Selesai
berdzikir, aku mengambil tempat duduk dekat jendela mengarahkan pandangan ke
sisi utara. Merasakan
nuansa pagi angin laut yang tenang, setenang hati yang ridho. Perjalanan menuju
Kota Mataram sudah separuh jalan. Selat antara Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok,
kami sekeluarga mengapung bersama ratusan penumpang dan puluhan mobil serta
motor dengan tenang di atas kapal feri. Aku menoleh ke Timur, matahari mulai
menampakkan diri dengan warna jingga menyala, warna yang sama dengan matahari
senja. Pagi mulai menyapu hari. Kuraih handpone-ku, membuka aplikasi kamera lalu
mengambil beberapa gambar dari balik jendela kaca, menangkap momen sebuah feri
berdampingan dengan cahaya matahari yang estetik.
Tiba di terminal bus
Mataram, semua penumpang turun bergantian. Beberapa masih ada yang asyik dengan
mimpinya, meskipun kondektur sudah berseru menginformasikan bus sudah tiba di
tempat tujuan. Portir-portir yang sejak tadi menunggu bagasi bus dibuka, dengan
sangat cekatan mengangkat barang-barang tanpa diskusi terlebih dahulu dengan
pemilik barang. “Lima ribu aja, mas.” Suara lembut dari seorang portir paruh
baya yang lebih dulu mengangkat barang yang ada di bagasi membuatku membatalkan
niat mengambil tas dan sebuah kardus berisi beras. Dua
barangku diangkut oleh dua orang portir. Meskipun tas berisi pakaian dan kardus
tersebut masih bisa kubawa sendiri, namun rasa iba membuatku merelakan uang
sepuluh ribu pertama yang dibelanjakan di tanah Lombok melayang untuk membayar
jasa portir.
Di
pintu masuk terminal, kami sekeluarga berkumpul menunggu Grab yang sudah
dipesan oleh adik istriku melalui aplikasi. Aku dan keluarga, termasuk ibu
mertuaku, beserta beberapa keluarga besar istriku datang ke Mataram untuk
mengikuti acara wisuda Kaviva, adik istriku dari ibu yang berbeda. Wisuda yang
jadwalnya hari Kamis, namun kami berangkat dari Dompu sejak Ahad malam. Itu
artinya kami memiliki waktu yang cukup luang untuk menikmati keindahan Kota
Mataram.
Sepanjang
perjalanan menuju kos Kaviva, kami sibuk berdiskusi menggunakan bahasa Dompu,
tanpa sadar aku yang duduk di kursi depan mengacuhkan supir Grab. Kulihat
ekspresi wajah supir yang serius menyetir mobil, kecepatan rata-rata 60 km per
jam. Masih muda, tampak seperti pegawai kantoran yang memanfaatkan waktu kosong
untuk mencari tambahan dengan memaksimalkan fungsi mobil pribadi yang ia
miliki. Asumsi lain, ia adalah seorang mahasiswa magister di salah satu kampus
di Kota Mataram. Secara, Mataram memilik banyak kampus yang menawarkan banyak
jurusan kuliah yang setara dengan kota-kota lain di Indonesia.
Pernah
kami menaiki Grab sepulang dari menginap di rumah adikku Fatonah kembali ke
kosan Kaviva, aku yang senang berinteraksi dengan orang baru dikenal,
mengajukan banyak pertanyaan selama perjalan kepada supir Grab.
“Bapak
sekeluarga berasal dari mana?” tanya supir itu setelah kuawali obrolan dengan pertanyaan
terkait kota Mataram.
“Kami
dari Dompu, ingin menghadiri acara wisuda adik kami yang kuliah di Unram.”
“Dompu bagian mana,
pak?” Biasanya kalau ada yang bertanya detail seperti ini
antara dia pernah ke Dompu atau memang dia tahu tentang Dompu.
“Kami di Kecamatan
Dompu. Dekat dengan kotanya.”
“Saya sering ke Dompu,
pak. Saya biasanya nginap di Hotel Adhiyaksa, dekat kantor Bupati.” Benar
dugaanku, pak supir ini bukan hanya sekedar supir Grab.
“Oh, bapak sering ke
Dompu, untuk urusan apa?”
“Setahun sekali kami ke
Dompu dan ke Bima untuk sosialisasi.” Dia menahan penjelasannya saat mobilnya
menduhului sebuah motor.
“Sosialisasi
tentang apa?” tanyaku penasaran.
“Sosialisasi tentang
kampus, saya dosen, pak.” Pak supir tersenyum bangga. Dia memanggilku dengan
sebutan pak.
“Bapak
dosen? Kampus mana?”
“Universitas
Bumigora, itu kampusnya.” Dia menunjuk sebuah kampus saat kami berhenti di
lampu merah. Sebuah gedung bertingkat yang bisa terlihat dari jarak 500 meter.
Aku
mengangguk-angguk sumringah, menyadari kenyataan bahwa supir Grab bisa saja
seorang mahasiswa, pegawai kantoran, bahkan seorang dosen. Kehidupan di kota
besar menuntut warganya untuk berani bertaruh gengsi demi memenuhi kebutuhan
hidup yang serba berbayar. Sama persis ketika dulu aku merantau ke Jakarta, hampir
semua kebutuhan sehari-hari memiliki harga yang harus dibayar, bahkan untuk masuk
toilet pun ada tarifnya. Yang gratis hanya sinar matahari, udara, dan empati.
