Wuuut.. wuuut..
Nada getar hanphone mengusik lamunanku, hujan yang sejak dzuhur tadi mengguyur Jakarta mulai reda.
“Selamat! Anda menang undian BRI Hadiah Beruntun berupa saldo BRI sebesar Rp. 20.000.000; Balas pesan ini…..” belum selesai kubaca SMS yang masuk aku sudah tahu itu pasti dari tukang tipu.
“Bla… bla.. bla. Undian dari Hongkong.” Ketusku kesal.
“Diaminin aja, siapa tahu jadi benaran nanti”, pungkas Dafin sambil makan gado-gado favoritnya buatan mbak Sri Tegal. Dafin adalah teman satu kamar kosku sejak pertama kali merantau ke Jakarta dan telah menjadi sahabatku. Orangnya lucu, slengean, dan selalu bicara jujur apa adanya kalau tentang kekuranganku.
“Sebenarnya loe tuh Yom, ganteng. Tapi.... banyak tapinya, hahahaha...” Canda Dafin yang membuatku pengen nonjok mukanya.
Kami berdua sama-sama berkerja di sebuah apartemen bintang 5 di Jakarta Pusat, aku di bagian kolam renang lantai 5, dia di bagian lobi. Kami sama-sama puas dengan tugas kami sebagai cleaning service. Aku menyapu di lantai 5, dia mengelap kaca di lantai lobi. Cerita tentang Dafin sungguh unik, seunik orangnya yang memiliki nama asli Fitri Anna, tapi memaksa mengubah panggilan sehari-hari menjadi Dafin biar kedengaran laki. Meskipun dia lelaki tulen, entah kenapa di KTP-nya tertulis nama seperti nama seorang perempuan.
Di kosan lantai dua daerah Karet Tengsin, aku membuka sebuah buku kumpulan doa tulisan bahasa Arab tanpa ada terjemahan Bahasa Indonesia. Sebuah buku yang mengingatkanku pada Masna.
“Kak, simpan buku ini sebagai kenang-kenangan dariku jangan lupa dibaca, ya.”
Kata terkakhir yang Masna ucapkan di terminal Pulo Gadung saat aku menemaninya menunggu bus menuju Tegal. Kami saling melambaikan tangan tanda perpisahan, mungkin untuk waktu yang lama. Dia telah mendapatkan surat tanda diterimanya dia kuliah di Kairo, full beasiswa setelah bersaing dengan ratusan santriwati di seluruh Indonesia dan dipilih hanya sebanyak 20 orang termasuk dia.
Aku ingat waktu menggandeng tangannya untuk pertama kali saat menemaninya membeli tas di pasar Rawamangun. Aku merasakan keraguannya lewat genggamannya yang lemah, namun tak berdaya, kemudian pasrah pada keindahan rasa yang mengalir perlahan.
Kedua kalinya, tangan kami saling menggenggam saat browsing tugas kuliah di warnet samping kampus. Kami saling merasakan keterikatan pada rasa yang sama, jatuh cinta. Ia sandarkan kepalanya di pundakku. Saat itu aku mulai sadar, wanita di sebelahku polos apa adanya, inilah pertama kali ia merasakan cinta dengan seorang pria asing.
“Kak, nanti kalau aku balik kampung, nomornya jangan diganti ya, aku pengen hubungi kakak setiap saat. Tapi, janji jangan bosan ya.” Pintanya dengar suara yang tenang.
“Aku yang justeru khawatir nanti kamu yang bosan” balasku.
“Insya Allah, ga bosan. Janji.” Katanya sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingkingku.
Sesampainya di kampung, Masna langsung mengirimkan pesan singkat padaku mengatakan bahwa dia sudah sampai rumah dengan selamat.
Selepas shalat isya kami selalu ngobrol melalui hape sampai larut malam. Hape Sony Ericson yang kupakai setiap sore sering tidak aktif karena baterainya harus dicharge menggunakan charger kodok, sebab charge aslinya rusak. Setiap kali hape kuaktifkan, selalu muncul pertama kali adalah SMS dari Masna. Kadang menanyakan kabar, menanyakan sudah makan apa belum, sering juga berisi pesan nasihat dari kutipan hadits atau kata-kata motivasi. Aku pun membalas pesan dengan membuatkan puisi untuknya.
Aku titip rindu untukmu pada angin malam
Bersama rasa yang terbungkam sepi
Di sini sedang gerimis
Kupejamkan mata saat airnya menerpa kulitku
Kurasakan tanganmu sedang membelai pipiku
Jangan kau tanggung sendiri rindumu
Cukup aku saja
Karena rindu itu berat..
