Langsung ke konten utama

Selaksa Cerita: 5 Hari di Kota Mataram



Selesai berdzikir, aku mengambil tempat duduk dekat jendela mengarahkan pandangan ke sisi utara.
Merasakan nuansa pagi angin laut yang tenang, setenang hati yang ridho. Perjalanan menuju Kota Mataram sudah separuh jalan. Selat antara Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, kami sekeluarga mengapung bersama ratusan penumpang dan puluhan mobil serta motor dengan tenang di atas kapal feri. Aku menoleh ke Timur, matahari mulai menampakkan diri dengan warna jingga menyala, warna yang sama dengan matahari senja. Pagi mulai menyapu hari. Kuraih handpone-ku, membuka aplikasi kamera lalu mengambil beberapa gambar dari balik jendela kaca, menangkap momen sebuah feri berdampingan dengan cahaya matahari yang estetik.

Dua jam sudah berlalu di atas laut, aku, istriku, dan tiga orang putriku, menaiki bus yang kami tumpangi yang diparkir di lantai bawah sebelum bus keluar dari feri. Cahaya matahari menembus jendela kaca bus, menyumbang sedikit rasa hangat melawan dinginnya AC bus yang membuat badan menggigil. Dari pelabuhan Kayangan, bus melaju tenang menuju Kota Mataram melewati jalan berkelok-kelok. Sepanjang jalan yang menyuguhkan pemandangan alam pedesaan yang sangat asri di wilayah Lombok Timur mampu membuyarkan rasa kantuk yang masih tersisa. Benar apa yang orang-orang dari desa kami katakan, Lombok itu surga tanaman, berbagai jenis buah dan sayur segar yang diangkut ke Dompu sebagian besar berasal dari Lombok.

Tiba di terminal bus Mataram, semua penumpang turun bergantian. Beberapa masih ada yang asyik dengan mimpinya, meskipun kondektur sudah berseru menginformasikan bus sudah tiba di tempat tujuan. Portir-portir yang sejak tadi menunggu bagasi bus dibuka, dengan sangat cekatan mengangkat barang-barang tanpa diskusi terlebih dahulu dengan pemilik barang. “Lima ribu aja, mas.” Suara lembut dari seorang portir paruh baya yang lebih dulu mengangkat barang yang ada di bagasi membuatku membatalkan niat mengambil tas dan sebuah kardus berisi beras. Dua barangku diangkut oleh dua orang portir. Meskipun tas berisi pakaian dan kardus tersebut masih bisa kubawa sendiri, namun rasa iba membuatku merelakan uang sepuluh ribu pertama yang dibelanjakan di tanah Lombok melayang untuk membayar jasa portir.   

Di pintu masuk terminal, kami sekeluarga berkumpul menunggu Grab yang sudah dipesan oleh adik istriku melalui aplikasi. Aku dan keluarga, termasuk ibu mertuaku, beserta beberapa keluarga besar istriku datang ke Mataram untuk mengikuti acara wisuda Kaviva, adik istriku dari ibu yang berbeda. Wisuda yang jadwalnya hari Kamis, namun kami berangkat dari Dompu sejak Ahad malam. Itu artinya kami memiliki waktu yang cukup luang untuk menikmati keindahan Kota Mataram.

Sepanjang perjalanan menuju kos Kaviva, kami sibuk berdiskusi menggunakan bahasa Dompu, tanpa sadar aku yang duduk di kursi depan mengacuhkan supir Grab. Kulihat ekspresi wajah supir yang serius menyetir mobil, kecepatan rata-rata 60 km per jam. Masih muda, tampak seperti pegawai kantoran yang memanfaatkan waktu kosong untuk mencari tambahan dengan memaksimalkan fungsi mobil pribadi yang ia miliki. Asumsi lain, ia adalah seorang mahasiswa magister di salah satu kampus di Kota Mataram. Secara, Mataram memilik banyak kampus yang menawarkan banyak jurusan kuliah yang setara dengan kota-kota lain di Indonesia.

Pernah kami menaiki Grab sepulang dari menginap di rumah adikku Fatonah kembali ke kosan Kaviva, aku yang senang berinteraksi dengan orang baru dikenal, mengajukan banyak pertanyaan selama perjalan kepada supir Grab.

