, Masna ada di Jakarta sekarang.” Ucapnya to the point.

Aku menoleh ke arahnya, “Oh ya? Dia lagi liburan ya?”

“Iya, mau ketemuan nggak? Dia sekarang sedang di asrama haji Pondok Gede.” Jelas Neni.

Aku menghabiskan sisa kopi yang terpisah dari ampasnya setelah kumiringkan gelasku empat puluh lima derajat. Sesudah menyampaikan berita itu, Neni memberikan nomor baru Masna padaku dan memintaku untuk menemuinya. Aku mengangguk pelan, dan dia pun bangkit dari tempat duduknya menuju kelas.

“Kakak apa kabar?”

Ucapan itu yang sangat berkesan bagiku hingga sekarang. Dia menyambutku dengan sangat ramah, berbicara dengannya menjadikanku serasa seorang raja.

Pertemuan dengan Masna di asrama haji, Pondok Gede meninggalkan kenangan baru bagiku. Bukan tentang rasa yang kembali hadir antara aku dan dia, tapi tentang kesan pertama yang kurasakan waktu aku melihatnya lagi setelah berpisah lama. Dia nampak lebih berwibawa sebagai muslimah mahasiswa Al Azhar Kairo. Selama pertemuan itu, aku hanya bisa menunduk tanpa berani memandang wajahnya lebih lama. Suaranya lebih lembut dari sebelumnya, ratusan ayat-ayat Al Quran telah membekas di jiwanya. Menjadikannya pribadi anggun bersahaja sekaligus tenang berwibawa.

Aku mengaguminya, namun tak berani menampakkan suka di hadapannya, sebab saat pertemuan itu dia mengatakan padaku bahwa ia sudah dipinang dan akan segera menikah setelah menyelesaikan tugas akhir kuliah. Aku ikut bahagia, itu pertanda bahwa dia telah move on dariku dan aku juga percaya bahwa dia telah memaafkanku.

Kututup lagi buku doa itu. Butiran air yang tersisa di daun memberikan nuansa khas selepas hujan. Seutas cerita


tentang Masna telah menempati ruang tersendiri dalam lembaran kenanganku.


Minggu, 18 Juni 2023

Lusi, Gadis Pantry


 Di balik pintu kaca pantry yang silau oleh bayangan lampu dari lobi, ada sosok seorang gadis belia duduk anggun berbalut seragam kemeja putih dan celana hitam, wajahnya yang mungil dan cerah mampu mengalihkan pandangan beberapa orang pria yang sedang memasuki pintu lobi atau yang sedang menuju pintu lift apartemen. Sesekali datang menggoda anak-anak cleaning servis atau karyawan maintenance diwaktu luang demi menarik hati si gadis belia. 

Sementara di belakang sana, di sebuah ruang kecil bersebelahan dengan ruang pantry, ruang toilet untuk tamu apartemen, ada seorang remaja laki-laki sedang gelisah dilanda kasmaran dengan gadis pantry. Hari ini ia berencana mengutarakan perasaan yang ia pendam sejak  pertama mengenalnya. 

Setangkai bunga mawar plastik berwarna merah yang ia pilih di pasar Mayestik, Jakarta Selatan, untuk persiapan nembak gebetannya lengkap dengan secarik kertas berisi puisi.

Di depan kaca toilet, ia berbicara dengan bayangannya berulang-ulang menghafal dialog yang akan ia utarakan untuk gadis pantry. 

"Lusi, maukah kau menjadi milikku?"

"Ah.. Jangan"

"Lusi, sudikah kau menerima aku sebagai kekasihmu?"

"Lusi..."

"Lu...."

"Permisi, mas"

Tiba-tiba pintu terbuka oleh seorang tamu yang hendak menggunakan toilet.

"Ia, Pak. Silahkan".

Ia pun keluar dari ruang tersebut sembari dusting lantai lobi sambil sesekali melirik ke arah pantry.

Tanpa disadari, tiba-tiba saja ia sudah berada di ruangan pantry dan tepat berdiri di depan Lusi, gadis pantry.

" Hi, Lusi. Lagi ngapain?"

"Hi, juga. Biasa, lagi nunggu customer ".

Darah mendesir.. Napasnya putus nyambung namun beringas tak beraturan.

Dihelanya napas panjang sekali lalu berusaha tenang. Lusi yang masih sibuk dengan jarinya mengetik tuts handphonenya, sedikit tidak peduli dengan keadaan si cowok itu yang lesu memandang parasnya yang jelita.