“Kak....”
SMS singkat yang mewakili rasa yang tak kuasa diungkapkannya.
Awal kenalan dengan Masna bermula saat teman satu kampusku memperkenalkannya kepadaku melalui pacarnya yang satu kampung dengan Masna. Rizal, yang sedang menelpon kekasihnya iseng-iseng kuminta kenalan dengan salah satu teman sekolah pacarnya.
“Kamu ada teman nggak buat dikenalin sama temanku?” Tanya Rizal kepada Neni, pacarnya melalui handphone.
“Siapa nama temanmu? Aku punya teman, namanya Masna. Biar nanti aku kasih nomornya.” Sambut Neni jauh di Tegal sana.
Setelah kudapat nomornya, aku dan Masna saling mengenalkan diri dan bercerita tentang sekolah dan kuliah. Saat itu dia masih duduk di kelas 3 SMA, dan aku sudah berusia 21 tahun.
“Liburan semester ini aku mau jalan-jalan ke Jakarta.” Masna terdengar semangat di telepon.
Antara GR dan cemas, ini pertama kalinya cewek sangat dekat denganku. Sebelumnya aku tidak pernah pacaran, tepatnya belum ada yang mau menerimaku jadi kekasihnya setelah berulang kali aku tembak.
“Aku punya saudara di Pondok Gede, kakak perempuan aku yang sudah tinggal bersama suami dan anak-anaknya, aku kangen mereka.” Lanjut Masna.
Sebagai anak kosan yang setiap hari kalau mau makan kadang harus berutang di warteg dan bayar sebulan kemudian saat gajian, gaji dari mengajar sambilan di sebuah sekolah swasta, kehadiran wanita yang mulai mengisi lembar hariku sedikit banyaknya akan menjadi tanggung jawabku sebagai seorang pria sejati.
Hampir sebulan aku berbicara dengan Masna di telepon bertukar cerita dan saling memberi motivasi. Waktu untuk mengunjungi kakaknya di Jakarta pun sudah tiba. Neni yang sudah sampai duluan di Jakarta, mengajakku dan Rizal untuk bertemu Masna yang telah tiba di rumah kakaknya di Pondok Gede.
“Nanti bung Yommi kalau sudah ketemu Masna, aku bakal ajak dia ikut ke kosanku, biar nginap di kosan aku.” Neni membuka percakapan setelah kami duduk di angkot. Dia memanggilku dengan nama yang ada di profil Facebookku.
“Loe harus serius ya, Yom. Kasian dia sudah jauh-jauh datang ke Jakarta buat ketemu loe.” Rizal yang dari tadi senyam-senyum sendiri menggodaku dan membayangkan bagaimana nanti saat aku yang bertemu Masna untuk pertama kali.
Aku diam tersipu, malu sama beberapa penumpang angkot yang mendengar celoteh kami. Diantara mereka ada yang menoleh ke arah luar jendela, pura-pura tidak peduli, ada yang bikin jengkel memperhatikanku dengan rasa curiga. Bagaimana aku tidak suudzon, teman-teman kampus bilang mukaku sangar dan persis preman, mana cocok untuk romantika ala Bollywood. Mereka tidak tahu saja, aku menyembunyikan kegemaranku mendengarkan dan mendendangkan lagu India sejak tahu orang-orang di kota tidak suka dengan lagu-lagu India, bahkan ada yang sampai gengsi untuk mengaku suka dan tergoda untuk ikut beroyang.
Foto 3x4 milik Masna yang kudapat dari Neni kumasukkan di kantong baju, sesekali aku lirik untuk memastikan saat pertemuan nanti sama dengan orangnya yang asli. Setelah turun dari angkot, kami bertiga menunggu Masna keluar ke jalan raya untuk menjemput kami, diantara kami bertiga tidak ada yang tahu dimana rumah saudaranya yang dikunjungi Masna.
Dari kejauhan terlihat seorang gadis remaja, berjalan sendiri dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Dia mengarahkan pandangannya ke Neni dan tidak berani melihat ke arahku.
“Bung Yommi, ini lho Masna.” Neni memperkenalkan Masna.
Masna masih terlihat enggan memandang ke arahku, bukan karena wajahku menakutkan, tapi karena rasa malunya yang besar.
“Kakak apa kabar?” Tanyanya sambil matanya melihat ke arah aspal jalan.
