Langsung ke konten utama

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.”

Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?”

Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean.

Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.

 Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office, bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen.

Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimbangkan tempat tinggalku yang jauh di Tangerang Selatan, hari pertama bertemu Dafin aku langsung putuskan untuk tinggal bersama di kosannya yang sederhana di bilangan Karet Tengsin, dekat dengan tempat kerja.

“Bacot, loe,” balasku tak mau wibawa kejantananku direndahkan, terlebih oleh Dafin yang ketampanannya 11 12 denganku.

Dafin tak terusik sedikitpun. Dia hanya fokus menyantap gado-gado yang dibelinya di warung tegal mbak Sri.

“Mau kemana? Tumben loe wangi amat.”

 Parfum yang kubeli dari minimarket sehabis gajian kemarin, baru kupakai pagi ini.

“Mau tahu aja atau mau tahu banget?” Aku tidak langsung menjawab, memancing perhatiannya yang fokus menatap piring gado-gado.

Dafin terus mengunyah tanpa berkata. Dia hanya menunggu jawabanku. Karena dia tahu aku akan selalu senang menceritakan padanya setiap ada sesuatu yang membuatku excited. Wangi parfum itu pertandanya.

Pagi ini aku mau bertemu dengan Masna yang sudah dua tahun melanjutkan kuliah dengan beasiswa penuh di Kairo, Mesir. Waktu libur yang tidak terlalu panjang, masih ia sempatkan diri datang ke Jakarta meski hanya dua hari.

“Gue dapat kabar dari Neni, teman kampus gue, bahwa si Masna sedang di Jakarta sekarang. Jadi, mumpung dia ada di Jakarta, gue mau bertemu dia sebentar. Karena sore ini dia akan terbang kembali ke Mesir,” jawabku melanjutkan.

Aku tidak tahu apakan aku GR atau memang Masna sengaja ingin aku menemuinya di asrama haji namun malu untuk menyampaikannya secara langsung kepadaku. Atau, dia ke Jakarta karena memang ingin menjenguk kakak perempuannya yang tinggal di Pondok Gede.

Dafin tahu ceritaku bersama Masna, gadis Tegal yang kukenal lewat Neni, pacarnya Rizal teman seangkatanku di kampus.

“Loe masih nyambung sama dia? Bukannya sudah loe putusin cewek Kairo itu?”

“Gue mau ketemu dia bukan mau mengajak balikan, gue mau menjaga silaturahim saja. ‘Kan gue putusnya baik-baik, untuk kebaikan dia juga, biar dia bisa fokus belajar.” Sanggahku meyakinkan.

“Iye, gue ngerti. Sudah sana, hati-hati loe. Ntar keburu luntur tuh wangi parfum.”

“Tahu aja loe kalau parfum yang gue beli harganya murah.”

Hari ini Dafin libur, jadi motornya bisa kupinjam buat ketemu Masna, motor CB100. Aku pertama kali belajar motor kopling menggunakan motor Dafin ini.  sebagai seorang leader, dia punya keuntungan bisa memilih libur tepat di akhir pekan.

Kondisi motornya masih orisinil, belum dimodif sedikitpun. Biasanya, yang masih orisinil seperti ini sangat diincar oleh penggemar CB100 karena bisa dimodif sesuai selera. Untuk ukuran badanku yang semampai, motor CB100 sangat mudah untuk dibawa meliuk-liuk saat jalanan macet.

Di bagian tangki ada sedikit kebocoran yang mengakibatkan bensin sering menetes. Beberapa kali sudah ditambal, namun tidak bertahan lama. Sehari dua hari kembali bocor lagi.

“Ayolah Boy. Jangan becanda, bensin lagi mahal saat ini,” Dafin hampir putus asa menambal tangki motor yang kesekian kalinya.

“Motor ini, Yom, sudah melanglang buana bersama gue sejak pertama kali gue ke Jakarta. Motor ini yang nemanin suka duka gue menerobos jalanan Jakarta yang penuh asap dan debu,” jelas Dafin melirik ke motor yang diparkir depan warteg suatu hari.

“Awalnya gue mau kasih nama Ana, nama mantan pacar gue waktu di Sumedang. Tapi, nggak jadi karena agak mirip dengan nama belakang gue, gue ganti jadi Boy.” Lanjutnya.