“Bapak sekeluarga berasal dari mana?” tanya supir itu setelah kuawali obrolan dengan pertanyaan terkait kota Mataram.

“Kami dari Dompu, ingin menghadiri acara wisuda adik kami yang kuliah di Unram.”

“Dompu bagian mana, pak?” Biasanya kalau ada yang bertanya detail seperti ini antara dia pernah ke Dompu atau memang dia tahu tentang Dompu.

“Kami di Kecamatan Dompu. Dekat dengan kotanya.”

“Saya sering ke Dompu, pak. Saya biasanya nginap di Hotel Adhiyaksa, dekat kantor Bupati.” Benar dugaanku, pak supir ini bukan hanya sekedar supir Grab.

“Oh, bapak sering ke Dompu, untuk urusan apa?”

“Setahun sekali kami ke Dompu dan ke Bima untuk sosialisasi.” Dia menahan penjelasannya saat mobilnya menduhului sebuah motor.

“Sosialisasi tentang apa?” tanyaku penasaran.

“Sosialisasi tentang kampus, saya dosen, pak.” Pak supir tersenyum bangga. Dia memanggilku dengan sebutan pak.

“Bapak dosen? Kampus mana?”

“Universitas Bumigora, itu kampusnya.” Dia menunjuk sebuah kampus saat kami berhenti di lampu merah. Sebuah gedung bertingkat yang bisa terlihat dari jarak 500 meter.

Aku mengangguk-angguk sumringah, menyadari kenyataan bahwa supir Grab bisa saja seorang mahasiswa, pegawai kantoran, bahkan seorang dosen. Kehidupan di kota besar menuntut warganya untuk berani bertaruh gengsi demi memenuhi kebutuhan hidup yang serba berbayar. Sama persis ketika dulu aku merantau ke Jakarta, hampir semua kebutuhan sehari-hari memiliki harga yang harus dibayar, bahkan untuk masuk toilet pun ada tarifnya. Yang gratis hanya sinar matahari, udara, dan empati.

Hari pertama di Kota Mataram, aku memutuskan sebaiknya menginap di rumah adikku sekaligus untuk silaturahim. Suaminya yang asli orang Lombok membeli rumah di kompleks BTN Mataram. Lokasi perumahan yang sedikit keluar dari pusat kota, memiliki banyak lahan kosong yang masih dimanfaatkan untuk sawah pertanian. Jauh dari kebisingan, malah menurutku suasananya sangat sepi. Ketika mobil yang kami tumpangi sampai di gerbang kompleks, tidak tampak satu orang pun yang berkeliaran di sepanjang jalan gang, tidak ada keramaian anak-anak yang bermain. Aku menyadari beginilah kondisi kota yang identik dengan sikap individualnya.

Malam-malam selanjutnya kami habiskan menginap di kosan Kaviva. Satu kamar sempit untuk ramai-ramai, terpaksa aku dan dua orang iparku yang laki-laki sama-sama tidur di emperan kosan. Meskipun tidur di tempat terbuka, kami merasa cukup aman karena didukung oleh lokasi kosan yang berada di halaman belakang rumah pemilik kosan, dan keamanannya pun terjamin. Pagar rumah yang tinggi dan dipasang kawat berduri mengelilingi seluruh bangunan.

Selama berada di Kota Mataram, aku dan istriku sama-sama merasakan tidak ada beban seperti yang kami rasakan seperti hari-hari kami di rumah. Beban itu berupa keseharian yang menuntut serba usaha, mulai dari masak, mencuci, menyiapkan diri dan anak-anak berangkat ke sekolah, dan rutinitas lainnya. Lima hari kami memanjakan diri dengan semua yang serba instan, membeli makan yang sudah jadi, jalan-jalan ke mal, ke mana-mana tidak harus menyetir kendaraan sendiri, cukup dengan memesan mobil sewaan melalui aplikasi. Kami sangat merasa puas menghabiskan anggaran untuk kesenangan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Menghadiri acara wisuda pun selesai, sesi foto bersama keluarga juga sudah. Keesokan harinya, pagi-pagi kami sekeluarga siap-siap berangkat ke terminal bus untuk kembali ke kampung halaman. Malam sebelumnya, aku menyempatkan diri ke Hypermart untuk membeli sebuah televisi. Alhamdulillah bisa dapat televisi yang sedang promo. Awalnya mau memilih smart tv, tapi stoknya sedang kosong. Rupanya orang-orang yang membeli televisi sedang menyambut pesta sepak bola piala dunia, jadinya aku cuma kebagian televisi biasa.