" Lusi..."

"Iya, kenapa, Min?"

"Penyanyi idola loe siapa?" 

"Hmmm.. Siapa ya? Ga nentu sih, gw mah suka lagunya siapa aja"

"Ari Laso, suka?"

"Ga terlalu sih"

"Loe tau kan lagu dia yang... 'selama.. jantungku masih berdetak'...?"

Ia berusaha menyanyikannya sebagus mungkin lagu favorit yang sering dinyanyikannya di kosan. 

"Oh.. Suka"

Yamin tersenyum lega sambil menunduk.

Hening sejenak. 

Lusi kembali memandang handphonenya. Si Yamin merasa cemburu dengan handphone itu.

"Ya, udah, ya. Gw lanjut kerja dulu".

" OK, Min".

Ia kembali ke ruang toilet lagi, mengecek ulang bunga yang ia simpan apakah masih aman berada di belakang pintu, di balik tangkai mop. 

Diambilnya bunga itu dan dimasukan ke dalam kantong celana sebelah kanan dengan hati-hati. Puisi yang ia tulis sejak semalam terlipat rapi di kantung kemejanya.

Dibukanya pintu toilet, lalu berdiri sejenak dan menarik napas panjang dan membuangnya penuh semangat. Hwwuuuf...!!!!

Pagi itu, suasana lobi depan pantry tidak terlalu ramai seperti biasanya, karena hari itu adalah weekend. Hanya ada seorang petugas front office sedang mengobrol dengan dua orang asisten rumah tangga. 

Tanpa basa-basi, dan tanpa peduli sedang dilihat oleh orang-orang itu, Yamin bergegas masuk ke dalam pantry dan menyerahkan sepucuk surat berisi puisi kepada Lusi. 

"Apa ini?"

"Kamu baca", balasnya tegas bercampur gugup.

Lusi membaca surat itu tanpa suara. Ekspresinya sedikit heran. 

"Ini maksudnya apa, Min?"

Sekonyong Yamin berlutut dengan satu kakinya berbarengan dengan disodorkan ke hadapan Lusi sekuntum bunga mawar plastik warna merah yang dipilihnya di pasar Mayestik, Jakarta selatan. Tanpa rasa malu, karena malu sudah ia titipkan di kamar kosan sejak semalam diantara rapalan doa dan harapan.

"Maukah kau menjadi pacarku?"

Lusi terkejut dan terdiam, grogi, dan malu karena semua orang yang berada di lobi melihat dia dan si Yamin yang aneh.

"Maaf, ya Min, gue ga bisa".

Ucapan inilah yang dia bayangkan sejak lama yang akan diucapkan oleh Lusi pada hari ini. Dan itu benar terjadi. Untuk itu, dia santai saja. Rupanya, rasa pesimisnya mampu menjadi penetral patah hati disaat-saat krusial seperti ini, dimana dia pertaruhkan semua harga diri demi seorang gadis pujaannya.

Yamin tertunduk, lalu bangkit berdiri.

"Kenapa? Apakah kamu sudah punya pacar?"

"Bukan karena itu, gue belum mau pacaran aja. Semua gue anggap teman, sorry ya, Min"

"Ok, tidak apa-apa, Lusi"

Dengan hati remuk dan kecewa, diraihnya kertas berisi puisi di tangan Lusi dan membawa bunga yang tidak sempat diberikan padanya, Yamin bergegas meninggalkan ruang pantry namun tegap tak terlihat sedih demi menjaga wibawa laki-laki seluruh dunia yang cintanya ditolak oleh gadis yang diyakini sebagai belahan jiwa.

Besok pagi, Yamin bangun dengan suasana hati santai seperti pagi tahun lalu saat sehari sebelumnya cintanya ditolak oleh Rini yang rupanya diam-diam sudah ada hubungan dengan teman dekatnya. Andai si Ari sebagai seorang teman, memberi tahu kedekatannya dengan si Rini, tak mungkin bagi Yamin berani menggoda kekasih temannya sendiri. 

Pagi yang cerah dengan keindahan kota Jakarta sepanjang perjalanan ke tempat kerja, hari itu bagi Yamin biasa saja. Masuk gerbang apartemen sambil menunduk, lalu sampai di ruang lobi dan melewati pantry dan harus melihat gadis pujaan yang sedang duduk di balik meja kerjanya dengan pulpen di tangannya, entah dia memang serius sedang menulis sesuatu atau mungkin pura-pura untuk menghindari bertatap pandang dengan Yamin karena merasa ga enakkan. 

