Langsung ke konten utama

KAMU HARUS LEBIH HEMAT Part II

Beberapa teori yang saya baca, lalu saya cocokkan dengan ilustrasi analisa saya selama jelang beberapa tahun terakhir, akhirnya saya bisa menyimpulkan beberapa hal yang menjadi penyebab kenapa bangsa Indonesia jauh tertinggal dari bangsa-bangsa barat dan beberapa bangsa di Asia. Penyebab utamanya adalah masalah waktu dan penggunaannya.

Pertama, bahasa. Bangsa-bangsa barat menggunakan bahasa inggris untuk percakapan sehari-hari dan berbisnis. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi mereka mendapatkan informasi, dibandingkan dengan kita yang memang harus belajar dulu bahasa mereka, dan itu membutuhkan waktu. Kamu bisa hitung sendiri perbedaan suku kata dan waktu yang dibutuhkan dalam pengucapannya.; Sun (satu suku kata, dalam bahasa Indonesia diucapkan dalam empat suku kata; ma-ta-ha-ri), Luck (ke-ber-un-tung-an), Rest (Is-ti-ra-hat), Than (Ke-mu-di-an), dst. Dalam mengucapkan kata aslinya, kita butuh waktu yang lebih hemat dibanding dengan kalau diartikan kedalam bahasa Indonesia. Bisa dihitung juga dalam waktu yang panjang. Misalnya, kalau kita mengajar menggunakan bahasa Indonesia membutuhkan waktu 1 jam, sementara dengan materi yang sama diajarkan dalam bahasa inggris, akan jauh lebih hemat sekitar setengah jam. Bandingkan lagi dalam kurun waktu seminggu, sebulan, atau setahun, berapa rentang waktu yang didapat?

Kedua, musim. Ketika kita dihadapkan pada keadaan yang darurat, kita akan memutar otak dengan paksa untuk mencari solusi. Begitu pula dengan keadaan di negeri barat dengan empat musim. Bayangkan ketika musim dingin tiba, aktivitas berkurang, sumber penghasilan pun berkurang. Untuk mengatisipasi hal tersebut, mereka harus menyimpan cadangan kebutuhan mereka. Ketika alam memberi dukungan untuk beraktivitas, mereka berupaya maksimal untuk persediaan selama beradaptasi dengan musim-musim lainnya. Beda dengan negeri kita yang mataharinya selalu ada sepanjang tahun (Indonesia is paradise), kita tidak perlu repot-repot memutar otak untuk beradaptasi dengan cuaca dan lingkungan, karena semuanya sudah tersedia dari alam. Itulah mengapa kita dianggap memiliki otak yang harganya mahal sebab masih orisinil karena jarang dipakai untuk berpikir keras. Karena alam telah menyediakan semuanya, kita tidak butuh usaha maksimal untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan. Hal inilah yang menghadirkan budaya malas dalam kehidupan kita. Memang, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Ketiga, motivasi. Ini tidak perlu dibahas panjang lebar, so'alnya penulisnya sendiri juga sedang digerogoti oleh ke-mines-an motivasi :D
       Tapi yang perlu diketahui adalah bahwa bangsa barat mau membayar mahal untuk sebuah seminar motivasi, sementara kita sendiri, bahkan dikasih gratis pun kita mengulur-ulur waktu, bahkan sampai tidak jadi (terkadang penulis juga pernah mengalaminya).

Nah! Sahabat, apa solusi yang bisa ditawarkan dalam menghadapi hal semacam ini? Saya sendiri memiliki beberapa trik yang tidak kalah bagusnya dengan yang dilakukan oleh Stalone. 
       Kembali pada permasalahan waktu, maka trik yang saya punya pun berkaitan dengan penghematan penggunaan waktu. Yaitu intensitas. Penggunaan waktu seefisien mungkin bisa kita mulai dari hal-hal yang kecil. Contoh; Dalam kendaraan roda empat, baik itu milik pribadi maupun milik rame-rame, kalau selama ini kita terbiasa dengan mengorok sambil memasang earphone, mulai sekarang manfaatkan waktu untuk membaca. 'kan lumayan jika perjalanan ke tempat kerja atau kuliah membutuhkan waktu sampai 1 jam, sudah berapa halaman buku yang kita baca. Makanya, dalam tas selalu tersedia bacaan-bacaan yang kita minati (tapi bukan komik si Sinchan ya).Selain di bus, saat dalam toilet pun disarankan lebih baik sambil membaca, ini berpengaruh bagus dalam hal memahami isi baca'an, sebab konsentrasi yang tidak terganggu dalam keadaan sepi, fokus, dan.. ahhh.. kamu pikir sendiri deh, kalo lagi pup :D
       Contoh lain adalah menghemat waktu kita untuk menonton acara-acara televisi yang kurang bermanfaat. Misal saja, hindarkan tanganmu untuk menyentuh tombol remote di angka 10 yang berisi tayangan sinetron tidak berkualitas, tapi arahkan jari kamu untuk menekan angka 2 atau berapa lah angka chanel tv-mu yang berisi tentang berita-berita. Yang perlu diingat, jangan sekali-kali kamu menontot berita-berita kriminal, sebab, menurut hemat penulis yang menyukai hal-hal positif, dalam rentang waktu yang tidak panjang, tayangan-tayangan negatif (dan yang paling berbahaya adalah berita kriminal) akan mempengaruhi pikiran-pikiran negatif pula. Ingat! Good in good out. Apa yang kita konsumsi, itu yang akan keluar lewat ucapan dan perilaku kita.
       Masih mau contoh lagi yang lain?? Sekarang giliran kamu lah, sobat. Sharing ide mu juga boleh kok, diketik aja di kotak kecil yang tersedia buat kamu yang mau komen :D

Sahabat, masih banyak faktor-faktor lain yang belum sempat saya bahas disini. Namun, seiring waktu, sejalan dengan penelitian yang masih saya lakukan, saya janji, tulisan ini akan saya sempurnakan dikemudian. 
Semoga bermanfaat..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Senja di Tepi Nil

  Wuuut... wuuu t ...   Nada g e t a r ponsel d i a t as meja kayu y a ng m u l ai l a puk i tu m en g usik l a m unanku. Di l uar, hu j an y a ng sej a k zu h ur t a di m eng e pung Jakar t a m u l a i m en a r ik d i ri, m en y isak a n ar o m a aspal basah d a n uap pan a s yang na i k da r i sel a -sela gang s e m p i t Karet T e ngsin. Aku m er a ih ben d a p i p i h itu dengan m alas. Sebuah p e san si n gkat m asuk, m em an c ark a n c a haya b i ru y ang k o n t ras deng a n remang ka m ar kosku.   “Selamat! Anda me n ang und i an BR I Ha d i a h B e runtun berupa saldo sebesar Rp20.000.000. B al a s pesan i n i un t uk k l a i m...”   Aku mend e ngus pelan sebe l um sempat m eny e l e sai k an b a c a an i t u. "Und i an d a ri Hongkong," ke t usku kesa l . Di z a m an di m ana har a pan se r i n g k a l i m en j adi b ar a ng dag a ngan, p e n i p u an sem a c a m i n i t er a sa s ep e rti e j e kan y ang ...