“Kenapa loe pilih nama Boy?” Tanyaku pura-pura peduli.

“Boy kan artinya anak laki-laki, Yom. Biar dia gue anggap sebagai anak kecil dan jadi tempat gue curhat dengan sifat kekanak-kanakan gue.”

“Sama gue juga loe masih suka kekanak-kanakan,” batinku.

Usia Dafin terpaut lima tahun lebih tua dariku. Namun, wajahnya tampak lebih muda. Menurut pengamatanku, dari cerita yang selalu disiarkannya setiap akan tidur di malam hari, Dafin telah melewati masa-masa terkelam dalam hidupnya, sehingga segala sesuatu yang dialami dia hadapi dengan tenang dan dengan bersikap masa bodoh. Beban dalam pikirannya seakan memudar seiring hikmah yang dia petik dari pengalaman-pengalaman pahit itu.

Pernah Dafin bercerita dengan mimik yang serius tentang kisah cintanya bersama Ana, gadis yang satu desa dengannya sewaktu dia masih tinggal di Sumedang. Cintanya sudah ia tumpahkan sepenuhnya untuk Ana, seakan dia percaya bahwa Ana tercipta untuknya dan dia ditakdirkan untuk Ana. Sampai suatu ketika, nasib naas menimpa Dafin. Gadis yang ia yakini akan dinikahinya dan yang ia rela korbankan seluruh waktu dan tenaga untuk membahagiakannya, direbut orang.

Pria dari desa sebelah, diam-diam mencari celah dan kesempatan merebut Ana dari Dafin. Mungkin raganya saja yang ia rebut, bukan hatinya Ana. Dari yang dipaparkan Dafin, Ana juga sangat mencintai Dafin. Dafin adalah cinta pertama Ana, begitu juga sebaliknya.

Saat Dafin mendengar kabar yang mengagetkan itu, bumi yang ia pijak serasa tak lagi berpihak padanya. Dunia seakan memusuhinya, seluruh alam bersatu untuk membencinya. Dafin putus asa, ia tak ingin bertemu dengan siapapun. Dafin mengurung diri dalam kamar. Merasa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan Ana kembali.

Di luar sana pesta meriah dengan musik-musik ceria mengalun pongah pada kekalutan yang dialami oleh Dafin. Kekasih yang dicintainya, dengan alasan pasrah dan menuruti keinginan orang tuanya, Ana melangsungkan pernikahan diatas derita yang dialami Dafin. Dafin jatuh sakit, berhari-hari.

 Dafin mengisahkan dengan ekspresi sedih, nada bicaranya pelan dan bergetar. Sesaat kemudian dia angkat kepalanya dan berkata lirih,

“Jodoh tidak ada yang tahu, Yom. Hanya Tuhan dan supir bemo itu sendiri yang tahu ke mana arah bemo itu berbelok.”

Sedang seriusnya mendengarkan, lagi-lagi Dafin bikin aku kesal. Tapi, hebatnya dia bisa merubah suasana hati seketika jadi ceria dan menjadikan kisah pilunya jadi bahan candaan.

Iya, juga sih. Bemo yang ada di jalan Benhil (Bendungan Hilir) suka belok seenaknya tanpa ada isyarat apa-apa. Alih-alih memberi sinyal dengan lampu, lampu sein saja tidak punya. Kadang suka tiba-tiba berhenti dan menurunkan penumpang di tengah jalan karena tergiur dengan banyaknya penumpang ke arah berlawanan. Meskipun hanya diminta bayar setengah atau tidak bayar sama sekali oleh supirnya, tapi tetap saja bikin kesal. Dasar bemo, becak bermotor.

Tapi, tidak semua supir bemo demikian, karena hanya sebagian besar saja yang seperti itu.

Belajar dari kisah percintaan Dafin, aku bertekad untuk tidak memulai hubungan pacaran dengan wanita mana pun sampai saatnya aku memilih wanita yang tepat untuk dinikahi. Agak klise memang, pacaran tapi tidak menikah sama seperti menjaga jodoh orang lain. Aku tidak ingin buang-buang energi untuk hal-hal yang sia-sia. Belum terhitung biaya, waktu dan kesempatan yang terbuang percuma. Demi siapa? Demi orang yang kapan saja bisa meninggalkan kita setelah segala pengorbanan yang kita berikan.