"Andai tadi aku lewat lobi tower 2, oohh...  hatiku pedih menatapmu kecewa, Lusi" Lirih suara hati Yamin lebay.

 Duduk di belakang meja, melayani pengunjung gym dengan senyum dan sapa seperti biasanya, tanpa mereka tahu ada hati yang remuk namun tegar yang mereka ajak bicara di ruang gym itu.

Pukul 11 pagi, telepon kantor berdering.

"Good morning, health club, with me Yamin, can i help you?" 

"Yom, ini gue, Yani. Loe udah makan siang belum?"

Bersambung...

Selasa, 18 Oktober 2022

Menjadi Jutawan Sholeh

 Assalamu'alaikum pembaca yang baik hati. 

Pernahkah anda bermimpi menjadi seorang yang kaya raya? Atau apakah anda memiliki impian menjadi seorang jutawan? Saya tidak mau jualan apa-apa disini, hanya sekedar bertanya, karena saya sendiri juga memiliki impian menjadi konglomerat. Benar ya tulisannya, bukan konglomelarat? Jadi, begini. Saya mau berbagi tips, barangkali ini manjur untuk anda, karena saya masih bertahap mencobanya dan saya berharap kita bisa sukses bersama-sama, aamiin.

Sebelum saya bagi tipsnya, saya klarifikasi dulu tentang apa pentingnya menjadi kaya. Ada seorang teman di lingkungan tempat tinggal saya dan sering diajak diskusi, mengemukakan pendapatnya tentang arah hidup ini dan apa yang ia alami seakan tanpa beban. Benar sekali, pembawaannya slow saja, tiap hari tidak terlihat kesibukan yang terlalu mencolok darinya. Ia punya prinsip bahwa hidup ini jangan terlalu mengejar kekayaan, toh harta itu tidak dibawa mati, yang dibawa adalah amalan saja di akhirat nanti. Nah! di poin akhir inilah saya mendapatkan inspirasi akan pentingnya seorang muslim untuk kaya. Sungguh dalam Al-quran maupun Hadits tidak membolehkan kita untuk terlalu mengejar dunia, dunia dikejar untuk kepentingan akhirat. Yap! Dunia yang kita kejar hendaklah berupa sesuatu yang dapat mendukung ibadah kita.

Renungkan oleh anda, bukankah kehidupan di era saat ini tidak terlepas dari materi? Apapun itu, bahkan dalam urusan agama. Kebutuhan ibadah tentu dalam beberapa aspek memerlukan materi. Kita lihat saat ini, untuk mendaftar berangkat haji kita harus merogoh kocek lebih dalam sebab biaya perjalanan haji tiap tahunnya mengalami peningkatan. Jika anda masih dalam masa menunggu jatah keberangkatan naik haji, maka sebaiknya melakukan ibadah tambahan seperti umrah, sebab kalau mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, beliau lebih dulu melaksanakan umrah sebelum melakukan ibadah haji. Bukankah kalau kita mampu melaksanakan seperti yang pernah dilakukan oleh Rasululah tersebut akan lebih baik? Bukankah bagi kita yang tinggal jauh dari negara Arab memerlukan biaya yang lebih mahal dibanding dengan di Arab itu sendiri?

Belum lagi soal anak yang harus disekolahkan di sekolah Islam. Pengalaman saya saat ini yang sedang menyekolahkan anak pertama saya di SD IT, biayanya suangat muahal bagi saya yang ekonomi menengah. Belum lagi nanti nyusul adik-adiknya. Bukan berarti saya tidak menyukai sekolah negeri, tapi saya memprioritaskan anak saya masuk sekolah Islam dulu. Lagi-lagi ini tentang beribadah, segala sesuatu yang dilakukan haruslah berlandaskan lillah.

Baik, saudaraku. Ga usah menunggu terlalu lama. Tips yang pertama untuk mejadi kaya raya atau menjadi jutawan adalah dengan 3 S. Saving, Selling, Shelter. Biar lebih paham, mari saya jelaskan satu per satu.

Saving, kalau diartikan adalah menabung. Eits! Tunggu dulu. Bukan itu yang saya maksud pada tips ini. Menabung adalah cara lama yang disampaikan oleh para orang-orang terdahulu yang sebenarnya kurang tepat untuk kita praktekan sebagai orang islam dan terbukti tidak efektif membuat seseorang menjadi kaya. Lalu apa sebenarnya saving yang saya maksud. Menurut para pakar ekonomi bahwa saving disini berarti menghemat. Iya, hemat. Anjuran berperilaku hemat menurut Islam, salah satunya terdapat dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 26 - 27, yang artinya: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan, dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. 

