Langsung ke konten utama

Pelangi Budaya Indonesia

Sempat merinding ketika meletakkan jemari diatas keyboard ini, sebabnya bukan karena kekurangan ide, justru sebaliknya, terlalu banyak yang ingin diutarakan namun bingung harus memulai dari mana, bingung harus disusun seperti apa. Aku bukanlah penulis ternama yang dengan congkaknya menuangkan ide-ide brilian yang hadir sekilas persis kilatan petir di musim hujan, lalu mengalir begitu saja seperti banjir di bukit-bukit gundul tak berpohon, aku juga tidak datang dari kalangan komunitas penulis yang dengan entengnya merapihkan kalimat-kalimat acak dalam gudang imajinasinya.

Aku, pribadi optimis yang tidak ingin mencoba bersaing dengan siapapun, dari manapun asalnya, apapun profesinya. Aku, individu penikmat kedamaian, pecinta keharmonisan, pengagung persatuan, peduli kebersamaan, penggemar fanatik persaudaraan. Aku, penggila kebudayaan Indonesia.

Aku berpikir, aku berkhayal, aku berangan, aku berbicara, aku mendengar, aku bertindak, aku melihat, Indonesia jamrud khatulistiwa. Sekali lagi aku merinding. Kekayaan budayaku, Indonesia, keragaman suku, ras, agama, pesona keindahan alam yang menyihir mata, keunggulan kuliner yang menggoda selera, satwa-satwa unik, duo musim yang akur saling mengisi, dan.. dan... dan masih banyak lagi yang tidak kuasa aku sebutkan lagi saat ini, aku semakin merinding.

Kalau kau cinta negerimu, kau tidak akan peduli sekalipun ribuan komentar dan jutaan opini negatif tentang Indonesia. Karena mereka yang selalu mencela negerinya sendiri adalah contoh pribadi pesimis yang muncul di permukaan akibat daya persepsi yang lemah, pengetahuan yang minim, miskin informasi, kekurangan memori positif dalam sudut pandang, terlalu penuh terisi oleh provokasi publik yang menyudutkan dan mengkerdilkan rasa cinta terhadap bangsa, sebagai akibat yang timbul karena karakter yang lemah dan kesadaran agama yang kurang.

Sebuah gunung terlihat agung dari kejauhan. Begitulah jika kita mau berpikir, Indonesia negara besar dengan segala kelebihan tersedia. Segala bentuk sumber daya jika dikelola secara sistematis dan berkesinambungan, yakinlah Indonesia bisa menjadi negara adidaya kedua.

*tulisan pertamaku ini aku cukupkan sampai di sini dulu, lain waktu yang tersedia akan aku tambahkan lagi;)

Love For Indonesia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Bernama Dafin

“Loe tuh ganteng, Yom. Tapi.... banyak tapinya, wkwkwkwk.” Seloroh Dafin saat aku bercermin dan bertanya padanya, “Gue udah ganteng, belum?” Ini yang kesekian kalinya dia meledek aku dengan canda khasnya yang slengean. Dafin, nama bekennya. Tapi memiliki nama asli yang ditulis secara sadar oleh petugas pencatat akta kelahiran nama seorang perempuan. Ya, di KTP-nya terulis jelas nama yang jauh dari sifat maskulin, akan tetapi sejatinya seorang pria tulen, Fitri Anna nama aslinya.   Pertemuan pertama dengan Dafin terjadi di tempat kerja, di sebuah apartemen bintang lima, Apartemen Batavia. Bukan sebagai staf front office , bukan sebagai penjaga pantry, apalagi sebagai manajer, bukan. Lebih dari itu, aku dan Dafin sama-sama sebagai pekerja jasa yang harus selalu memastikan setiap area di setiap sudut bangunan bersih dan nyaman bagi penghuni maupun tamu apartemen. Hanya berkisar lima menit, aku sudah merasakan kemistri dengan Davin dan sejak hari pertama berkerja. Mempertimba...

First Love, First Scooter

       Malam yang kelam di antara rimbunan ketapang di sudut kota yang sepi, aku duduk menyendiri dalam selimut dingin. Sebatang rokok masih tersisa sepertiga, terjepit erat di antara jari manis. Gelas plastik kumiringkan enam puluh derajat supaya sisa-sisa kopi yang terselip pada ampasnya terkumpul untuk seruput terakhir. Pohon tempatku bersandar tak hendak mengusikku apalagi mengajakku ngobrol saat pandanganku tertuju pada gerak-gerik lunglai pemulung kota yang mengumpulkan puing-puing sampah berserakan yang rindu ditempatkan dalam wadah nyaman yang bernama tong sampah.        Sedang di seberang mata berderet gedung-gedung pencakar langit, entah siapakah pemiliknya, seperti apa rupanya, bagaimana kesehariannya, adakah perbedaan yang mencolok antara aku dan dia, lalu sebatas apa aku mampu bersaing atau bahkan bisa mengungguli kesuksesan mereka? Apakah mungkin aku yang sebatang kara di kota besar ini bisa memiliki salah ...

Senja di Tepi Nil

  Wuuut... wuuu t ...   Nada g e t a r ponsel d i a t as meja kayu y a ng m u l ai l a puk i tu m en g usik l a m unanku. Di l uar, hu j an y a ng sej a k zu h ur t a di m eng e pung Jakar t a m u l a i m en a r ik d i ri, m en y isak a n ar o m a aspal basah d a n uap pan a s yang na i k da r i sel a -sela gang s e m p i t Karet T e ngsin. Aku m er a ih ben d a p i p i h itu dengan m alas. Sebuah p e san si n gkat m asuk, m em an c ark a n c a haya b i ru y ang k o n t ras deng a n remang ka m ar kosku.   “Selamat! Anda me n ang und i an BR I Ha d i a h B e runtun berupa saldo sebesar Rp20.000.000. B al a s pesan i n i un t uk k l a i m...”   Aku mend e ngus pelan sebe l um sempat m eny e l e sai k an b a c a an i t u. "Und i an d a ri Hongkong," ke t usku kesa l . Di z a m an di m ana har a pan se r i n g k a l i m en j adi b ar a ng dag a ngan, p e n i p u an sem a c a m i n i t er a sa s ep e rti e j e kan y ang ...