Tekad itu kuingat selalu setiap saat dan kujadikan tameng setiap akan jatuh hati pada seorang perempuan.

Sampai suatu hari, Dafin mengenalkanku dengan keponakannya yang baru datang dari Sumedang. Orangnya hitam manis, matanya sipit, dan kalau tertawa, orang di sekitarnya akan hilang. Neng, nama panggilannya. Di momen ini aku tidak lagi bertahan dengan tekad yang kujanjikan sebelumnya.

“Yom, gue mau kenalin loe sama ponaan gue. Loe mau nggak?” Tanya Dafin tanpa basa basi.

“Cantik, nggak?” balasku tanpa mempertimbangkan perasaan Dafin.

“Ketemuan aja dulu, gue yakin loe bakal klepek-klepek sama dia. Kalau bukan ponaan sendiri, dia pasti udah gue pacarin,” iklan Dafin.

Aku menimbang sesaat. Bolehlah untuk sekedar kenalan saja, untuk urusan pacaran nanti dulu kalau aku benar-benar tertarik.

“Kalau loe mau, biar gue ajak dia main ke tempat kerja loe besok.”

Saat Dafin bilang “tempat kerja”, aku telah resign dari perusahaan yang sama dengan Dafin sebelumnya dan telah diterima menjadi staf fitness center di Apartemen Batavia sebagai Sports Attendant.

Sehari setelah Dafin menerima jawabanku ingin menemui keponakannya, pagi-pagi dia datang ke tempat kerjaku membawa seorang gadis belia. Usianya sekitar 18 tahun, lebih muda satu tahun dari usiaku saat itu.

Dafin paham seleraku akan perempuan. Yang satu ini benar-benar manis, gula jawa pun kalah manisnya. Kalau Rudi Habibie bilang gula jawa ke Ainun, aku bilang madu bima ke Neng.

Setelah aku diperkenalkan dengan Neng, Dafin pamit berangkat kerja. Dafin percaya bahwa aku pria baik yang tidak akan menyakiti seorang perempuan. Itulah kenapa dia menitipkan Neng kepadaku sampai dia kembali menjemputnya sepulang kerja.

Neng kuajak makan di warung solo di samping gedung Batavia, warung yang menyediakan menu tempe dan tahu bacam kesukaanku. Dia mengikutiku namun tidak hendak makan, katanya masih kenyang karena sudah sarapan dari rumah bibinya di Tanah Kusir, dan Dafin menjemput Neng di rumah kakaknya di sana.

Tidak banyak yang diceritakannya, aku mengalir saja tanpa banyak bertanya. Neng menikmati keindahan kota Jakarta dari atas lantai lima yang anginnya sepoi dan hangat. Aku sendiri, merasa sedang bersama wanita tercantik yang pernah kukenal. Aku terbawa suasana. Kurasakan indahnya langit siang ini seperti yang tergambar dalam lirik lagu Bang Haji Rhoma, “Aduhai”.

The first time I held her hand, I felt myself grow up a little.

Waktu yang terasa berlalu begitu cepat memaksa kami berpisah hari itu menyisakan banyak ruang rasa yang belum terisi. Kisahku bersama Neng hanya sebatas prolog dalam buku, tidak terlalu banyak makan tempat dan waktu. Sehari setelah kuajak berkeliling tempat kerja, lebih tepatnya keliling lantai lima yang dipenuhi tanaman hias dan taman-taman yan tertata secara estetik mengikut selera para elit, ia kembali ke rumah bibinya dan tak pernah bertemu denganku sampai sebulan berikutnya saat acara sunatan sepupunya.

Pertemuan kali kedua tidak tampak ada minat di mata Neng ingin menemuiku, sebuah pertemuan yang melindas harapanku di atas aspal kekecewaan. Firasatku, dia telah menjalin hubungan baru dengan seorang laki-laki di tempat kerjanya. Benar saja, dua bulan kemudian aku dengar kabar dia menikah dengan supervisor-nya.

Kisahku bersama Neng kuanggap sebagai hadiah persahabatanku dengan Dafin. Kucoba membiasakan diri melewati hari-hari dengan rasa yang kuputar balik, rasa kecewa yang kukubur dalam-dalam melalui headset retak yang menyajikan lagu hard rock milik Jamrud, “Surti Tejo”.  