Selling, atau menjual. Apa yang dijual? Apa saja asal halal ya. Apakah anda menyukai dunia penjualan atau perdagangan, atau bisnis? Kalau iya, semangat untuk terus menjual. Kalau belum, seperti kondisi saya yang dulu, maka saya sarankan mulai saat ini sukailah dunia penjualan. Menjual tidak harus berupa barang, bisa juga berupa jasa yaitu potensi yang anda miliki. Bisa saja saat ini anda punya potensi menjadi public speaking, ya kembangkanlah, jangan dibiarkan menjadi jamur alias jadi basi, heheh. Atau anda punya potensi di dunia IT, menjadi programmer, atau minimal menjadi tukang servis itu sudah lumayan bisa dapat pemasukan selain menjual barang. Sama prinsipnya dengan menjual, sama-sama tidak menjadi buruh, sama-sama menjadi bos buat diri sendiri. Tidak salah jadi buruh, toh para menteri di parlemen sana juga adalah buruh, buruh masyarakat. Saat jadi buruh, kumpulin gaji buat modal dagang, gitu. Intinya, kalau masih berkerja untuk orang lain namanya buruh. Ingat! Jual jasa dulu kalau belum ada barang.

Poin penting yang ingin saya sampaikan adalah saving dan selling harus sama-sama ada. Jangan sampai lapar mata, lihat ini pengen ini, lihat itu pengen itu, padahal bukan kebutuhan. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Saving bertindak sebagai rem, sementara selling diumpamakan sebagi gas. Ingat! Kenapa orang kaya makin kaya? Karena mereka pintar memutar modalnya untuk mendapatkan tambahan, investasi, bukan buat belanja untuk berfoya-foya. Dapat keuntungan dihemat, ada selisih ya buat belanja shelter.

Shelter, atau tempat tinggal. Shelter bisa berupa rumah, kontrakan, ruko atau sejenisnya. Untuk apa? Ya biar anda tenang dalam melanjutkan karir anda menjadi jutawan. Punya rumah yang nyaman otomatis insya Allah keluarga juga nyaman, dapat suasana nyaman bisa buat kita fokus bekerja. Atau shelter lain berupa ruko atau kontarakan bisa jadi pendapatan juga. Belinya harus dari selisih antara hasil selling dan saving tadi. Ngerti sekarang? Ngerti dong, masa itu saja ga ngerti? hehehe..

Tambahan. Sebagai muslim kita perlu juga melaksanakan selain 3 S diatas, ada 3 S khusus, yaitu Shalat dhuhah, Sedeqah, Silaturahim. Banyak riwayat menjelaskan keuntungan yang diperoleh dari 3 S ini berupa rejeki yang melimpah. BUT! There is an exception! Lakukan 3 S yang ini dengan niat karena Allah, untuk Allah. Soal dapat tidaknya keuntungan dunia, itu hanyalah bonus. OK, brother and sister. Ayo kita praktekkan mulai sekarang. Sampai jumpa di puncak. 

Rabu, 25 Maret 2015

Pariwisata Lokal

Seperti yang kita tahu, Indonesia memiliki keunikan yang berbeda-beda pada setiap daerah. Masing-masing wilayah mempunyai beragam kelebihan yang mampu membuat kita berdecak kagum. Keunikan dan kelebihan itu masih banyak yang belum tersentuh oleh tangan manusia. Media masih belum sepenuhnya mempublikasikan keindahan alam Indonesia lebih detil dan terinci.

Ngomong-ngomong soal pariwisata yang belum terlalu dipublikasi, ada sebuah daerah pariwisata lokal yang saat ini sedang gencar-gencarnya diliput media masa. Pariwisata lokal daerah kabupaten Dompu - NTB. Pemkab Dompu sedang mempersiapkan diri mengadakan sebuah even besar bertajuk budaya dan pariwisata yang diberi nama "Tambora Menyapa Dunia".Kegiatan yang melibatkan berbagai instansi dan elemen masyarakat ini bertujuan untuk memperingati 200 tahun meletusnya gunung Tambora.

Sebagai anak daerah yang telah banyak makan garam di Jakarta, saya sendiri pun terlibat untuk membantu salah satu even dari kegiatan "Tambora Menyapa Dunia" yang diadakan oleh sebuah lembaga yang bernama "Tambora Initiative".