“Alhamdulillah, kabar aku baik.” Balasku memperhatikan tingkahnya yang malu-malu.
“Ayo kita ke rumah” rumah saudaranya yang dimaksud Masna.
Kami berjalan melewati tanjakan landai sejauh 100 meter dari tempat kami turun dari angkot. Masna berjalan bergandengan tangan dengan Neni, di belakang mereka aku dan Rizal menyusul tanpa banyak bercakap.
Kami disambut dengan gembira oleh kakaknya Masna bersama dua orang anaknya yang masih kecil-kecil.
“Silahkan diminum tehnya” kakak Masna menawarkan minum setelah kami dipersilahkannya duduk.
Kami menyeruput teh hangat dengan santai. Sesaat kemudian Rizal nyeletuk, “Ayo Yom, jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri” dibarengi dengan tawa kecilnya.
Di atas meja disuguhkan kue khas Betawi dan dua bungkus cemilan berbentuk lidi. Rupanya itulah cemilan kesukaan Masna yang sering ia sebut ketika kami berbicara di telepon.
Selang beberapa lama, kami pamit balik ke kosan kami di Rawamangun. Masna juga sekalian minta izin untuk ikut Neni ke kosannya. Ia pun diizinkan kakaknya ikut Neni. Tampak jelas dari ekspresinya yang sangat menaruh percaya pada kami, lebih-lebih Neni adalah teman satu kampung dengan Masna juga teman satu kelasnya di SMA.
Kosan Neni dan kosan kami tidak terlalu jauh jaraknya. Aku dan Rizal sama-sama mengantar mereka berdua dulu ke kosan Neni lalu balik berjalan kaki ke kosan kami. Rasa penasaran yang tertahan kini sudah terpuaskan setelah bertemu langsung dan mengobrol panjang dengan Masna sepanjang perjalanan di atas angkot.
Keesokan hari, kami bertemu dan makan lalapan di dekat kosan Neni. Neni dan Rizal menjadi mak comblang untuk aku dan Masna. Setelah dirasa cukup akrab, Masna memberanikan diri mengajakku jalan-jalan melihat tugu Monas. Pagi-pagi aku kusiapkan diri, memilih pakaian terbaik yang tertumpuk di lemari. Kubuka dompetku yang kuyakin belum terisi sebab masih tanggal tua, hanya untuk memastikan barangkali ada terselip selembar sepuluh ribu yang luput dari penglihatanku. Hasilnya tetap sama, masih kosong. Searah menuju kosan untuk menjemput Masna, aku berjalan melewati mal Arion dan mampir ke kampus untuk menemui keberuntunganku, berharap ada kawan yang bisa kupinjami uang untuk ongkosku ngedate.
Beruntungnya ada senior yang baik hati yang kurasa tidak pernah kosong isi dompetnya sebab keturunan orang berada. Deni namanya. Setelah selesai mengajar mata kuliah panahan sebagai asisten dosen, Deni terlihat sedang santai di bawah pohon sambil membereskan peralatan panahan bekas dipakai anak-anak mahasiswa. Aku menghampirinya dan memulai dengan sedikit basa-basi.
“Den, gue baru dapat kenalan cewek yang datang dari Tegal. Minta diajakin lihat monas, tapi gue lagi bokek.” Jujurku tanpa ragu.
“Apa yang bisa gue bantu, Yom. Mau pakai duit dulu ga?” Tawaran Deni menjadi angin segar di tengah gurun tandus keuanganku. Dia bilang pakai dulu, bukan pinjam dulu. Begitulah gaya bahasa orang yang tepat diamanahkan harta.
“Gue pakai dulu, ya. Ntar gue ganti saat gajian.”
“Udah tenang aja, pakai aja dulu. Mau berapa?” tanyanya.
“Dua puluh ribu aja, cukup buat ngemil dan ongkos busway.” Aku telah menghitung sesuai kebutuhan sekali jalan.
Setelah menerima uang dari Deni, aku pamit dan salaman.
“Terimakasih, Den.”
“Sama-sama. Selamat bersenang-senang, ya Yom.” Ucap Deni memberi dukungan.
Langkahku lebih semangat dan percaya diri dengan adanya sokongan dana pinjaman. Tidak salah jika kaum wanita sering mengutamakan uang hampir dalam segala hal. Bahkan ada yang sembuh dari sakit jika uang telah mengisi dompetnya.