Hari
pertama di Kota Mataram, aku memutuskan sebaiknya menginap di rumah adikku sekaligus
untuk silaturahim. Suaminya yang asli orang Lombok membeli rumah di kompleks
BTN Mataram. Lokasi perumahan yang sedikit keluar dari pusat kota, memiliki banyak
lahan kosong yang masih dimanfaatkan untuk sawah pertanian. Jauh dari
kebisingan, malah menurutku suasananya sangat sepi. Ketika mobil yang kami
tumpangi sampai di gerbang kompleks, tidak tampak satu orang pun yang berkeliaran
di sepanjang jalan gang, tidak ada keramaian anak-anak yang bermain. Aku menyadari beginilah
kondisi kota yang identik dengan sikap individualnya.
Malam-malam selanjutnya kami
habiskan menginap di kosan Kaviva. Satu kamar sempit untuk ramai-ramai,
terpaksa aku dan dua orang iparku yang laki-laki sama-sama tidur di emperan
kosan. Meskipun tidur di tempat terbuka, kami merasa cukup aman karena didukung
oleh lokasi kosan yang berada di halaman belakang rumah pemilik kosan, dan
keamanannya pun terjamin. Pagar rumah yang tinggi dan dipasang kawat berduri
mengelilingi seluruh bangunan.
Selama berada di Kota
Mataram, aku dan istriku sama-sama merasakan tidak ada beban seperti yang kami
rasakan seperti hari-hari kami di rumah. Beban itu
berupa keseharian yang menuntut serba usaha, mulai dari masak, mencuci,
menyiapkan diri dan anak-anak berangkat ke sekolah, dan rutinitas lainnya. Lima
hari kami memanjakan diri dengan semua yang serba instan, membeli makan yang
sudah jadi, jalan-jalan ke mal, ke mana-mana tidak harus menyetir kendaraan
sendiri, cukup dengan memesan mobil sewaan melalui aplikasi. Kami sangat merasa
puas menghabiskan anggaran untuk kesenangan yang sudah direncanakan jauh-jauh
hari.
Menghadiri
acara wisuda pun selesai, sesi foto bersama keluarga juga sudah. Keesokan harinya,
pagi-pagi kami sekeluarga siap-siap berangkat ke terminal bus untuk kembali ke
kampung halaman. Malam
sebelumnya, aku menyempatkan diri ke Hypermart untuk membeli sebuah televisi.
Alhamdulillah bisa dapat televisi yang sedang promo. Awalnya mau memilih smart
tv, tapi stoknya sedang kosong. Rupanya orang-orang yang membeli televisi sedang
menyambut pesta sepak bola piala dunia, jadinya aku cuma kebagian televisi
biasa.
Penyeberangan feri kami
jadwalnya siang setelah shalat jumat. Beruntung sekali bagiku mendapat momen
seperti yang selalu aku khayalkan, berada di atas kapal disaat siang untuk
menyaksikan keindahan laut sepanjang penyeberangan, dan yang paling utama aku
bisa bergaya dengan kacamata hitamku. Namun, ada satu hal yang selalu aku
idamkan bisa terjadi selama penyeberangan, mengobrol dengan bule. Destinasi
wisata di Dompu dan Sumbawa sudah terkenal sampai ke mancanegara, terutama
pantainya. Makanya, tidak jarang akan selalu ada bule setiap kali feri
menyeberang. Aku mendapat kesempatan itu, mengajak bincang-bincang seorang bule
asal Italia. Dia sangat senang menyambut ajakanku mengobrol hingga beberapa
menit. Aku juga tidak menyangka dia menawarkan snack untuk diberikan
kepada anak-anak dan keponakanku yang kebetulan bersamaku di geladak kapal. Kajadian
obrolan itu direkam oleh iparku atas permintaanku sendiri.
Ada
kesenangan tersendiri memilih perjalanan darat dibandingkan dengan perjalanan
udara. Bagi
kebanyakan orang, perjalanan darat adalah pengalaman berharga yang sangat
dinikmati dan menjadi momen refreshing untuk mata. Sepanjang perjalanan
kita bisa merasakan sensasi pemandangan alam, melihat penduduk desa dan kota,
menyaksikan aktivitas mereka di pasar dan di lingkungan rumah, ada bangunan
unik, hewan-hewan ternak yang berkeliaran, terpaan sinar matahari pagi atau
sore menembus kaca mobil. Nuansa yang tidak akan bisa diperoleh dengan menaiki
pesawat terbang. Aku sendiri sejak pertama kali merasakan naik feri waktu ke Jakarta,
kesan pertama itu selalu menjadi kenangan yang ingin aku alami berulang-ulang.
Pagi, pukul 3 dini hari, bus yang kami
tumpangi berhenti tepat di tempat kami naik waktu keberangkatan 6 hari yang
lalu. Perjalanan yang terasa melelahkan namun terbayarkan
dengan terpenuhinya rencanaku bersama istri untuk jalan-jalan ke Mataram saat
musim liburan sekolah. Namun, yang masih masuk list tujuan kami dan menunggu
kesempatan berikutnya adalah mengunjungi Sembalun. Aku menyukai traveling,
terutama bersama keluarga.
Komentar
Posting Komentar