”Tambora Initiative” adalah sebuah organisasi yang memiliki kepedulian terhadap upaya mendorong peneguhan Tambora sebagai ikon pariwisata Pulau Sumbawa, sekaligus terlibat dalam menginisiasi pelaksanaan kegiatan promotif untuk mendukung peringatan dua abad letusan Gunung Tambora.

Salah satu acara yang saya diberi kepercayaan untuk berpartisipasi oleh ”Tambora Initiative” ini adalah "Tambora Savanna Run".

Minggu, 09 November 2014

Sukses itu, Proses

Tergerak untuk tahu rahasia orang-orang sukses? Itu adalah sebuah tanda bahwa kita memang benar-benar ingin sukses. Semua orang memang ingin sukses, tapi ukurannya masing-masing berbeda. 

Ukuran seberapa besar kita ingin sukses, katakanlah sukses itu dalam bentuk kaya, adalah diukur dari seberapa besar keinginan kita untuk berubah, dan perubahan itu diukur dengan seberapa mampu kita untuk memulai atau bergerak. Hijrah atau berpindah dari zona nyaman ke arah sesuatu yang menantang dan memicu kemalasan adalah mutlak dilakukan untuk sebuah perubahan. Perubahan yang kumaksud tentu saja ke arah yang mendukung tercapainya sebuah cita-cita.

Did you know? Sukses memiliki sebuah perangkat yang sistematis, yang jika salah satu tidak dilewati atau dilaksanakan, sukses itu akan tertunda. Menurutmu perangkat yang kumaksud itu seperti apa?

Ibarat mendaki sebuah gunung yang di puncaknya terdapat sesuatu yang kita mau, sebuah keharusan adalah kita mesti melewati jalan-jalan yang rumit, sempit, licin, atau bahkan berjurang. Hidup bukanlah untuk bermalas-malasan dalam kesenangan sesaat yang menyita waktu yang sangat amat berharga. Kenyamanan sesaat hanyalah perangkat malas yang menguras secara perlahan keberanian dalam diri yang kita kenal dengan ambisi. Ambisi merupakan sinergi antara cita-cita dan harapan. Sikap malas adalah wujud dari pribadi yang kurang memiliki visi dan misi hidup yang jelas. Hidup tanpa adanya harapan itu hampa.

Orang-orang sukses melakukan apa saja yang diperlukan untuk sukses meskipun itu tidak sesuai yang diinginkannya, hanya karena itu sebuah keharusan, zona nyaman perlu ditinggalkan. Contohnya?

Orang kaya memanfaatkan uangnya untuk menghasilkan uang, bukan sekedar untuk menciptakan kenyamanan dan meraih kesenangan. Investasi adalah cara orang kaya membelanjakan uang mereka, mereka tidak langsung membeli barang-barang mewah dan bermerk yang menurut pemahaman sebagian besar dari kita adalah sebagai simbol strata sosial. 

Terburu-buru adalah perusak. Lihat saja di sekitar kita, demi sebuah gadget canggih, jalan kredit pun dicapai. Jika menuruti nafsu saja tanpa pengetahuan yang benar tentang ilmu menjadi kaya akan tersiksa pada akhirnya. Menderita diawal tapi jaya diakhir perlu diterapkan. Caranya, penghasilan sekarang disisihkan untuk sebuah investasi, bukan untuk menyicil barang kreditan. Saranku, belilah sesuatu yang sesuai keadaan finansial dengan cara cash, no credit.

Kamis, 06 November 2014

Setiap Saat, CINTA

             Mengerti bahwa cinta, atau jatuh cinta adalah proses yang terjadi dalam pikiran, bukan proses yang terjadi di dalam hati yang kita tahu itu adalah liver, membuatku terus mengeksplorasi berbagai inovasi kreatif yang memungkinkan pasanganku selalu mencintaiku setiap hari. Satu contoh sederhananya adalah memberinya kejutan-kejutan kecil, apa saja yang ia sukai, siapa yang tidak suka kejutan? Terlebih jika mendapat apa yang menjadi kesukaannya.

