Langsung ke konten utama

Sukses itu, Proses

Tergerak untuk tahu rahasia orang-orang sukses? Itu adalah sebuah tanda bahwa kita memang benar-benar ingin sukses. Semua orang memang ingin sukses, tapi ukurannya masing-masing berbeda. 

Ukuran seberapa besar kita ingin sukses, katakanlah sukses itu dalam bentuk kaya, adalah diukur dari seberapa besar keinginan kita untuk berubah, dan perubahan itu diukur dengan seberapa mampu kita untuk memulai atau bergerak. Hijrah atau berpindah dari zona nyaman ke arah sesuatu yang menantang dan memicu kemalasan adalah mutlak dilakukan untuk sebuah perubahan. Perubahan yang kumaksud tentu saja ke arah yang mendukung tercapainya sebuah cita-cita.

Did you know? Sukses memiliki sebuah perangkat yang sistematis, yang jika salah satu tidak dilewati atau dilaksanakan, sukses itu akan tertunda. Menurutmu perangkat yang kumaksud itu seperti apa?

Ibarat mendaki sebuah gunung yang di puncaknya terdapat sesuatu yang kita mau, sebuah keharusan adalah kita mesti melewati jalan-jalan yang rumit, sempit, licin, atau bahkan berjurang. Hidup bukanlah untuk bermalas-malasan dalam kesenangan sesaat yang menyita waktu yang sangat amat berharga. Kenyamanan sesaat hanyalah perangkat malas yang menguras secara perlahan keberanian dalam diri yang kita kenal dengan ambisi. Ambisi merupakan sinergi antara cita-cita dan harapan. Sikap malas adalah wujud dari pribadi yang kurang memiliki visi dan misi hidup yang jelas. Hidup tanpa adanya harapan itu hampa.

Orang-orang sukses melakukan apa saja yang diperlukan untuk sukses meskipun itu tidak sesuai yang diinginkannya, hanya karena itu sebuah keharusan, zona nyaman perlu ditinggalkan. Contohnya?

Orang kaya memanfaatkan uangnya untuk menghasilkan uang, bukan sekedar untuk menciptakan kenyamanan dan meraih kesenangan. Investasi adalah cara orang kaya membelanjakan uang mereka, mereka tidak langsung membeli barang-barang mewah dan bermerk yang menurut pemahaman sebagian besar dari kita adalah sebagai simbol strata sosial. 

Terburu-buru adalah perusak. Lihat saja di sekitar kita, demi sebuah gadget canggih, jalan kredit pun dicapai. Jika menuruti nafsu saja tanpa pengetahuan yang benar tentang ilmu menjadi kaya akan tersiksa pada akhirnya. Menderita diawal tapi jaya diakhir perlu diterapkan. Caranya, penghasilan sekarang disisihkan untuk sebuah investasi, bukan untuk menyicil barang kreditan. Saranku, belilah sesuatu yang sesuai keadaan finansial dengan cara cash, no credit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Namaku Ucrit dan Kamu Ucrut

  Langkah Hilda terhenti pada sebuah rak koleksi buku Teknik Industri , ia mengambil sebuah buku lalu membukanya di halaman bagian tengah. Disodorkannya buku tersebut ke arah Angga, lelaki yang datang bersamanya ke toko buku ini. Hilda meminta Angga memperhatikan sebuah gambar. Keterangan dalam gambar itu menerangkan tiga prosedur produksi; input-proses-output . “Lihatlah di bagian gambarnya, kamu dan aku sekarang berada di tahap ini,” telunjuk Hilda mengarah pada sebuah tulisan “proses”. Angga memandang Hilda dengan kening ditekuk. “Apa maksudmu, aku belum paham?”   “Aku tahu kamu orangnya pintar, Ngga. Kamu ‘kan suka nulis puisi, hal-hal seperti ini aku yakin kamu paham.” Sudah setahun Hilda mengenal Angga dan dia percaya bahwa Angga orangnya jenius. Hanya saja, menurut penilaiannya, Angga selalu melihat sesuatu dengan sikap pesimis. Cerita tentang Angga yang pesimis berbalik 180 derajat setelah dekat dan menjalani hubungan bersama Hilda. Angga berpikir sejenak, menc...