Ongkos busway dari halte Rawamangun ke Monas adalah Rp. 2000; per orang. Masih tersisa Rp. 18.000; untuk ongkos balik dan cemilan. Masna sangat menikmati momen di atas bus dan melihat pemandangan kota sepanjang perjalanan. Meski kami tidak mendapat tempat duduk, kami masih bisa ngobrol santai sambil kujelaskan tentang Jakarta seadanya.
Sesampai di tujuan, kami mampir di pedagang pinggir jalan untuk membeli bekal nongkrong di dalam area Monas.
“Kamu mau minum apa?” tanyaku setelah membuka kotak pendingin minuman.
“Aku yang ini aja.” Dia mengambil satu botol air mineral ukuran tanggung kemudian menyerahkan selembar uang pecahan 50 ribu kepada penjual.
“Biar aku aja yang bayar.” Cegahku.
“Nggak apa-apa kak, kan aku yang ngajak jalan duluan.”
Dalam hati agak berat membiarkan dia membayar minumanku. Biarlah uangku nanti bisa dipakai untuk sesuatu yang bersifat darurat, misalnya untuk makan besok pagi di kosan atau untuk ongkos prin tugas kuliah.
Setelah berkeliling di beberapa spot, aku mengajak Masna duduk di taman dan dia memilih duduk di atas rumput di bawah pohon rindang.
Masna iseng menelpon Neni untuk berbagi kebahagiaannya bisa melihat Monas dan bisa jalan bersamaku.
“Kita sedang duduk di taman Monas, lho. Suasananya enak, ramai orang yang datang.” Ungkap Masna penuh semangat.
“Ahhhh... aku mau...” Neni terdengar iri dari suara handphone yang di-loudspeaker.
“Makanya, ajak bojomu ke sini.” Keduanya saling tertawa.
“Bojoku lagi sibuk, lain kali aku bakal bikin kalian iri, hehehe.” Balasnya.
Kembali ke kosan menggunakan angkutan busway, aku ikut turun untuk mengantar Masna masuk ke kosan Neni.
“Terimakasih, ya kak. Hari ini aku senaaang bangat sudah diajak keliling Jakarta.” Masna terlihat puas dan tersenyum padaku.
“Besok-besok aku ajak ke tempat lain lagi, kamu yang tentukan tempatnya.” Sahutku.
Sepanjang jalan kurasakan getaran yang muncul di hatiku merubah cara pandangku dengan orang-orang di sekitar. Jalanan macet, teriakan dari berbagai arah, kesibukan kota yang melelahkan, bagiku seperti simponi orkestra versi Bollywood. Ingin rasanya kumenari di antara antrian panjang mobil di lampu merah, berputar-putar di tiang telpon atau bernyanyi di atap mobil yang berjejer. Indahnya kasmaran, pekikku.
Selama satu pekan di Jakarta, aku telah mengajak Masna ke banyak tempat. Anehnya lagi, disaat kondisi finansialku seret, entah dari mana datangnya setiap kali mengajak Masna jalan, ada saja uangnya, seakan semesta mendukung kisah kami.
Hari-hari berlalu, pekan berganti bulan, sudah setengah tahun Masna menjalani kuliahnya di Kairo. Setiap satu kali dalam sepekan, Masna punya waktu luang melakukan obrolan denganku di sela kesibukannya belajar dan tugas kampus. Saat itu sudah marak orang menggunakan handphone Blackberry, tapi aku hanya bisa menghubungi Masna melalui Yahoo Mesenger di warnet dekat kosan.
Dalam kesehariannya, bisa kurasakan Masna kadang memaksakan waktunya untuk chatting denganku. Aku memahami keadaannya, hingga aku sampai pada sebuah pertimbangan dan berniat memberinya kebebasan. Bebas dari rasa terbebani oleh rindu yang terlarang. Ya, bagiku setelah menyadari ini aku rasa lebih baik jika kami fokus dulu ke kuliah masing-masing. Untuk itu, dengan mengumpulkan seribu keberanian dan seikat sikap tega, aku sampaikan padanya agar kami menyudahi hubungan kami.
“Dek, ini bukan hal mudah bagiku untuk mengatakannya. Aku mau kamu fokus dengan kuliahmu. Aku tidak ingin hubungan kita menjadikanmu terganggu belajarnya.” Berat rasanya untuk melanjutkan kalimat inti.
“...... kita temanan aja ya.”
Lama dia terdiam. Layar kamera ditutupnya menggunakan buku, aku masih menunggu dia muncul kembali di monitor komputer.