Yup!
          Terinspirasi dari film komedi romantis yang dibintangi oleh Adam Sandler, 50 First Dates, kisah seorang pria yang berhenti jadi player (play boy) setelah jatuh hati pada seorang wanita. Ia mampu membuat wanita itu jatuh cinta setiap hari meski dia tahu bahwa wanita itu mengalami gangguan pada ingatan, dimana setiap pagi ia tidak bisa mengingat kejadian yang ia alami sehari sebelumnya. Pernah nonton? Yang jelas aku memutar ulang hingga puluhan kali dari laptopku.
            Kisahku sendiri, adalah cerita hidup dan cinta yang aku jalani bersama seorang wanita utama yang telah ditakdirkan untukku menjadi pasangan hidup yang telah memberiku seorang puteri cantik. Sadar akan hal bahwa cinta akan berkurang seiring waktu, aku tidak mau menyerah. Aku tidak mau waktu mengalahkan performa romantisme kami, aku tidak mau waktu melunturkan semangat juang menggapai keluarga sakinahku. Karena aku menyadari bahwa lelaki sejati adalah lelaki yang bisa berlaku baik pada keluarganya.
             Cinta, bisa kuhadirkan setiap hari. Cinta, bisa terjadi setiap saat. Meski tidak selalu akur dan damai, karena terkadang cinta butuh hal-hal lain yang menjadi bumbu-bumbu cinta, halah! Cemburu, rindu, amarah, atau sekedar tidak perhatian, bisa saja terjadi dalam sebuah rumah tangga. Yang membedakan sebuah keluarga dengan yang lainnya adalah bagaimana pasangan itu menyikapinya. Insya Allah, dengan kekuatan iman dan atas dasar cinta karena Allah, semua bisa teratasi. Aamiin.

Jumat, 16 Agustus 2013

Harus Syawal-kah??

Menurutmu, apa yang kami harus putuskan??
 
Rasul menikahi Aisyah di bulan Syawal, dan berkumpul dengannya di bulan Syawal. Rasul pun menganjurkan pada umatnya agar menikah sebaiknya di bulan Syawal.

Atas saran tersebut pula, kita berdua berniat hendak melangsungkan pernikahan di bulan Syawal. Hanya keinginan kita berdua, karena pihak keluargamu dan keluargaku masih berprinsip pada realita, yaitu selesaikan kuliahku dulu baru dibolehkan menikah. Sedangkan sidang skripsiku bakal diundur di ujung Syawal ini. Belum lagi menunggu jadwalnya, setelah itu harus selesaikan revisi, hardcovernya juga harus rampung, setelah semuanya selesai baru boleh disebut sarjana.

Antara menuruti keinginan kita dan mengikuti aturan realita, aku disudutkan pada pilihan yang berat. Keinginanmu menikah di bulan Syawal, adalah salah satu impian terbesar dalam hidupmu. Sebagai calon suami idaman, aku harus menghormati itu. Sebaliknya, keridhoan keluarga adalah pertimbangan lain yang harus dipikirkan juga olehku. Berlatar belakang keluarga yang dibilang kurang maksimal dalam hal ekonomi, sedikit berat rasanya bagiku bertindak sedikit memaksa. 

Yang membuatku dilema, jika tidak jadinya kita menikah di bulan Syawal, khawatir nantinya ketika kita telah menikah dan hidup bersama, adalah kekecewaan yang berujung pada penolakanmu untuk berbakti. Mungkin di awal akan penuh dengan gairah cinta yang membara, tanpa mempedulikan beragam kendala. Tapi nanti, ketika cinta telah mulai menipis oleh usia, rasa sayang yang mulai kendor oleh terbaginya perhatian, sedikit saja hati tergores luka, aku takut rasa kecewamu karena bukan menikah di bulan Syawal, akan menyulut kebencian dalam rumah tangga, akibatnya akan berujung pada perpisahan, na a'udzubillah summa na a'udzubillah...
Aku sungguh tidak ingin hal itu terjadi.

Hanya satu permintaanku, seandainya kita benar-benar tidak ditakdirkan menikah di bulan Syawal, atau diundur di bulan lain, mohon agar hatimu ikhlas menerima kenyataan, ridho terhadap takdir yang telah Allah tentukan. Karena apapun yang menurut kita terbaik, belum tentu terbaik menurut Allah, karena Allah-lah yang Maha Tahu yang ghaib, Allah Maha Tahu masa depan kita. Jika sudah demikan, engkau dan aku ridho karena Allah, hati pun akan tentram dan damai, yang akan berdampak pada ketenangan kita beribadah.

Semoga kita tetap diberi ketabahan terhadap segala keinginan yang bertolak dengan kenyataan, dan tetap sabar atas impian yang berbentur dengan realita.