Ketika karirku meningkat menjadi staf di fitness center, Dafin meminta diri untuk pindah lokasi kerja ke tempat lain ke supervisor-nya. Hal itu dia lakukan karena kami sama-sama tahu jika dia masih bertahan di Apartemen Batavia, itu artinya aku secara tidak langsung menjadi bosnya Dafin.

Menjadi staf fitness center tugasku memastikan semua fasilitas olahraga dalam kondisi siap dan nyaman dipakai. Mulai dari gym, kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket, sauna, jacuzzi, sampai toilet dalam kondisi bersih dan berfungsi dengan baik. Setiap ada kerusakan, maka petugas maintanance yang kami panggil. Begitu juga jika fasilitas olahraga dalam kondisi tidak bersih, maka teman-teman cleaning service yang kami panggil.

Nasib baik menyertai Dafin, sebulan ia berada di lokasi baru, ia diangkat menjadi leader, tugasnya memimpin semua staf PT. ISS di tempat tersebut. Tunjangan perbulan bertambah, gengsi juga ikut naik. Aku ikut senang dengan peningkatan karir Dafin.

Dafin sejatinya adalah dari keturunan terpandang. Ayahnya adalah seorang ulama tersohor di kampungnya. Dia dan beberapa saudaranya tinggal di Jakarta. Salah seorang adiknya berhasil menjadi polisi dan bertugas sebagai asisten kapolda DKI Jakarta.

Suatu hari aku pernah bertemu dengan Irfan, adiknya Dafin di kantor samsak Jakarta Barat. Saat itu aku sedang menemani saudaraku membuat kartu SIM C.

“Yommi, sedang apa di sini?” tanya Irfan saat hendak membuka pintu mobilnya.

“Saya lagi temanin kakak saya bikin SIM.”

“SIM Yommi atau SIM kakak Yommi?” Tanya Irfan penasaran.

“iya, SIM kakak saya.”

“Oh, ya udah. Saya tinggal dulu ya.” Irfan melanjutkan perjalanan.

Belakangan aku baru sadar, seandainya saat itu aku berbohong sedikit mengatakan bahwa aku hendak membuat kartu SIM untukku sendiri, aku yakin dia akan membantu mengurus pembuatan SIM-ku sampai selesai. Irfan merasa aku sudah banyak membantu keluarganya, terutama Dafin, setiap kali mereka butuh bantuan.

“Yommi itu seperti malaikat, selalu ada setiap kami butuh bantuan.” Ucap Irfan suatu hari saat aku menemani Dafin yang sedang dirawat di rumah sakit.

Dafin sangat jauh berbeda dengan Irfan dari segi pengalaman hidup. Kalau Irfan bernasib mujur setelah lulus SMA langsung diterima saat melamar jadi polisi, sedangkan Dafin harus berjuang sendiri melewati hari-hari untuk tetap bisa bertahan hidup.

Setelah ditinggal nikah oleh Ana, Dafin merantau ke Jakarta. Ia memulai karir dengan berkerja serabutan, bergaul dengan berbagai kalangan, termasuk menjadi bagian dari salah satu geng preman. Sejak ia tergabung, ia memiliki kesempatan meluapkan kekecewaan karena dilupakan oleh cinta pertamanya dengan menenggak minuman haram.

“Gue lepas kendali, Yom. Setiap hari gue mabuk-mabukkan. Ikut teman-teman gue malakin orang di pasar. Kebayang rusaknya hidup gue saat itu,” kenang Dafin.

Di lengan kanannya ada sebuah ukiran tatoo yang tidak jelas gambarnya apa.

“Jadi, saat itu juga loe dapatin tatoo itu,” aku menunjuk tatoonya saat dia ngopi hanya mengenakan baju singlet dan celana pendek di emperan kosan. Ia mengangguk.

“Udah gue coba hapus, tapi nggak bisa hilang. Jadinya, kayak gini,” ia melirik lengannya.

Menjadi bujangan, Dafin sering mengajakku keliling Kota Jakarta merasakan pengalaman berbeda di malam hari. Sekali, aku diajak ke Taman Lawang, di sana banyak cewek gadungan nongkrong di sepanjang jalan di sudut-sudut tersembunyi yang tak disorot lampu jalan.

