Langsung ke konten utama

Pupus

Kopi hitam ini.. Menambah panjang malam galauku.

Harusnya kuseduh untuk menemani obrolan panjang bersamamu, nyatanya...

Hati yang kuharap akan berlabuh pada dermaga cintaku, merubah haluan pada arah yang lain.

Headset retak yang tersambung dengan bungkusan plastik lakban, menyajikan lagu-lagu sendu pelipur asa yang kandas.
Kasur lusuh dengan seperangkat bantal dan guling, siap menampung seluruh beban ragaku untuk kurebahkan segala risauku.

Hanya malam, setidaknya dalam lingkar khayal, aku berselancar bebas dengan imaji nakal tentang dirimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Senja di Tepi Nil

  Wuuut... wuuu t ...   Nada g e t a r ponsel d i a t as meja kayu y a ng m u l ai l a puk i tu m en g usik l a m unanku. Di l uar, hu j an y a ng sej a k zu h ur t a di m eng e pung Jakar t a m u l a i m en a r ik d i ri, m en y isak a n ar o m a aspal basah d a n uap pan a s yang na i k da r i sel a -sela gang s e m p i t Karet T e ngsin. Aku m er a ih ben d a p i p i h itu dengan m alas. Sebuah p e san si n gkat m asuk, m em an c ark a n c a haya b i ru y ang k o n t ras deng a n remang ka m ar kosku.   “Selamat! Anda me n ang und i an BR I Ha d i a h B e runtun berupa saldo sebesar Rp20.000.000. B al a s pesan i n i un t uk k l a i m...”   Aku mend e ngus pelan sebe l um sempat m eny e l e sai k an b a c a an i t u. "Und i an d a ri Hongkong," ke t usku kesa l . Di z a m an di m ana har a pan se r i n g k a l i m en j adi b ar a ng dag a ngan, p e n i p u an sem a c a m i n i t er a sa s ep e rti e j e kan y ang ...