Langsung ke konten utama

Setiap Saat, CINTA

             Mengerti bahwa cinta, atau jatuh cinta adalah proses yang terjadi dalam pikiran, bukan proses yang terjadi di dalam hati yang kita tahu itu adalah liver, membuatku terus mengeksplorasi berbagai inovasi kreatif yang memungkinkan pasanganku selalu mencintaiku setiap hari. Satu contoh sederhananya adalah memberinya kejutan-kejutan kecil, apa saja yang ia sukai, siapa yang tidak suka kejutan? Terlebih jika mendapat apa yang menjadi kesukaannya.

Yup!
          Terinspirasi dari film komedi romantis yang dibintangi oleh Adam Sandler, 50 First Dates, kisah seorang pria yang berhenti jadi player (play boy) setelah jatuh hati pada seorang wanita. Ia mampu membuat wanita itu jatuh cinta setiap hari meski dia tahu bahwa wanita itu mengalami gangguan pada ingatan, dimana setiap pagi ia tidak bisa mengingat kejadian yang ia alami sehari sebelumnya. Pernah nonton? Yang jelas aku memutar ulang hingga puluhan kali dari laptopku.
            Kisahku sendiri, adalah cerita hidup dan cinta yang aku jalani bersama seorang wanita utama yang telah ditakdirkan untukku menjadi pasangan hidup yang telah memberiku seorang puteri cantik. Sadar akan hal bahwa cinta akan berkurang seiring waktu, aku tidak mau menyerah. Aku tidak mau waktu mengalahkan performa romantisme kami, aku tidak mau waktu melunturkan semangat juang menggapai keluarga sakinahku. Karena aku menyadari bahwa lelaki sejati adalah lelaki yang bisa berlaku baik pada keluarganya.
             Cinta, bisa kuhadirkan setiap hari. Cinta, bisa terjadi setiap saat. Meski tidak selalu akur dan damai, karena terkadang cinta butuh hal-hal lain yang menjadi bumbu-bumbu cinta, halah! Cemburu, rindu, amarah, atau sekedar tidak perhatian, bisa saja terjadi dalam sebuah rumah tangga. Yang membedakan sebuah keluarga dengan yang lainnya adalah bagaimana pasangan itu menyikapinya. Insya Allah, dengan kekuatan iman dan atas dasar cinta karena Allah, semua bisa teratasi. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

Lusi, Gadis Pantry

 Di balik pintu kaca pantry yang silau oleh bayangan lampu dari lobi, ada sosok seorang gadis belia duduk anggun berbalut seragam kemeja putih dan celana hitam, wajahnya yang mungil dan cerah mampu mengalihkan pandangan beberapa orang pria yang sedang memasuki pintu lobi atau yang sedang menuju pintu lift apartemen. Sesekali datang menggoda anak-anak cleaning servis atau karyawan maintenance diwaktu luang demi menarik hati si gadis belia.  Sementara di belakang sana, di sebuah ruang kecil bersebelahan dengan ruang pantry, ruang toilet untuk tamu apartemen, ada seorang remaja laki-laki sedang gelisah dilanda kasmaran dengan gadis pantry. Hari ini ia berencana mengutarakan perasaan yang ia pendam sejak  pertama mengenalnya.  Setangkai bunga mawar plastik berwarna merah yang ia pilih di pasar Mayestik, Jakarta Selatan, untuk persiapan nembak gebetannya lengkap dengan secarik kertas berisi puisi. Di depan kaca toilet, ia berbicara dengan bayangannya berulang-ulang mengha...