Dafin menghentikan motornya tepat di depan seseorang yang berdiri dengan kostum seksi, menggantungkan tas kecil di pundak kirinya. Saat motor sudah benar-benar berhenti sangat dekat dengannya, aku bisa melihat dengan jelas make-upnya yang super menor.

“Halo, abang. Mampir, yuk.” Sapa orang itu dengan suara serak bernada bass dan sedikit bindeng.

“Jalaaan, Fiiin,” seruku kencang.

Dafin terbahak-bahak lalu menarik gas motor kuat-kuat.

Di sepanjang jalan, kami tak henti-hentinya tertawa mengingat kejadian barusan. Pukul 11 malam kami balik ke kosan.

Suatu hari kami pernah tidur di kursi taman pantai Ancol. Pagi-pagi aku terkejut karena handphone-ku hilang. Dafin curiga pada seorang remaja laki-laki yang sering lalu lalang di dekat tempat kami sedang tidur. Bukti yang kuat adalah saat anak itu kepergok Dafin hendak merogoh kantong Dafin di waktu subuh.

Kami membawa anak itu ke pos polisi Pantai Ancol. Di sana ia diinterogasi. Merasa kurang puas dengan jawaban anak itu yang tidak mau mengaku, Dafin meminta izin ke pak polisi untuk ditanya-tanya sendiri di ruang kosong di belakang pos.

“Mengaku, loe. Loe kan yang ngambil hape kawan gue?”

“Gue nggak tahu, bang.” Nada bicaranya pelan dan bergetar.

Sesaat kemudian, tiba-tiba Dafin melakukan gerakan memutar disertai dorongan telapak kaki lurus ke arah anak itu.

“Wusss”

Dafin menendang angin. Melesat dari sasaran tubuh si anak tadi.

“Sudah, Fin. Kita balik aja,” aku mengajak Dafin buru-buru keluar dari pos polisi.

“Anak ini harus dikasih pelajaran, Yom.”

Aku menarik tangan Dafin dan meminta izin untuk tidak melanjutkan proses interogasi.

Sampai di parkiran motor, aku jelaskan ke Dafin bahwa kita tidak punya bukti yang jelas untuk menuduh anak itu mengambil handphone-ku. Terlebih setelah Dafin menyerangnya, aku khawatir kami dituntut balik oleh anak itu karena menyerangnya tanpa alasan.

Kami pun meninggalkan Pantai Ancol segera. Aku merelakan handphone-ku raib. Kami terdiam selama perjalanan. Sibuk dengan pikiran masing-masing atas kejadian barusan.

Sepuluh tahun aku berpisah dengan Dafin dan dia telah memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Kami masih terhubung melalui WhatsApp. Dia masih tinggal di kontrakan yang terakhir kali aku kunjungi sebelum balik kampung. Menjadi supir Grab adalah penghasilan tambahannya selain jadi kontraktor listrik dan mendapat panggilan dari perusahaan atau rumahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Lusi, Gadis Pantry

 Di balik pintu kaca pantry yang silau oleh bayangan lampu dari lobi, ada sosok seorang gadis belia duduk anggun berbalut seragam kemeja putih dan celana hitam, wajahnya yang mungil dan cerah mampu mengalihkan pandangan beberapa orang pria yang sedang memasuki pintu lobi atau yang sedang menuju pintu lift apartemen. Sesekali datang menggoda anak-anak cleaning servis atau karyawan maintenance diwaktu luang demi menarik hati si gadis belia.  Sementara di belakang sana, di sebuah ruang kecil bersebelahan dengan ruang pantry, ruang toilet untuk tamu apartemen, ada seorang remaja laki-laki sedang gelisah dilanda kasmaran dengan gadis pantry. Hari ini ia berencana mengutarakan perasaan yang ia pendam sejak  pertama mengenalnya.  Setangkai bunga mawar plastik berwarna merah yang ia pilih di pasar Mayestik, Jakarta Selatan, untuk persiapan nembak gebetannya lengkap dengan secarik kertas berisi puisi. Di depan kaca toilet, ia berbicara dengan bayangannya berulang-ulang mengha...