Kunciran Indah, terdengar familiar saat Angga membaca alamat pengirim pada sebuah paket. Tertulis lengkap nama dan alamat paman Angga yang tinggal di Tangerang, tepatnya di Jl. Sibi 1, Kunciran Indah. Sekelebat bayangan tentang masa lalu muncul dari ruang memori. Rentetan kenangan saat berpetualang di rimba Ibu Kota Negara, ingatan Angga langsung tertuju pada sosok yang pernah memoles kuas penuh warna dan mengisi sebuah ruang kosong di hatinya. Dia adalah sosok yang pernah memberinya arti nilai sebuah optimisme. Mampu mengubah sudut pandang Angga yang selalu melihat semua hal dari sisi pesimis. Dia adalah Hilda, seorang gadis belia yang lucu namun elegan.
Di Tangerang sana, Angga mengetik
pesan singkat dari handphone-nya, menanyakan kesiapan Hilda untuk
menjadi kekasihnya. Saat cintanya diterima, Angga berteriak kegirangan dalam
hati. Momen saat Hilda mengajaknya ke sebuah toko buku
untuk menyatakan menerima pinangan cintanya, tersimpan rapi dalam galeri
ingatannya.
“Mulai sekarang, nama kamu Ucrut dan aku Ucrit.” Angga
mungkin lupa kapan tepatnya tanggal dan hari ketika Hilda mengatakan itu. Namun,
setiap ada pemicu, tergambar jelas wajah dan bibir itu saat melontarkan kalimat
manis yang membuat Angga merasa benar-benar menjadi seorang laki-laki.
Di kontrakan yang ramai ditempati oleh saudara dari kampung, Angga
selalu dituakan dan dihormati setiap keputusannya. Di sisi lain, ia juga sering
menjadi bahan candaan adik-adiknya jika itu berhubungan dengan persoalan cinta.
Angga yang tertidur
pada suatu malam, tidak mendengar nada telepon masuk di handphone-nya. Yanto, salah seorang saudaranya melihat nama yang muncul di notif,
membangunkan Angga yang sedang tertidur.
“Bang, ada telepon masuk, tuh. Dari Hilda.”
Sekonyong Angga bangkit dan segera menekan tombol warna hijau.
“Halo, sayang.” Angga sumringah. Melihat raut bahagia itu, Yanto
mencibir.
“Ciyeee.. Sayang. Pacar baru ya, Bang?” Goda Yanto.
Angga bangkit dan keluar dari kamar tanpa
berkata. Ia duduk di bale depan kontrakan.
“Biasakan salam, dong. Jangan halo aja.” Hilda mengingatkan Angga.
“Iya, lupa. Sorry sayang.” Angga mengucap kata sayang dengan penuh
penghayatan.
“Aku mau chatting sama kamu, pengen
ngobrol banyak.” Pinta Hilda.
“Ya sudah, lewat telepon aja.” Angga lebih suka mendengar suara Hilda.
“Di rumah lagi banyak keluarga yang
ngumpul, nggak enak kedengaran sama mereka.”
“Ok. Aku ke warnet sekarang.” Angga menurut.
“Jauh nggak warnetnya?”
“Dekat, kok. Aku
jalan sebentar juga nyampe.”
“Ya udah, jangan matiin hape-nya ya. Aku takut kamu ada apa-apa di jalan. Ini kan
sudah larut.”
Pukul 12 malam, suasana di Kunciran
Indah sudah sepi. Berbeda dengan keadaan di pusat Kota Jakarta, orang-orang
seakan tidak tidur. Wajar Hilda mengkhawatirkan Angga
yang jalan sendirian di tengah malam.
Suara langkah Angga membelah keheningan. Melewati paving block
sepanjang gang menuju warnet yang berada di wilayah seberang. Berjalan kaki
sekitar 10 menit dari kontrakannya.
“Masih jauh, nggak?” Hilda memastikan.
“Sebentar lagi nyampe.” Angga belum separuh jalan, kiri kanan jalan
adalah kebun kosong dan pohon-pohon pinang yang tinggi dan berjajar.
“Dari tadi katanya sebentar lagi
nyampe, emang sejauh mana tempatnya?” Hilda mulai cemas.
“Hmmm... baru separuh jalan. Ini aku percepat jalannya.”
Hilda terkesiap. Buru-buru dia
meminta Angga membatalkan perjalanannya.
“Nggak usah ke warnet, kamu balik aja.”