“Kakak mau kita putus?” Dia membuka kembali webcamnya, wajahnya tertunduk dan suaranya terdengar berat dibarengi isak tangis. Aku tidak melanjutkan berkata apa-apa dan membiarkan dia menuntaskan rasa sedihnya.
“Sudah ya, kak. Aku lanjut ngerjain tugas kuliah, assalamu’alaikum.”
Belum sempat aku membalas salam, dia menyudahi obrolan denganku.
Rasa penyesalanku karena belum sempat menjelaskan semua alasannku menyudahi hubungan kami. Namun apapun alasanku baginya tetap sama, aku telah menyakiti hatinya.
Aku kembali dengan berbagai aktivitasku di kampus, belajar ilmu olahraga yang nanti bakal jadi apa setelah lulus aku tidak tahu. Aku hanya mengerahkan semua kemampuan yang kupunya untuk menuntaskan sisa masa kuliahku dua semester lagi.
Kembali aku seruput segelas kopi hitam di bawah pohon beringin di depan gedung Fakultas Pendidikan usai kuliah psikologi pendidikan. Mahasiswa menyebut tempat tongkrongan ini sebagai DPR, Di bawah Pohon Rindang. Kemarau menjadi lebih indah saat daun-daun pohon beringin berguguran, menambah cita rasa kopi seakan diseruput di Eropa saat musim gugur.
Aku sudah melupakan tentang Masna, tapi tidak dengan kenangannya. Sebuah foto Masna yang berdiri di tepi sungai Nil dengan angel sisi jembatan di sore hari, muncul di layar hape kamera VGA yang baru kubeli dari honor menjadi panitia O2SN yang diadakan kampus UNJ. Foto yang dikirim oleh Masna sebelum hubungan kami berakhir.
Dari arah masjid kampus, aku melihat Neni berjalan ke arahku, sepertinya dia sengaja meghampiriku ingin menyampaikan suatu berita. Oh ya, Neni juga melanjutkan kuliahnya di kampus yang sama denganku, dia kuliah di Fakultas Pendidikan.
“Halo, Bung Yommi. Gimaku kabarnya hari ini?” tanyanya setelah mengambil tempat duduk di sebelahku.
“Baik”, jawabku dengan nada pelan. Semenjak dia putus dengan Rizal, aku mencoba menjaga jarak dengannya, mencoba memberi kesan kalau aku tidak akan mencoba mendekati mantan kekasih temanku sendiri.
“Bung, Masna ada di Jakarta sekarang.” Ucapnya to the point.
Aku menoleh ke arahnya, “Oh ya? Dia lagi liburan ya?”
“Iya, mau ketemuan nggak? Dia sekarang sedang di asrama haji Pondok Gede.” Jelas Neni.
Aku menghabiskan sisa kopi yang terpisah dari ampasnya setelah kumiringkan gelasku empat puluh lima derajat. Sesudah menyampaikan berita itu, Neni memberikan nomor baru Masna padaku dan memintaku untuk menemuinya. Aku mengangguk pelan, dan dia pun bangkit dari tempat duduknya menuju kelas.
“Kakak apa kabar?”
Ucapan itu yang sangat berkesan bagiku hingga sekarang. Dia menyambutku dengan sangat ramah, berbicara dengannya menjadikanku serasa seorang raja.
Pertemuan dengan Masna di asrama haji, Pondok Gede meninggalkan kenangan baru bagiku. Bukan tentang rasa yang kembali hadir antara aku dan dia, tapi tentang kesan pertama yang kurasakan waktu aku melihatnya lagi setelah berpisah lama. Dia nampak lebih berwibawa sebagai muslimah mahasiswa Al Azhar Kairo. Selama pertemuan itu, aku hanya bisa menunduk tanpa berani memandang wajahnya lebih lama. Suaranya lebih lembut dari sebelumnya, ratusan ayat-ayat Al Quran telah membekas di jiwanya. Menjadikannya pribadi anggun bersahaja sekaligus tenang berwibawa.
Aku mengaguminya, namun tak berani menampakkan suka di hadapannya, sebab saat pertemuan itu dia mengatakan padaku bahwa ia sudah dipinang dan akan segera menikah setelah menyelesaikan tugas akhir kuliah. Aku ikut bahagia, itu pertanda bahwa dia telah move on dariku dan aku juga percaya bahwa dia telah memaafkanku.
Kututup lagi buku doa itu. Butiran air yang tersisa di daun memberikan nuansa khas selepas hujan. Seutas cerita
tentang Masna telah menempati ruang tersendiri dalam lembaran kenanganku.