Penyeberangan feri kami jadwalnya siang setelah shalat jumat. Beruntung sekali bagiku mendapat momen seperti yang selalu aku khayalkan, berada di atas kapal disaat siang untuk menyaksikan keindahan laut sepanjang penyeberangan, dan yang paling utama aku bisa bergaya dengan kacamata hitamku. Namun, ada satu hal yang selalu aku idamkan bisa terjadi selama penyeberangan, mengobrol dengan bule. Destinasi wisata di Dompu dan Sumbawa sudah terkenal sampai ke mancanegara, terutama pantainya. Makanya, tidak jarang akan selalu ada bule setiap kali feri menyeberang. Aku mendapat kesempatan itu, mengajak bincang-bincang seorang bule asal Italia. Dia sangat senang menyambut ajakanku mengobrol hingga beberapa menit. Aku juga tidak menyangka dia menawarkan snack untuk diberikan kepada anak-anak dan keponakanku yang kebetulan bersamaku di geladak kapal. Kajadian obrolan itu direkam oleh iparku atas permintaanku sendiri.  

Ada kesenangan tersendiri memilih perjalanan darat dibandingkan dengan perjalanan udara. Bagi kebanyakan orang, perjalanan darat adalah pengalaman berharga yang sangat dinikmati dan menjadi momen refreshing untuk mata. Sepanjang perjalanan kita bisa merasakan sensasi pemandangan alam, melihat penduduk desa dan kota, menyaksikan aktivitas mereka di pasar dan di lingkungan rumah, ada bangunan unik, hewan-hewan ternak yang berkeliaran, terpaan sinar matahari pagi atau sore menembus kaca mobil. Nuansa yang tidak akan bisa diperoleh dengan menaiki pesawat terbang. Aku sendiri sejak pertama kali merasakan naik feri waktu ke Jakarta, kesan pertama itu selalu menjadi kenangan yang ingin aku alami berulang-ulang.

 Pagi, pukul 3 dini hari, bus yang kami tumpangi berhenti tepat di tempat kami naik waktu keberangkatan 6 hari yang lalu. Perjalanan yang terasa melelahkan namun terbayarkan dengan terpenuhinya rencanaku bersama istri untuk jalan-jalan ke Mataram saat musim liburan sekolah. Namun, yang masih masuk list tujuan kami dan menunggu kesempatan berikutnya adalah mengunjungi Sembalun. Aku menyukai traveling, terutama bersama keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Lusi, Gadis Pantry

 Di balik pintu kaca pantry yang silau oleh bayangan lampu dari lobi, ada sosok seorang gadis belia duduk anggun berbalut seragam kemeja putih dan celana hitam, wajahnya yang mungil dan cerah mampu mengalihkan pandangan beberapa orang pria yang sedang memasuki pintu lobi atau yang sedang menuju pintu lift apartemen. Sesekali datang menggoda anak-anak cleaning servis atau karyawan maintenance diwaktu luang demi menarik hati si gadis belia.  Sementara di belakang sana, di sebuah ruang kecil bersebelahan dengan ruang pantry, ruang toilet untuk tamu apartemen, ada seorang remaja laki-laki sedang gelisah dilanda kasmaran dengan gadis pantry. Hari ini ia berencana mengutarakan perasaan yang ia pendam sejak  pertama mengenalnya.  Setangkai bunga mawar plastik berwarna merah yang ia pilih di pasar Mayestik, Jakarta Selatan, untuk persiapan nembak gebetannya lengkap dengan secarik kertas berisi puisi. Di depan kaca toilet, ia berbicara dengan bayangannya berulang-ulang mengha...