“Tanggung, ini sudah keluar dari
gang.” Angga masih melanjutkan langkahnya.
“Aku nggak jadi chatting, pokoknya kamu balik. Pulang ke
kontrakan, sekarang.” Hilda memaksa.
Langkah Angga terhenti. Hening seketika. Lampu di teras mini market terang redup. Angga
sedikit merinding.
“Ya sudah, aku balik sekarang. Kamu nggak apa-apa nggak jadi chatting?”
tanya Angga berharap Hilda tidak kecewa.
“Besok aja chatting-nya, aku kabarin lagi besok.”
“Ok, sayang. Lanjut besok ya. Kamu tidur.”
Hilda menutup telepon setelah mengucap salam.
Angga mempercepat langkahnya, bahkan lebih cepat saat dia berangkat
tadi.
Sepekan berlalu, Angga benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Sikap
optimis yang tiba-tiba muncul bak membalikkan telapak tangan, peyebabnya tidak
lain karena Hilda. Pernah
pada suatu sore, mereka berdua bertukar cerita tentang cita-cita dan masa
depan.
“Ucrut, kamu nggak pengen coba jadi
penulis?” Hilda membuka obrolan setelah menyeruput teh
botol.
“Aku sejak kecil pengen jadi
penulis. Tapi, aku nggak yakin dengan kemampuanku.”
Hilda menatap Angga. Hilda memahami
sesuatu dari Angga, setiap kali berbicara tentang sebuah kesempatan atau
tentang potensi, Angga pasti menyelipkan kata “tapi” di setiap akhir kalimat.
“Tahu nggak apa yang aku selau
perhatikan dari kamu?” Hilda memancing perhatian Angga.
“Apa?”
“Kamu tuh setiap kali ngomong, pasti
ada tapi-nya. Coba kamu optimis. Segala sesuatu tidak pernah kamu tahu sebelum
kamu mencobanya.”
“Aku tahu, tapi_”
“Tuh, kan. Tapi lagi.” Hilda memotong ucapan Angga.
Angga memandang Hilda dengan takjub disertai rasa sayang yang
meningkat 50%. Angga
tersadar akan sesuatu. Sesuatu itu adalah “seseorang”. Seseorang yang selalu mengingatkannya.
Hilda telah menjadi orang pertama yang membuka matanya. Hilda telah hadir dan
merubahnya sejak saat itu. Hingga kini Angga menaruh hormat yang besar terhadap
Hilda atas “jasanya”.
Setiap awal pasti ada akhir, setiap start pasti ada finish. Yang
tidak disangka oleh Angga adalah hubungannya dengan Hilda berlangsung hanya
dalam waktu sekejap.
***
Sebuah motor Vespa hitam diparkir di bawah pohon Nangka depan pintu kontrakan.
Vespa yang dibeli Angga
dengan harga teman dan dicicil setiap gajian dari Edo, rekan latihan Angga di
pelatda kempo DKI. Bersama motor ini, Angga kerap kali menerjang banjir saat
musim hujan tiba dan membuat Yeni, nama yang disematkan Angga untuk motornya,
terbatuk-batuk dan mogok karena mesinnya kemasukan air. Sore ini, Angga mengengkol motornya dan siap berangkat latihan di daerah
Kwitang.
Mengendarai motor Vespa memiliki
sensasi tersendiri. Nuansa romantisme begitu kental terasa saat menarik pedal
gas melewati jalur-jalur sepanjang jalanan kota. Romantisme itu akan terasa
lengkap jika jok belakang diisi oleh seorang perempuan yang memiliki
ketertarikan yang sama terhadap motor antik Vespa. Bagi Angga, romantisme itu tinggal
kenangan. Semenjak ia dan Hilda resmi tidak berhubungan pacaran lagi.
Di suatu pagi yang cerah, di saat Angga merasa sedang di puncak
klimaks jatuh cinta, sebuah SMS masuk dari handphone-nya.
“Assalamu’alaikum. Angga, lagi
apa? Aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah ya.”
Angga membaca layanan pesan singkat
itu penuh tanda tanya. Biasanya Hilda akan menyapanya
dengan sapaan khusus mereka, Ucrut. Angga membalas. Menekan tombol-tombol
handphone dengan optimis.
“Waalaikumussalam. Aku tidak punya alasan untuk marah sama kamu, Ucrit
sayang. Emangnya mau ngomong apa?”
Pesan terkirim. Babak selanjutnya adalah Angga membaca deretan huruf
dengan lesu.
“Langsung saja, aku mau kita sudahi hubungan kita. Aku telah
dijodohkan dengan pria pilihan orang tuaku.”
Angga merasa Hilda pasti sedang
bercanda. Buru-buru Angga mengetik lagi.
“Bcnda km. Km
ga syng aq lg?”
“Aku serius, Ngga. Ini di luar
kehendakku. Abi dan Umi telah memilih calon untukku.”
Angga terdiam. Mencerna apa yang sedang terjadi. SMS berisi
sebuah keputusan yang Hilda ambil sebagai bentuk ketaatan pada orang tua,
mengubah kebahagiaan yang dirasakan Angga terjun bebas ke lembah nestapa.
Tidak ada balasan dari Angga. Sudah dicobanya mengetik sejumlah pertanyaan namun pesan tidak bisa terkirim.
Setiap kali ia
mengirimnya ulang, sebuah tanda seru muncul di ujung teks. Ternyata pulsanya
habis.
“Angga, aku harap kamu bisa
memahami keadaanku saat ini. Keputusan yang aku
ambil mungkin akan membuatmu kecewa dan sakit hati. Maafkan aku. Kita masih bisa jadi teman. Semoga
kamu tidak membenciku setelah ini.”
Hilda resah. Cemas. Khawatir terjadi
sesuatu dengan Angga. Lama ia menunggu balasan dari Angga namun tidak ada satu
pun SMS yang masuk. Hilda mencoba menelpon namun tidak ada jawaban dari
Angga. Hilda semakin kalut. Hingga sore hari, di tempat latihan, Hilda melihat
Angga tiba di parkiran motor lalu buru-buru menghampirinya.
“Kenapa kamu nggak balas SMS-ku? Kamu marah sama aku?” Hilda menarik bahu Angga
dan menatapnya tajam.
Angga memalingkan wajah. Menyibukkan diri memarkir motor.
“Jawab aku, Ngga.” Hilda memaksa.
“Aku harus jawab apa? Kamu pikir dengan kondisiku saat ini aku bisa
membatalkan perjodohanmu? Aku punya hak apa atasmu sehingga berani membantah
keputusan yang kamu ambil?” Angga merasa dirinya bukan tandingan bagi laki-laki
yang telah ditetapkan untuk Hilda. Angga tahu satu hal, pria yang dimaksud pasti berasal dari keluarga mapan.
Sedangkan Angga, yang makan di warteg setiap masuk
pertengahan bulan saja harus bon dan bayar saat tanggal gajian.
“Setidaknya, kamu balas SMS-ku.
Kamu bikin aku cemas, tahu nggak.” Bergetar suara Hilda.
“Pulsaku habis. Apa pedulimu atas
perasaanku?” Angga berlalu menuju tempat latihan.
Hilda berdiri mematung. Menatap Angga yang semakin menjauh.
Sejak hari itu, rutinitas latihan berjalan seperti biasa, namun
Angga mengalami krisis kepercayaan diri. Angga juga menyadari sesuatu yang
hilang. Ia kehilangan sosok yang selama ini membuatnya nyaman. Tak ada lagi bait-bait
puisi yang akan selalu ia kirim setiap pagi. Tak ada lagi dering sleep call.
Tak ada lagi mimpi bersanding di pelaminan. Tak ada lagi… Ah, mimpi Angga
terlalu jauh. Bukankah kedekatannya
dengan Hilda baru sebentar. Tidak sampai seumur jagung.
Angga mencoba berdamai dengan luka. Melalui hari-hari dengan berjuang melepas rindu yang tersisa dan senjumput
cinta yang menyiksa. Sekuat
tenaga ia berusaha melupakan, meski wajah itu masih terbayang, menari-nari di pelupuk
ingatan. Saat melewati mal yang menjadi tempat bersejarah peresmian hubungan
mereka dulu, dadanya sesak. Ditariknya pedal gas kencang-kencang, menerobos di
sela-sela kendaraan yang macet. Mal itu semakin
menjauh, puing-puing kenangan ikut terseret dan berserakan di atas aspal. Angga
juga dikuatkan oleh sebuah quote yang diposting oleh Putra, rekan
latihan Angga yang hubungannya juga kandas karena backstreet. Putra
menulis di akun Facebook-nya; “Time heals every wound.” Angga percaya, luka
itu akan sembuh seiring berlalunya denting jam. Kenangan yang ia coba hapus dari catatan
ingatan akan pudar setiap kali senja menghilang.
***

Komentar
Posting Komentar